Semua Impian kita bisa menjadi kenyataan, jika kita memiliki keberanian untuk mewujudkannya. Apapun yang dapat kita impikan, mulailah sekarang juga!
Tampilkan postingan dengan label Cerpen Romantis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen Romantis. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 01 Mei 2010
Maafkan Aku, Bukan Jodohmu...
“ Memangnya apa sih yang mau kamu bicarakan sama aku, sayang…?” Arya menggeser tubuhnya menjadi dekat dengan Ayyu. Ayyu terdiam…menundukkan wajahnya yang manis. Arya menunggu jawaban Ayyu dalam hitungan detik, mulai menghitung di dalam hati.
“ Kamu benar – benar sayang sama aku, Arya…?” Ayyu membuka suara.
“ Sangat, Ayyu.” Arya menjawab lugas. Ayyu tersenyum kecut.
“ Kenapa…? Tidak yakin dengan kesungguhan perasaanku…? Tidak yakin juga dengan keseriusanku untuk menjadikan kamu isteriku ? aku harus melakukan apa lagi sayang...hingga kamu benar – benar yakin bahwa aku menyayangi kamu ?” Arya menatap wajah Ayyu. Dipegangnya bahu Ayyu. Ayyu menjadi grogi, dilepaskannya tangan Arya perlahan.
“ Bukannya aku ragu dengan kamu. Tapi…apakah kamu yakin kamu bisa membahagiakan aku kelak ? baru kali ini aku begitu dicintai dengan sangat oleh seorang laki – laki, sebelumnya aku telah mendapatkan kecewa dari laki – laki yang aku cintai, Arya.”
“ Justru itulah sayang…Tuhan telah mengganti ketabahanmu dengan hadirnya aku, hhehehe…jadi narsis gini yach aku sayang. Sudahlah…gak usah mikir yang macam – macam yach…, kita jalani saja rencana kita ke depan nanti. Percayalah, aku akan berusaha memberikan yang terbaik untuk kamu dengan segenap cinta dan sayangku padamu. Semua yang aku butuh ada di diri kamu, sayang…aku hanya berharap dan berdoa pada Tuhan, bahwa kamu adalah jodohku sampai aku mati.” Arya mengelus rambut Ayyu lembut.
Ayyu tersenyum bahagia. Dipeluknya Arya kuat – kuat. Ya…Tuhan, begitu besar pemberian-Mu yang tiada terkira ini. Jagalah Arya untuk tetap menjadi milikku, dan kabulkanlah permohonannya barusan…berjodoh denganku sampai ajal menjemputnya. Ayyu mengamini permintaan hatinya. Disaat yang bersamaan, Arya mengamini ucapannya pada calon isterinya tadi.
**********
Tiba – tiba dering telepon sore ini di kantor Ayyu membuyarkan konsentrasi Ayyu. Mamanya memberi sebuah berita pada Ayyu. Ayyu menjadi histeris. Dudul yang sedari tadi berada di samping Ayyu, menjadi kaget setengah mati.
“ Bukannnnn…..! bukann Arya, Mama….! Mama salah….Mama salahhh….” Ayyu menangis sekencang – kencangnya, sangat histeris. Seisi ruangan itu menjadi terkejut mendengar tangisan Ayyu. Semua rekan Ayyu berkumpul, mencari tahu gerangan yang terjadi dengan Ayyu. Dudul memapah tubuh Ayyu yang tiba – tiba menjadi lemas. Terjatuh lunglai. Dudul langsung membopong tubuh Ayyu dan meletakkannya di atas sofa di sudut ruangan kantornya.
“ Ayoo…yang lain bubar ! Hilman…tolong ambil mobil gue di basement, tunggu gue di Lobby, antar Ayyu pulang ke rumah. Dhyta…dan Nisa buruan hubungi Mama Ayyu, tolong tanyakan apa yang terjadi hari ini ? segera yach…jangan pakai lama.”
Dudul segera ambil tindakan cepat. Hilman berlari keluar ruangan menuju basement, sedangkan Dhyta dan Nisa bergantian menghubungi kediaman Ayyu. Tak ada yang menjawab telepon di rumahnya. Dhyta segera menghubungi ponsel Arya. Tidak aktif sama sekali ! Nisa tidak kehabisan akal, langsung menghubungi rumah Arya. Tak ada satupun yang menjawab dering telepon disana. Nisa mencobanya kembali, berharap, pembantu Arya ada di rumah.
“ Ya..Mba…aku teman kantornya Mas Arya. Dimana Mas Arya sekarang berada ?” Nisa bertanya pada pembantu Arya.
“ Di Rumah Sakit neng. Tidak jauh dari kantor Mas Arya. Buruan yach neng kesana...” Mba Sumi mengakhiri pembicaraannya di telepon.
Dhyta dan Nisa segera menghambur keluar ruangan menuju Rumah Sakit yang diberitahu Mba Sumi, bersama Dudul, Hilman dan Ayyu yang masih tak sadarkan diri.
**********
Di lorong dekat ruang Unit Gawat Darurat, terlihat Mama Ayyu menangis, begitu juga dengan Mama Arya dan Papanya. Hanya Alisha dan Papa Ayyu yang tetap tenang duduk di kursi tunggu. Kedatangan Dudul, Hilman, Dhyta, Nisa dan Ayyu membuat suasana tambah tegang. Ayyu yang berjalan lunglai dipapah Dhyta dan Nisa.
Ayyu menghambur memeluk Mamanya. Matanya telah sembab. Mama Ayyu memeluk Ayyu, menciumi Ayyu dengan isak tangis.
“ Sabar yach sayang…jangan keluarkan air matamu nanti di depan Arya. Ikhlaskanlah yang terjadi hari ini sayang…berdoalah semoga Arya selamat, yach sayang…,” Mama Ayyu masih memeluk Ayyu.
“ Ayyu gak bisa seperti itu, Mama…Ayyu gak mau kehilangan Arya, Ayyu sayang sama Arya, Mama…! Ya Tuhan…jangan pisahkan aku dengan Arya…aku sayang banget sama Arya, Tuhan…apapun yang terjadi dengan Arya, Ayyu janji mau nerima Arya…tapi berikan keselamatan untuk Arya, berikanlah Tuhan…berikanlah itu pada kuu….,” Ayyu terisak – isak di pelukan Mamanya. Mama Arya yang melihat kejadian itu, sungguh tak tega. Ia hanya menangis, menundukkan wajahnya. Entah berapa banyak airmata yang sudah tumpah sedari tadi di wajahnya. Papa Arya hanya dapat mengelus – elus bahu Mama Arya, menenangkan hatinya.
Dokter jaga dari Ruangan Gawat Darurat keluar.
“ Maaf…Siapakah diantara kalian yang bernama Ayyu ?” Dokter yang menangani Arya bertanya pada yang hadir di sana.
“ Aku…Dokter.” Ayyu mengacungkan telapak tangannya.
“ Mari ikut saya, Arya mau bertemu anda.” Ayyu mengikuti langkah Dokter Mario kedalam, tempat dimana Arya terbaring.
Ayyu tak kuasa menahan kesedihannya. Dihampirinya calon suaminya, Arya Kusuma yang sedang dalam keadaan tergolek tak berdaya di tempat tidur. Seluruh tubuhnya penuh luka, kaki, tangan dan wajahnya.
“ Arya…aku disini sayang…,” Ayyu menyapa Arya.
Arya menolehkan wajahnya ke arah suara Ayyu. Mata Arya terbalut perban. Begitu juga dengan kedua kakinya. Keadaannya sangat mengenaskan sekali. Air mata Ayyu tak henti – hentinya menitik satu demi satu di pipinya. Calon suaminya yang akan menikah dengannya 3 minggu lagi, kini tak jelas kondisinya, antara hidup dan mati.
Ayyu menarik kursi didekatnya, lalu duduk menghadap wajah Arya. Diciumnya tangan Arya penuh kelembutan. Diusapnya kening Arya. Arya hanya terdiam. Kedua matanya terbalut perban. Bibir Arya pun tak bisa di gerakkan. Arya seperti mayat hidup, hanya terlentang dan tak berekspresi. Ayyu menjadi sangat terharu melihat kondisi Arya seperti itu.
“ Arya sayang…dengarkan aku, ku akan menemani kamu sampai kamu sembuh. Tak usah pikirkan rencana pernikahan kita. Kesembuhan kamu adalah yang utama buat aku. Tak ada kebahagiaan yang aku rengkuh selain melihat kamu sehat seperti sedia kala, sayang…aku rela menghabiskan waktuku, hanya demi kesembuhanmu, asalkan bisa bersamamu disampingmu, Arya…..,” Ayyu menciumi tangan Arya sekali lagi. Airmatanya terus berjatuhan, tak kuasa Ayyu menahan tangis dan sesak.
Arya tak bisa bicara, tangannya hanya bergerak – gerak seperti hendak memegang sesuatu. Dokter mengambilkan pulpen dan selembar kertas, diletakkannya di atas tempat tidur, persis di dekat tangan Arya. Ayyu hanya memperhatikan gerakan tangan Arya yang mulai menuliskan kata demi kata. Setelah menunggu lama, Dokter Mario memberikan kertas itu pada Ayyu. Ayyu mengambilnya dengan hati – hati.
“ Maafkan aku…tlah buat kamu menangis. Aku tidak tahan melihat kamu menderita. Pergilah sayang…jauhi aku. Aku rela..sayang….!” tulisan tangan Arya membuat jantung Ayyu berhenti mendadak. Airmatanya terus berjatuhan…banyak…dan lebih banyak, kepala Ayyu menjadi pusing…pandangannya menjadi buram…gelap…dan Brakkk….!! Ayyu terjatuh dari kursinya.
**********
“ Kenapa Ayyu…? Ayoo...buruan dech…kasian Dhyta harus nunggu kita lama.”
Suara lembut Dudul membuyarkan lamunan Ayyu, yang masih memegang album foto kenangan bersama Arya dan rekan kerjanya di kantor dulu. Kini Ayyu tidak lagi bekerja di kantor, ia telah membuka usaha bersama Dudul di bidang Event Organizer, dan menjadi rekanan bisnis perusahaannya yang dulu.
“ Dul…aku harus pergi yach…? rasanya berat dech.” Ayyu menutup album kenangan itu, dan diletakkan kembali di atas rak buku.
“ Kenapa berat Ayyu…? ada apa memangnya…? Ya udah…sini duduk dekat aku, cerita dulu…keluarin unek – unek kamu, setelah selesai baru kita berangkat ke rumah Dhyta…,” Dudul mengajak Ayyu duduk di sampingnya.
“ Maafin aku yach Dul…tapi rasanya berat harus menyaksikan Dhyta di hari bahagianya, bukan karena aku iri dengan Dhyta…tapi, aku jadi teringat kembali dengan Arya. Aku tak bisa melupakan dia, Dul. Dua tahun telah berlalu, Arya tak pernah membalas suratku setelah kecelakaan yang menimpa dirinya. Aku tak pernah tahu bagaimana kabar dia sekarang, mama dan papanya pun selalu mengatakan Arya sedang dalam pengobatan di Singapura. Aku ingin sekali ketemu dengan Arya, Dul…aku rindu sama dia. Aku tidak mengerti dengan Mama dan Papa ku juga, yang tidak mengizinkan lagi aku membicarakan Arya. Kenapa Dul..? aku cinta Dul sama dia…! Sangat cinta. Kenapa Arya harus membiarkan aku menderita seperti ini…? Apa salahku Dul…? apa Dul…?” Ayyu memukul – mukulkan tangannya ke dada Dudul. Dudul hanya diam. Seribu bahasa. Lalu ditatapnya wajah Ayyu lekat – lekat.
“ Sebesar apa cintamu sama Arya ?” tanya Dudul.
“ Apapun akan aku lakukan untuk dia, asal aku bisa bersamanya. Aku tak peduli dengan keadaannya, seburuk apapun.” Mata Ayyu mulai berkaca – kaca. Memendam rindu dan kesedihan yang tak terbendung.
“ Masihkah kamu menginginkan untuk bersamanya Ayyu, sedangkan Arya tidak pernah punya kepercayaan diri bahwa dia bisa membahagiakan kamu ? masih terlintas di pikiran kamu bahwa Arya sekarang juga masih memiliki cinta yang sama dengan kamu ?” Dudul memegang bahu Ayyu. Air mata Ayyu akhirnya meluap juga. Tumpah karena ucapan Dudul yang sangat mengejutkan hatinya.
“ Maksudmu…Dul ?” tanya Ayyu.
“ Berhentilah menangis…wajah cantikmu menjadi hilang karena air mata mu itu…ayoo…tersenyumlah untuk Dhyta, sobat terbaikmu. Okay cantik…?”
Ayyu tersenyum juga. Cuma Dudul yang bisa bikin hatinya hangat dan nyaman sejak kepergian Arya dari hidupnya yang tiba – tiba, dan cuma Dudul juga yang bisa mengerti semuanya tentang Ayyu sebelum Ayyu bertemu dengan Arya. Lalu kenapa Ayyu tetap memilih Arya ?. Entahlah, mungkin begitulah jalan hidup manusia, tak bisa diterka. Dan sudah menjadi urusan Tuhan.
**********
Acara ijab Kabul yang berlangsung khidmat pagi ini antara mempelai wanita Dhyta dan mempelai laki – laki Hilman telah berjalan dengan mulus, Rekan – rekan kerja Dhyta, sahabat, keluarga dan handai taulan yang menyaksikan acara sakral yang terindah sepanjang hidup Dhyta dan Hilman, memberikan ucapan selamat kepada mereka berdua. Disanapun hadir pula Nisa dan Dokter Mario yang tak lama lagi juga akan menyusul kebahagiaan Dhyta dan Hilman. Tinggal Dudul dan Ayyu yang entah kapan akan mengakhiri masa lajang mereka.
“ Ayyu…makasih yach….udah siapin ini semua buat aku dan suamiku, Hilman, tanpa kamu dan Dudul, kita bukan apa – apa hari ini.” Dhyta memeluk Ayyu dan menciumi kedua pipi Ayyu. Hilman berjabatan tangan dengan Dudul. Mengucapkan terima kasih atas bantuan Dudul yang sudah mempersiapkan acara yang teristimewa ini.
“ Yach…Dhyta…sama – sama. Senang bisa bekerja sama dengan kamu dan suamimu.” sahut Ayyu.
“ Kapan kamu menyusul kita ? Dudul udah siap tuch…mendampingi kamu, Yu.” Dhyta menggoda Ayyu. Ayyu cuma tersenyum simpul. Mencubit lengan Dhyta.
“ Jangan Dhyt…jangan godain Ayyu kayak gitu, kalo dia ngambek ntar aku yang susah baikinnya, hhehhe…maaf yach Yu…!” Dudul ikutan bicara.
“ Emangnya kamu mau nungguin aku sampai berapa lama ?” tanya Ayyu spontan pada Dudul.
“ Hhhehhe….ngapain ditanyain, neng…? Selama ini juga gue udah nungguin neng…neng aja yang gak sadar – sadar di tungguin, hahhaha…upss…!! sowry kalo gue keterlaluan. Maaf yach…Yu.” Dudul mencubit lengan Ayyu, tapi wajah Dudul menjadi merah. Malu, dan takut Ayyu marah. Dhyta dan Hilman yang mendengar guyonan Dudul menjadi tertawa terbahak – bahak.
“ Gak Dul…aku gak marah sama kamu, kita bergabung yuk sama teman – teman yang lain, tuch disana…! Dhyta, Hilman…aku tinggal dulu yach, “ Ayyu menggandeng Dudul ke luar ruangan. Sepertinya ada sesuatu yang hendak Ayyu bicarakan dengan Dudul.
“ Gak lucu tau…!” Ayyu memulai percakapan di pelataran parkir rumah Dhyta yang sangat luas itu, jauh dari keramaian orang – orang yang sibuk mondar mandir menyambut tamu – tamu yang datang.
“ Emangnya kenapa ? gak suka aku ledekin kayak gitu… ? “ Dudul menatap mata Ayyu tajam. Ayyu menganggukkan kepala.
“ Karena masih sayang sama Arya yach…jadi tidak mau membuka hati sama siapapun ? sama seperti kejadian kamu patah hati dengan Pranata dulu ? hatinya ditutup rapat – rapat. Terus pas Arya datang dengan segudang cinta dan perhatian, baru mau buka hati…dan jatuh cinta, setelah jatuh cinta lalu sekarang dikecewakan, masih juga menutup hati dengan siapapun ? hebat banget kamu Yu…hebat!” Dudul lalu pergi meninggalkan Ayyu sendirian. Ayyu mengejarnya dari belakang. Ditariknya lengan Dudul, Dudul menoleh. Lalu menghentikan langkahnya seketika.
“ Kenapa, Ayyu yang cantik ? ada yang salah dengan ucapan aku ? aku minta maaf yach sayang…,” Dudul mengulurkan tangannya.
“ Apa Dul…? ulangi lagi…yang kamu ucapin tadi…,” pinta Ayyu.
Dudul membuang nafas. Menahan kesal di hati. Harus bicara apa lagi sama Ayyu, agar gadis di hadapannya ini mengerti perasaannya. Gejolak cinta di hatinya yang sekian tahun dipendamnya, tapi tak berbalas. Bahkan di saat Arya tak mencintai Ayyu lagi pun, Dudul belum bisa mendapatkan hatinya Ayyu.
“ Mmmuachhh…!!” tiba – tiba Dudul mencium bibir Ayyu spontan. Ayyu terkejut. Walaupun tak ada yang melihat aksi Dudul barusan, namun wajah Ayyu telah berubah warna. Dudul hanya memperhatikan perubahan warna di wajah Ayyu. Menunggu reaksi Ayyu, marah, menamparnya atau tidak bereaksi apa – apa.
“ Plakkk…!” ternyata Ayyu menampar wajah Dudul juga. Lalu pergi meninggalkan Dudul. Dudul cuma tersenyum saja melihat kepergian Ayyu. Diusapnya pipinya, lumayan sakit, tapi tidak apa – apa. Ayyu pasti kembali lagi padanya. Begitu pikir Dudul.
“ Dudul…!” sebuah suara memanggil Dudul dari arah belakang.
Dudul menengok. Dan sangat terkejut ketika melihat seseorang yang telah memanggilnya. Arya Kusuma ! laki – laki yang pernah menjadi calon suami Ayyu.
“ Arya…?? Apa kabar sobat…? Koq bisa datang ke sini ?” Dudul memeluk tubuh Arya erat. Arya datang ditemani asisten pribadinya, Eddy.
“ Baik dan sehat, Dul. Tapi seperti inilah keadaan aku, tanpa kaki kanan dan tangan kiri.” Arya menyahut dan memperlihatkan kondisi tubuhnya.
“ Ya Tuhan…benar seperti yang diceritakan kedua orang tua kamu yach..?”
“ Ya beginilah aku sekarang, dua tahun aku menghilang ke Bandung, melupakan semuanya, melupakan calon isteriku juga. Sempat berobat ke Singapura, tapi hanya beberapa bulan saja, Papaku bisnisnya bangkrut, mama menjadi sakit – sakitan. Aku akhirnya tinggal di Bandung bersama Om dan Tanteku, bantuin usaha dia di bidang periklanan, lumayan hasilnya, aku bisa maksimalkan keahlianku, karena masih bisa menggambar dengan tangan kananku. Hilman yang menghubungiku via email, Dul…dia cerita banyak tentang kamu, tentang bisnis kamu juga. Hilman mengundangku untuk datang ke sini. Oh yach…mana isterimu Ayyu ?” Arya celingukan mencari sosok Ayyu.
“ Oh…iya…eh..Ayyu di dalam…sobat.” Dudul begitu gugup mendengar pertanyaan Arya barusan. Duhh… mau kasih penjelasan apa sama Arya ?.
“ Boleh antarkan aku Dul untuk menyampaikan permohonan maafku pada Ayyu ? itupun kalau kamu mengizinkan…, bila tidak tak apa. Aku cukup bertemu dengan Dhyta, Hilman dan rekan – rekan yang lain saja.” Arya memohon pada Dudul untuk dipertemukan dengan Ayyu, mantan kekasihnya.
Dudul akhirnya mengajak Arya masuk kedalam, menemui Dhyta dan Hilman terlebih dahulu, lalu mulai mencari Ayyu yang sedang berbincang dengan anak buahnya di tempat standing party.
“ Hai…Ayyu…! Apa kabar…?” Arya menyapa Ayyu. Ayyu terperangah melihat sosok laki – laki yang dikenalnya itu, telah berdiri di hadapan wajahnya.
“ Aryaaaa….??” Ayyu kaget setengah mati, hendak dipeluknya Arya, laki – laki yang masih terlihat tampan, gagah dan simpatik ini.
“ Maaf Ayyu…jangan peluk aku. Kamu sudah jadi milik Dudul sekarang.” ujar Arya.
“ Milik Dudul…? Maksud kamu apa Arya…? Dudul, ada apa ini…?” Ayyu berdiri mematung berhadapan dengan Arya, dilihatnya tangan dan kaki Arya yang tidak sempurna, Ayyu hanya terperangah saja, lalu berjongkok memastikan celana panjang yang dipakai Arya memang kosong, tak ada kaki kiri Arya disana, begitupun dengan tangan kiri Arya, dipegang Ayyu. Ayyu melakukan gerakan mundur selangkah. Bingung dengan apa yang telah dilihatnya di depan matanya.
“ Maafkan aku..Ayyu, aku pergi tanpa pamit padamu. Aku menyuruh Dudul untuk menikahi kamu…aku rela Dudul memperisteri kamu, karena aku sudah tahu Dudul juga sangat mencintai kamu sebelum kamu bertemu dengan aku, aku tahu itu semua dari Shasha. Aku tak bisa membahagiakan kamu dengan kondisi tubuhku yang seperti ini, aku takut mengecewakan kamu…Ayyu, aku menghilang 2 tahun hanya untuk memperbaiki rasa minder aku, sebagai orang cacat. Aku telah mengubur rasa sayang aku sama kamu 2 tahun lalu, aku sekarang ke sini hanya untuk meminta maaf atas kepengecutan aku padamu. Aku telah menyampaikan permohonan maafku pada kedua orang tuamu dan keluargamu, 2 tahun lalu tentang pengunduran diriku menjadi suamimu.” Arya mendekati Ayyu. Ayyu hanya bisa menangis demi mendengar pernyataan Arya.
“ Aku belum menjadi isteri Dudul, Aryaa…,” ujar Ayyu terisak – isak. Dudul hanya diam saja menyaksikan momen menyedihkan itu.
“ Dul…? kenapa kamu belum menikahi Ayyu..? kamu khan udah janji sama aku mau membahagiakan Ayyu..?” Arya bertanya pada Dudul. Dudul hanya menggaruk – garuk kepalanya yang tak gatal. Bingung, mau jawab apa. Biar saja Ayyu yang menjawab. Dudul ikhlas. Toh, Ayyu juga masih mencintai Arya. Sudah nasibnya kali, Dudul harus menjadi sahabat Ayyu seumur hidup. Tak bisa memiliki Ayyu.
Ayyu menahan tangisnya yang mau meledak karena mendengarkan semua penjelasan Arya hari ini, begitu pengecutnya dan tidak percaya dirinya laki – laki yang sangat dicintainya, yang setiap hari di rindukannya itu, hanya karena dia cacat fisik, bukan cacat kepribadian. Padahal, Ayyu tidak pernah melihat kesana, dimana kekurangan menjadi penghalang rasa cintanya pada Arya. Jadi buat apa lagi Ayyu harus mengatakan pada Arya sekarang bahwa ia masih mencintai laki – laki itu? Percuma sudah ! Bagaimana Arya bisa yakin membahagiakan Ayyu, sedang dengan dirinya sendiri saja Arya tidak yakin. Dan bodohnya, Ayyu telah mengacuhkan Dudul yang benar – benar mencintai Ayyu sedari dulu.
**********
“ Eitss…mau kemana sayang….? yang lain sudah pada tidur lho...” Dudul menarik lengan Ayyu yang hendak bangun dari tempat tidur, Ayyu menjadi terhempas di sisi Dudul.
“ Mau ambil air minum dulu…buat kamu, kalo nanti haus. Hhehehe…” Ayyu melepaskan tangan Dudul. Beranjak dari tempat tidur.
“ Gak usah sayang…nanti saja aku yang ambil ke dapur, kamu disini aja dulu.” Dudul menarik lagi lengan Ayyu. Ayyu tetap membandel, berjingkat dari tempat tidur.
Dudul mengikuti langkah Ayyu dari belakang, lalu Hap !! diangkatnya tubuh Ayyu, digendongnya gadis manis itu dengan penuh kemesraan hingga ke tempat tidur, dan di letakkan di atas tempat tidur perlahan – lahan. Ayyu bahagia banget dan dipejamkanlah matanya. Menanti yang akan dilakukan Dudul padanya dan Dudul pun sudah berada di atas tubuh Ayyu sekarang. Menatap wajah Ayyu lekat. Ayyu membuka matanya pelan – pelan. Menatap mata Dudul yang hangat dan penuh kasih sayang.
“ Kenapa loe Yu…? Takut sama gue yach..? hhehhe….ya udah kalo takut. Besok aja lagi. Its ok koq.” Dudul mencium kening Ayyu, penuh kehangatan. Ayyu menghembuskan nafasnya pelan – pelan. Menghilangkan rasa yang dibilang Dudul barusan.
“ Gue gak takut koq…cuma nervous aja. Hhhehehe…Maaf yach…khan belum pernah.” Ayyu mencium hidung Dudul.
“ Owhh…gitu yach..? ya udah kita mulai sekarang ajaaa yach sayang…?” Dudul sudah tidak sabar, langsung menciumi pipi Ayyu.
“ Ihhh…katanya besok gak apa – apa, Dul.” Ayyu merajuk.
“ Udahlah sayang…, kita khan bukan sahabat lagi malam ini…, gak ada tawar – menawar lagi yach sayang…! kamu udah jadi isteri aku, Ayyu yang cantik…,” Dudul mencium sekali lagi kening Ayyu. Ayyu tertawa – tawa melihat Dudul yang sudah tidak sabar malam ini. Dari pada Ayyu berubah pikiran lagi, akhirnya Dudul segera mematikan lampu utama di kamarnya, dan dinyalakan 2 buah lampu meja yang ada di sisi kiri dan kanan tempat tidur mereka.
---T A M A T---
Tangerang, 26 April 2010
At. 01.00 a.m
" Akhirnya selesai juga cerita ini, Alhamdulillah...., makasih wat Mas Mustofa yang udah jadi tempat share gue selama ini. "
Senin, 15 Maret 2010
LUKA DI SINI....
“ Satrio…! Bagaimana..? sudah siap semuanya ? atau masih perlu waktu lagi ?” Abiv membuyarkan lamunan Satrio, yang masih termangu di dalam mobil. Duduk di belakang kemudi, dengan pandangan yang kosong, menatap lirih ke bangunan Gedung Pengadilan Agama di samping kirinya.
“ Terlalu sakit cambuk ini, Biv…aku tak sanggup sepertinya berjalan ke sana, aku tak sanggup Biv..tak sanggup!” Satrio menutup kedua matanya dengan terus menggeleng – gelengkan kepalanya.
“ Aku akan tunggu sampai kamu siap melangkah kesana, atau aku akan antar kamu kembali ke rumah, Satrio. Bukan aku yang membuat pilihan untukmu, tapi kamulah yang harus membuat pilihan terbaik untuk hidupmu. Jangan takut menatap masa depanmu, Satrio. Semua sudah di atur oleh Yang Maha Kuasa. Kamu tinggal menjalaninya saja. Tidak lebih, Satrio....,” Abiv memahami perasaan Satrio, yang sedang berkecamuk tak menentu. Bimbang dan tak ada lagi kepercayaan diri.
Satrio sedang mengalami kehancuran hati, hidup dan dunianya. Sedangkan Abiv berusaha untuk mengumpulkan kepingan – kepingan keruntuhan itu. Teman seperjuangan yang dikenalnya selalu baik – baik saja, kini terpuruk dalam jurang kehampaan. Jurang yang telah membuat Satrio terperosok, dengan luka batin di sana sini.
Abiv selama ini yang selalu mendengarkan jeritan hati Satrio. Pria yang dikenalnya selama bertahun – tahun sejak bangku Sekolah Dasar hingga mereka berdua dipertemukan kembali dalam ikatan kekeluargaan. Hanya Abiv jua yang mendukung semua keinginannya untuk mengakhiri penderitaannya.
Terlalu jauh sudah Satrio mengembara dalam perih yang tak berujung, perih kesakitan demi mempertahankan rasa cinta yang tak semestinya. Rasa cinta yang dipaksakan hadir dengan wujud kesempurnaan. Dibutakan oleh cinta, Begitulah Abiv selalu berujar berulang kali. Sayangnya, Satrio terlalu tuli untuk menerima semua pesan positif yang diberikan Abiv setiap saat Satrio membagi luka hatinya.
“ Satrio…waktu kamu tinggal 5 menit lagi. Putuskan sekarang atau kamu terombang - ambing dalam kerumitan masalahmu ini. Ayolah…hentikan deritamu ! tunjukkan kamu laki - laki terbaik walaupun luka itu masih menganga. Aku yakin kamu bisa melewati ini tanpa dia. Kamu bisa Satrio !”
Satrio menarik nafas dalam – dalam, lalu membuangnya perlahan. Ada setitik kelegaan tergurat di wajahnya yang berawan gelap. Beban yang dipaksa dipikulnya kini mulai berangsur menyusut. Atau hanya untuk menyenangkan hati Abiv saja ? sahabat yang sekaligus menjadi adik iparnya itu. Tak ada yang tahu, Satrio dan Tuhanlah yang menjawabnya.
Satrio pun memasuki Gedung yang terlihat begitu menyeramkan dalam sejarah hidupnya dengan langkah gontai. Abiv menggandeng Satrio dengan hati mantap memasuki ruangan sidang yang telah di hadiri oleh beberapa keluarga Satrio dan keluarga Vivie, isteri Satrio.
Beberapa pasang mata memandang Satrio dan Abiv dengan tatapan sinis. Abiv tak mempedulikan, begitu pula Satrio. Hidup ini harus terus melaju, tentunya dengan keseimbangan. Bukan lagi ketimpangan. Apalagi ada pihak yang dirugikan, karena sebuah pernikahan semu yang telah diciptakan seseorang hanya untuk permainan belaka. Permainan hati sekaligus materi. Sungguh keterlaluan..!!
**********
“ Satrio…, nama saya.” Satrio mengulurkan tangan terlebih dahulu pada gadis manis di sebelahnya. Perjalanan dinas kali ini terasa singkat dan mengesankan.
Bagaimana tidak ? gadis manis berambut panjang sebahu ini, bercerita terus tentang pekerjaan dan hidupnya sejak duduk di kursi pesawat rute Yogyakarta – Jakarta.
Satrio yang pendiam dan pemalu, hanya tersenyum - senyum bahagia karena memiliki teman perjalanan udara yang menyenangkan hati. Begitu banyak yang dibicarakan gadis manis itu, hingga sampailah gadis manis itu menanyakan sesuatu hal yang membuat wajah Satrio merah padam. Bisu seketika.
“ Maaf…bila pertanyaan saya telah membuat kamu terganggu. Saya minta maaf…,”
Gadis manis itu mengulurkan tangannya. Satrio menyambutnya penuh keramahan.
“ Tidak apa – apa, Annisa…, saya benar – benar tidak terganggu. Oh..yach, kalau boleh saya tahu, kamu bermalam di mana…?”
“ Leganya hati ini...! Saya menginap di Jalan M.H Thamrin, Satrio. Kenapa memangnya…?” Annisa penasaran.
“ Lho..koq menginap di hotel ? tidak pulang ke rumah kah ?”
“ Agenda kerja saya padat, Satrio. Training kerja ini dibikin padat, tak ada waktu untuk bermalam di rumah, yang jarak tempuhnya sekitar 2 jam sampai ke rumah.” Annisa menyahut ramah pula. Satrio hanya mengangguk. Sambil melemparkan senyumnya pada Annisa. Ingin rasanya Satrio memperlambat jalannya pesawat ini untuk mendarat di Airport Soekarno Hatta. Agar perbincangan ini tak berakhir dengan cepat.
“ Tak ada waktu luangnya, Annisa ?” Satrio mengejar dengan pertanyaan yang membuat Annisa terperanjat. Annisa sudah bisa memahami arah pembicaraan Satrio.
“ Ada, memangnya kenapa Satrio ?” Annisa balik bertanya.
“ Jam berapa ? Maaf lho…itu pun kalo kamu mau memberitahu saya. Bila tidak bisa, yach nasib saya dech, Annisa. Hehhehe…,” Satrio tertawa. Malu rasanya bila Annisa benar – benar tidak memberitahunya. Tapi, kapan lagi bisa menemukan pengganti pendamping hidupnya kalau setiap ada kesempatan berharga, dilewatkan Satrio begitu saja. Huftt…Satrio memejamkan mata sekian detik, sedang berdoa rupanya. Entah apa itu.
“ Hey…lagi ngapain kamu ? pasti takut yach mau landing ? masih 10 menit lagi koq. Hehhehe….,” Annisa tertawa kecil melihat tingkah Satrio.
“ Lagi berdoa Annisa, agar kamu memberi info waktu kosong kamu malam ini.” Jawab Satrio spontan.
Annisa tertawa kembali. Lama – lama lucu juga nih cowok misterius. Tadi cuma diam dan jadi pendengar saja, sekarang malah membuat Annisa sakit perut, karena tingkah lucunya. Sedang Satrio tetap memejamkan matanya.
“ Siap – siap, Satrio…mau landing nih.” Annisa mengejutkan Satrio, yang masih berdoa. Hanya untuk mengharap Annisa memberikan jawaban pertanyaannya barusan. Ternyata, doa Satrio belum terkabul. Tak apa – apa, masih ada waktu untuk mendekati Annisa. Pikir Satrio.
Pesawat pun mendarat dengan mulusnya di Airport Internasional ini pukul 1 siang. Annisa dan Satrio segera berkemas – kemas, dan mengucapkan salam perpisahan dengan hangat setelah turun dari pesawat. Mereka berpisah. Satrio menuju ke Cikini. Sedangkan Annisa menuju ke Jalan M.H Thamrin. Satrio pun menginap di hotel, untuk melakukan pertemuan dengan relasi bisnis perusahaannya sore ini.
**********
“ Iyya Mas…makasih banget info nya, salam sama Mbak Maya yach dan anak – anakmu.” terdengar Annisa mengakhiri perbincangan telepon dari seorang laki – laki.
Annisa membaringkan tubuhnya di atas matras tempat tidur hotel yang empuk. Pikirannya melayang pada laki – laki yang baru saja menghubunginya. Mau kasih hadiah apa yach buat ulang tahun pernikahan teman baiknya itu, 1 minggu lagi ?. Bingung. Segalanya telah laki – laki itu miliki. Lalu apa hadiah yang pantas untuk dia ?. Sudahlah, nanti saja dipikirkan. Hanya akan menguras waktu. Ujar Annisa.
Annisa segera menyudahi kebingungan pikirannya. Dipilihnya beberapa helai kemeja dan blazer untuk persiapan acara Training Staff Ahli dari Kantor Pusat Perusahaan telepon seluler terkemuka di Indonesia, yang akan berlangsung 30 menit ke depan. Tampil rapi dan modis, mungkin perlu diperhitungkan buat Annisa. Kali aja selesai acara training kerja nanti, bisa menemukan seseorang yang selama ini dicarinya.
**********
Peserta training yang berjumlah kurang lebih 50 orang telah memadati ruangan pertemuan di Hotel berbintang ini. Peserta training yang berasal dari luar daerah Jakarta, mengirimkan 2 sampai 3 orang utusannya. Sedangkan Annisa hanya sendirian diutus dari kantornya untuk menghadiri acara ini. Kedua orang temannya tidak bisa ikut dalam momen berharga ini, karena harus dikirim ke daerah lain untuk perampungan masalah perusahaan menyangkut pelayanan dan jaringan. Meskipun sendirian tak mematahkan semangat Annisa untuk tetap mengikuti acara yang sangat penting untuk hidupnya ini. Setelah berhasil mengikuti training kerja selama 2 hari ini. Annisa berharap akan menambah wawasan dan skillnya kelak. Hingga dia bisa ikut dalam promosi jabatan ke jenjang yang lebih tinggi dalam Struktur Perusahaannya.
Acara telah berlangsung 3 jam, dan ditutup dengan acara door prize. Tentu saja semua peserta senang hatinya. Karena bisa membawa pulang hadiah – hadiah menarik, ponsel, ipod, sampai notebook keluaran tahun terkini. Dan beberapa souvenir eksklusif dari beberapa sponsor.
Selesai acara, para peserta dari Jakarta dan daerah saling berkenalan. Banyak yang bertukar nomer ponsel dan alamat email. Tak ada yang terlewatkan begitu saja di acara keakraban peserta training kali ini. Mereka bahagia banget bisa saling berjabatan tangan dengan peserta lain dan membicarakan banyak hal, yang bukan melulu pekerjaan dan karier mereka. Begitu pula dengan Annisa, tak mau melepaskan kesempatan emas ini.
“ Lho…koq kamu disini, Satrio…?” mata Annisa dikejutkan oleh kehadiran Satrio yang sudah berdiri di depannya.
“ Hahahha…kaget yach..? aku peserta training dari Magelang, Nisa…,” Satrio kembali mengulurkan tangannya pada Annisa.
“ Bukannya kamu kerja di perusahaan farmasi ? dan tujuan ke Cikini ? hahhaaha…aku tertipu nih sama kamu, Satrio.” Annisa melangkah ke meja hidangan, mengambil gelas berisi minuman ringan. Diteguknya perlahan untuk menghilangkan rasa gugup dan keterkejutannya melihat Satrio. Pria misterius.
“ Ayoo Nisa…kita makan malam. Entar kehabisan, kebetulan aku udah lapar nih…,”
Satrio mengajak Annisa bergabung bersama rekan yang lain, untuk makan malam bersama.
Annisa mengikuti langkah Satrio. Ada yang aneh dengan Annisa, kenapa harus ikut dengan Satrio yach ? bukannya peserta lain juga banyak yang bisa di ajak bicara saat makan malam kali ini.
“ Kenapa Annisa ? ada yang janggal dengan aku ?” Satrio memberikan kursi makan pada Annisa, agar diduduki Annisa. Annisa terdiam. Tapi…., kenapa Annisa tidak juga duduk di kursi yang disodorkan Satrio ? malah terpaku berdiri di samping kursi makan, sedang peserta yang lain sudah mulai menyantap hidangan malam yang sangat istimewa itu.
“ Annisa…ada apa ? kenapa mata kamu tidak lepas menatap aku ?” Satrio melambai - lambaikan tangan kanannya pada wajah Annisa. Annisa terperanjat seketika. Lalu duduk di kursi dengan posisi tetap seperti patung. Tegak dan mata tetap menatap Satrio.
Satrio bingung melihat sikap Annisa yang seperti terhipnotis. Perubahan yang aneh, baru saja ceria lalu diam seperti raga tak bernyawa.
Annisa bangun dan berjalan menuju meja hidangan, memilih beberapa lauk, dan buah untuk disantapnya malam ini. Sedang Satrio mengikuti di belakang Annisa.
“ Enak yach…menu makan malamnya, Nis…,” Satrio membuka percakapan di meja makan.
Annisa mengangguk tanpa menatap mata Satrio.
“ Benar – benar enak khan Nisa ? hmm…pas banget dech di lidahku.”
Annisa tidak menyahut, tapi kali ini matanya segera diarahkan ke mata Satrio. Tidak dilawannya seperti tadi. Annisa diam tak bersuara. Satrio benar – benar aneh dengan sikap Annisa barusan. Sendok dan garpu yang dipegang Satrio tiba – tiba terlepas, saat melihat Annisa menitikkan air mata. Dan bibir Annisa seakan hendak mengutarakan sesuatu pada Satrio.
“ Annisa…kenapa ? matamu...menangis ? ada apa Annisa ? ada yang bisa aku bantu Annisa ?” Satrio panik dan menggenggam kedua tangan Annisa. Dan Annisa merasakan tubuhnya berguncang. Tatapan matanya tidak dilepaskan pada Satrio. Lalu Annisa merasa terlempar jauh…jauh dan sangat jauh. Di sebuah tempat yang belum dikenalnya. Entah dimana.
Sayup –sayup terdengar teriakan perempuan muda yang tidak dikenalnya, dari dalam sebuah rumah. Telah terjadi pertengkaran hebat rupanya dari dalam rumah yang berdiri begitu megahnya untuk ukuran rumah di kota kecil seperti ini. Bahkan bisa dibilang sebuah kampung. Entah kampung apa namanya.
Annisa memberanikan diri berdiri di depan rumah megah itu, untuk memastikan bahwa yang didengarnya bukanlah kesalahan telinganya. Lalu tiba – tiba seorang laki – laki muda yang tampan keluar dari dalam rumah itu. Perempuan muda yang tadi berteriak kencang pun ikut keluar dari dalam rumah dan mengeluarkan perkataan kasar yang tidak seharusnya di lontarkan. Lalu menyusul kemudian, seorang perempuan setengah tua ikut mencaci maki lelaki tampan itu. Dan meludahi wajah lelaki muda yang tampan itu dengan seenak hatinya. Tanpa perasaan bersalah.
Hiyy…Annisa bergidik. Gerangan apa yang telah diperbuat lelaki muda itu, hingga 2 orang perempuan itu begitu sangat kasar perlakuannya. Lalu kenapa lelaki muda itu hanya diam saja ?.
Dengan hanya memakai celana pendek dan kaos berlengan pendek, sangat pas dengan tubuhnya yang atletis. Lelaki muda itu segera menghambur keluar dari teras rumah.
Wajah lelaki itu sangat dikenalnya betul. Wajahnya kusut. Ada garis – garis kemarahan tersembul di wajahnya yang tampan itu. Entah apa yang telah diperbuat wanita muda di dalam sana yang telah membuat wajah lelaki itu begitu kusut dan marah.
“ Ayyoo..pergi dari sini, sebelum dia mengetahui kamu ada di sini.” Lelaki itu menarik lengan Annisa. Annisa tidak mau pergi. Lelaki itu tetap menyeretnya pergi dari tempat itu.
“ Kita mau kemana…? aku tidak kenal tempat ini.”
“ Ikut aku saja.”
“ Kemana…? aku benar – benar tidak tahu daerah ini. Aku takut. Aku tidak tahu sekarang aku berada dimana.” Annisa tidak mau melangkahkan kakinya.
“ Ayolah..sebelum gelap datang. Kita harus berjalan kaki sepanjang 25 kilometer menuju rumah ibuku.” Lelaki muda itu tetap memaksa.
“ Kenapa harus berjalan kaki ? aku tidak mau, kita bisa naik angkot atau bis.”
“ Ini bukan kota besar. Tak ada angkutan umum itu disini. Ini cuma desa. Ayolah..menyingkir dari sini.” Lelaki itu sudah tidak sabar sekarang, ia menyeret Annisa pergi dari tempat itu. Yang anehnya, kedua perempuan di seberang sana hanya memperhatikan lelaki muda itu. Nampaknya, tidak menyadari kehadiran Annisa di tempat itu.
“ Aku bisa lelah berjalan kaki sepanjang itu. Aku tidak mau.”
“ Terserah..kalau pengen di jahati orang malam – malam di sini.”
“ Kenapa aku harus ikut denganmu ? antarkan aku pulang saja ke rumahku.”
“ Heyy..apa – apaan ini, kamu datang sendiri ke tempat ini. Yach..pulanglah sendiri. Aku tak peduli dengan kamu, sudah terlalu banyak urusan hidupku.” Lelaki itu tetap berceloteh dan membuat Annisa harus ikut dengan lelaki itu menuju rumah ibu lelaki muda itu. Sedang Annisa sendiri tidak tahu jalan menuju pulang ke rumahnya. Annisa telah tersesat di kampung orang. Menyedihkan !.
*** B. E. R. S. A.M. B. U. N. G ***
Tangerang, 15 Maret 2010
" Friend...dont be sad all the time, wake up and see your future awaits !! "
“ Terlalu sakit cambuk ini, Biv…aku tak sanggup sepertinya berjalan ke sana, aku tak sanggup Biv..tak sanggup!” Satrio menutup kedua matanya dengan terus menggeleng – gelengkan kepalanya.
“ Aku akan tunggu sampai kamu siap melangkah kesana, atau aku akan antar kamu kembali ke rumah, Satrio. Bukan aku yang membuat pilihan untukmu, tapi kamulah yang harus membuat pilihan terbaik untuk hidupmu. Jangan takut menatap masa depanmu, Satrio. Semua sudah di atur oleh Yang Maha Kuasa. Kamu tinggal menjalaninya saja. Tidak lebih, Satrio....,” Abiv memahami perasaan Satrio, yang sedang berkecamuk tak menentu. Bimbang dan tak ada lagi kepercayaan diri.
Satrio sedang mengalami kehancuran hati, hidup dan dunianya. Sedangkan Abiv berusaha untuk mengumpulkan kepingan – kepingan keruntuhan itu. Teman seperjuangan yang dikenalnya selalu baik – baik saja, kini terpuruk dalam jurang kehampaan. Jurang yang telah membuat Satrio terperosok, dengan luka batin di sana sini.
Abiv selama ini yang selalu mendengarkan jeritan hati Satrio. Pria yang dikenalnya selama bertahun – tahun sejak bangku Sekolah Dasar hingga mereka berdua dipertemukan kembali dalam ikatan kekeluargaan. Hanya Abiv jua yang mendukung semua keinginannya untuk mengakhiri penderitaannya.
Terlalu jauh sudah Satrio mengembara dalam perih yang tak berujung, perih kesakitan demi mempertahankan rasa cinta yang tak semestinya. Rasa cinta yang dipaksakan hadir dengan wujud kesempurnaan. Dibutakan oleh cinta, Begitulah Abiv selalu berujar berulang kali. Sayangnya, Satrio terlalu tuli untuk menerima semua pesan positif yang diberikan Abiv setiap saat Satrio membagi luka hatinya.
“ Satrio…waktu kamu tinggal 5 menit lagi. Putuskan sekarang atau kamu terombang - ambing dalam kerumitan masalahmu ini. Ayolah…hentikan deritamu ! tunjukkan kamu laki - laki terbaik walaupun luka itu masih menganga. Aku yakin kamu bisa melewati ini tanpa dia. Kamu bisa Satrio !”
Satrio menarik nafas dalam – dalam, lalu membuangnya perlahan. Ada setitik kelegaan tergurat di wajahnya yang berawan gelap. Beban yang dipaksa dipikulnya kini mulai berangsur menyusut. Atau hanya untuk menyenangkan hati Abiv saja ? sahabat yang sekaligus menjadi adik iparnya itu. Tak ada yang tahu, Satrio dan Tuhanlah yang menjawabnya.
Satrio pun memasuki Gedung yang terlihat begitu menyeramkan dalam sejarah hidupnya dengan langkah gontai. Abiv menggandeng Satrio dengan hati mantap memasuki ruangan sidang yang telah di hadiri oleh beberapa keluarga Satrio dan keluarga Vivie, isteri Satrio.
Beberapa pasang mata memandang Satrio dan Abiv dengan tatapan sinis. Abiv tak mempedulikan, begitu pula Satrio. Hidup ini harus terus melaju, tentunya dengan keseimbangan. Bukan lagi ketimpangan. Apalagi ada pihak yang dirugikan, karena sebuah pernikahan semu yang telah diciptakan seseorang hanya untuk permainan belaka. Permainan hati sekaligus materi. Sungguh keterlaluan..!!
**********
“ Satrio…, nama saya.” Satrio mengulurkan tangan terlebih dahulu pada gadis manis di sebelahnya. Perjalanan dinas kali ini terasa singkat dan mengesankan.
Bagaimana tidak ? gadis manis berambut panjang sebahu ini, bercerita terus tentang pekerjaan dan hidupnya sejak duduk di kursi pesawat rute Yogyakarta – Jakarta.
Satrio yang pendiam dan pemalu, hanya tersenyum - senyum bahagia karena memiliki teman perjalanan udara yang menyenangkan hati. Begitu banyak yang dibicarakan gadis manis itu, hingga sampailah gadis manis itu menanyakan sesuatu hal yang membuat wajah Satrio merah padam. Bisu seketika.
“ Maaf…bila pertanyaan saya telah membuat kamu terganggu. Saya minta maaf…,”
Gadis manis itu mengulurkan tangannya. Satrio menyambutnya penuh keramahan.
“ Tidak apa – apa, Annisa…, saya benar – benar tidak terganggu. Oh..yach, kalau boleh saya tahu, kamu bermalam di mana…?”
“ Leganya hati ini...! Saya menginap di Jalan M.H Thamrin, Satrio. Kenapa memangnya…?” Annisa penasaran.
“ Lho..koq menginap di hotel ? tidak pulang ke rumah kah ?”
“ Agenda kerja saya padat, Satrio. Training kerja ini dibikin padat, tak ada waktu untuk bermalam di rumah, yang jarak tempuhnya sekitar 2 jam sampai ke rumah.” Annisa menyahut ramah pula. Satrio hanya mengangguk. Sambil melemparkan senyumnya pada Annisa. Ingin rasanya Satrio memperlambat jalannya pesawat ini untuk mendarat di Airport Soekarno Hatta. Agar perbincangan ini tak berakhir dengan cepat.
“ Tak ada waktu luangnya, Annisa ?” Satrio mengejar dengan pertanyaan yang membuat Annisa terperanjat. Annisa sudah bisa memahami arah pembicaraan Satrio.
“ Ada, memangnya kenapa Satrio ?” Annisa balik bertanya.
“ Jam berapa ? Maaf lho…itu pun kalo kamu mau memberitahu saya. Bila tidak bisa, yach nasib saya dech, Annisa. Hehhehe…,” Satrio tertawa. Malu rasanya bila Annisa benar – benar tidak memberitahunya. Tapi, kapan lagi bisa menemukan pengganti pendamping hidupnya kalau setiap ada kesempatan berharga, dilewatkan Satrio begitu saja. Huftt…Satrio memejamkan mata sekian detik, sedang berdoa rupanya. Entah apa itu.
“ Hey…lagi ngapain kamu ? pasti takut yach mau landing ? masih 10 menit lagi koq. Hehhehe….,” Annisa tertawa kecil melihat tingkah Satrio.
“ Lagi berdoa Annisa, agar kamu memberi info waktu kosong kamu malam ini.” Jawab Satrio spontan.
Annisa tertawa kembali. Lama – lama lucu juga nih cowok misterius. Tadi cuma diam dan jadi pendengar saja, sekarang malah membuat Annisa sakit perut, karena tingkah lucunya. Sedang Satrio tetap memejamkan matanya.
“ Siap – siap, Satrio…mau landing nih.” Annisa mengejutkan Satrio, yang masih berdoa. Hanya untuk mengharap Annisa memberikan jawaban pertanyaannya barusan. Ternyata, doa Satrio belum terkabul. Tak apa – apa, masih ada waktu untuk mendekati Annisa. Pikir Satrio.
Pesawat pun mendarat dengan mulusnya di Airport Internasional ini pukul 1 siang. Annisa dan Satrio segera berkemas – kemas, dan mengucapkan salam perpisahan dengan hangat setelah turun dari pesawat. Mereka berpisah. Satrio menuju ke Cikini. Sedangkan Annisa menuju ke Jalan M.H Thamrin. Satrio pun menginap di hotel, untuk melakukan pertemuan dengan relasi bisnis perusahaannya sore ini.
**********
“ Iyya Mas…makasih banget info nya, salam sama Mbak Maya yach dan anak – anakmu.” terdengar Annisa mengakhiri perbincangan telepon dari seorang laki – laki.
Annisa membaringkan tubuhnya di atas matras tempat tidur hotel yang empuk. Pikirannya melayang pada laki – laki yang baru saja menghubunginya. Mau kasih hadiah apa yach buat ulang tahun pernikahan teman baiknya itu, 1 minggu lagi ?. Bingung. Segalanya telah laki – laki itu miliki. Lalu apa hadiah yang pantas untuk dia ?. Sudahlah, nanti saja dipikirkan. Hanya akan menguras waktu. Ujar Annisa.
Annisa segera menyudahi kebingungan pikirannya. Dipilihnya beberapa helai kemeja dan blazer untuk persiapan acara Training Staff Ahli dari Kantor Pusat Perusahaan telepon seluler terkemuka di Indonesia, yang akan berlangsung 30 menit ke depan. Tampil rapi dan modis, mungkin perlu diperhitungkan buat Annisa. Kali aja selesai acara training kerja nanti, bisa menemukan seseorang yang selama ini dicarinya.
**********
Peserta training yang berjumlah kurang lebih 50 orang telah memadati ruangan pertemuan di Hotel berbintang ini. Peserta training yang berasal dari luar daerah Jakarta, mengirimkan 2 sampai 3 orang utusannya. Sedangkan Annisa hanya sendirian diutus dari kantornya untuk menghadiri acara ini. Kedua orang temannya tidak bisa ikut dalam momen berharga ini, karena harus dikirim ke daerah lain untuk perampungan masalah perusahaan menyangkut pelayanan dan jaringan. Meskipun sendirian tak mematahkan semangat Annisa untuk tetap mengikuti acara yang sangat penting untuk hidupnya ini. Setelah berhasil mengikuti training kerja selama 2 hari ini. Annisa berharap akan menambah wawasan dan skillnya kelak. Hingga dia bisa ikut dalam promosi jabatan ke jenjang yang lebih tinggi dalam Struktur Perusahaannya.
Acara telah berlangsung 3 jam, dan ditutup dengan acara door prize. Tentu saja semua peserta senang hatinya. Karena bisa membawa pulang hadiah – hadiah menarik, ponsel, ipod, sampai notebook keluaran tahun terkini. Dan beberapa souvenir eksklusif dari beberapa sponsor.
Selesai acara, para peserta dari Jakarta dan daerah saling berkenalan. Banyak yang bertukar nomer ponsel dan alamat email. Tak ada yang terlewatkan begitu saja di acara keakraban peserta training kali ini. Mereka bahagia banget bisa saling berjabatan tangan dengan peserta lain dan membicarakan banyak hal, yang bukan melulu pekerjaan dan karier mereka. Begitu pula dengan Annisa, tak mau melepaskan kesempatan emas ini.
“ Lho…koq kamu disini, Satrio…?” mata Annisa dikejutkan oleh kehadiran Satrio yang sudah berdiri di depannya.
“ Hahahha…kaget yach..? aku peserta training dari Magelang, Nisa…,” Satrio kembali mengulurkan tangannya pada Annisa.
“ Bukannya kamu kerja di perusahaan farmasi ? dan tujuan ke Cikini ? hahhaaha…aku tertipu nih sama kamu, Satrio.” Annisa melangkah ke meja hidangan, mengambil gelas berisi minuman ringan. Diteguknya perlahan untuk menghilangkan rasa gugup dan keterkejutannya melihat Satrio. Pria misterius.
“ Ayoo Nisa…kita makan malam. Entar kehabisan, kebetulan aku udah lapar nih…,”
Satrio mengajak Annisa bergabung bersama rekan yang lain, untuk makan malam bersama.
Annisa mengikuti langkah Satrio. Ada yang aneh dengan Annisa, kenapa harus ikut dengan Satrio yach ? bukannya peserta lain juga banyak yang bisa di ajak bicara saat makan malam kali ini.
“ Kenapa Annisa ? ada yang janggal dengan aku ?” Satrio memberikan kursi makan pada Annisa, agar diduduki Annisa. Annisa terdiam. Tapi…., kenapa Annisa tidak juga duduk di kursi yang disodorkan Satrio ? malah terpaku berdiri di samping kursi makan, sedang peserta yang lain sudah mulai menyantap hidangan malam yang sangat istimewa itu.
“ Annisa…ada apa ? kenapa mata kamu tidak lepas menatap aku ?” Satrio melambai - lambaikan tangan kanannya pada wajah Annisa. Annisa terperanjat seketika. Lalu duduk di kursi dengan posisi tetap seperti patung. Tegak dan mata tetap menatap Satrio.
Satrio bingung melihat sikap Annisa yang seperti terhipnotis. Perubahan yang aneh, baru saja ceria lalu diam seperti raga tak bernyawa.
Annisa bangun dan berjalan menuju meja hidangan, memilih beberapa lauk, dan buah untuk disantapnya malam ini. Sedang Satrio mengikuti di belakang Annisa.
“ Enak yach…menu makan malamnya, Nis…,” Satrio membuka percakapan di meja makan.
Annisa mengangguk tanpa menatap mata Satrio.
“ Benar – benar enak khan Nisa ? hmm…pas banget dech di lidahku.”
Annisa tidak menyahut, tapi kali ini matanya segera diarahkan ke mata Satrio. Tidak dilawannya seperti tadi. Annisa diam tak bersuara. Satrio benar – benar aneh dengan sikap Annisa barusan. Sendok dan garpu yang dipegang Satrio tiba – tiba terlepas, saat melihat Annisa menitikkan air mata. Dan bibir Annisa seakan hendak mengutarakan sesuatu pada Satrio.
“ Annisa…kenapa ? matamu...menangis ? ada apa Annisa ? ada yang bisa aku bantu Annisa ?” Satrio panik dan menggenggam kedua tangan Annisa. Dan Annisa merasakan tubuhnya berguncang. Tatapan matanya tidak dilepaskan pada Satrio. Lalu Annisa merasa terlempar jauh…jauh dan sangat jauh. Di sebuah tempat yang belum dikenalnya. Entah dimana.
Sayup –sayup terdengar teriakan perempuan muda yang tidak dikenalnya, dari dalam sebuah rumah. Telah terjadi pertengkaran hebat rupanya dari dalam rumah yang berdiri begitu megahnya untuk ukuran rumah di kota kecil seperti ini. Bahkan bisa dibilang sebuah kampung. Entah kampung apa namanya.
Annisa memberanikan diri berdiri di depan rumah megah itu, untuk memastikan bahwa yang didengarnya bukanlah kesalahan telinganya. Lalu tiba – tiba seorang laki – laki muda yang tampan keluar dari dalam rumah itu. Perempuan muda yang tadi berteriak kencang pun ikut keluar dari dalam rumah dan mengeluarkan perkataan kasar yang tidak seharusnya di lontarkan. Lalu menyusul kemudian, seorang perempuan setengah tua ikut mencaci maki lelaki tampan itu. Dan meludahi wajah lelaki muda yang tampan itu dengan seenak hatinya. Tanpa perasaan bersalah.
Hiyy…Annisa bergidik. Gerangan apa yang telah diperbuat lelaki muda itu, hingga 2 orang perempuan itu begitu sangat kasar perlakuannya. Lalu kenapa lelaki muda itu hanya diam saja ?.
Dengan hanya memakai celana pendek dan kaos berlengan pendek, sangat pas dengan tubuhnya yang atletis. Lelaki muda itu segera menghambur keluar dari teras rumah.
Wajah lelaki itu sangat dikenalnya betul. Wajahnya kusut. Ada garis – garis kemarahan tersembul di wajahnya yang tampan itu. Entah apa yang telah diperbuat wanita muda di dalam sana yang telah membuat wajah lelaki itu begitu kusut dan marah.
“ Ayyoo..pergi dari sini, sebelum dia mengetahui kamu ada di sini.” Lelaki itu menarik lengan Annisa. Annisa tidak mau pergi. Lelaki itu tetap menyeretnya pergi dari tempat itu.
“ Kita mau kemana…? aku tidak kenal tempat ini.”
“ Ikut aku saja.”
“ Kemana…? aku benar – benar tidak tahu daerah ini. Aku takut. Aku tidak tahu sekarang aku berada dimana.” Annisa tidak mau melangkahkan kakinya.
“ Ayolah..sebelum gelap datang. Kita harus berjalan kaki sepanjang 25 kilometer menuju rumah ibuku.” Lelaki muda itu tetap memaksa.
“ Kenapa harus berjalan kaki ? aku tidak mau, kita bisa naik angkot atau bis.”
“ Ini bukan kota besar. Tak ada angkutan umum itu disini. Ini cuma desa. Ayolah..menyingkir dari sini.” Lelaki itu sudah tidak sabar sekarang, ia menyeret Annisa pergi dari tempat itu. Yang anehnya, kedua perempuan di seberang sana hanya memperhatikan lelaki muda itu. Nampaknya, tidak menyadari kehadiran Annisa di tempat itu.
“ Aku bisa lelah berjalan kaki sepanjang itu. Aku tidak mau.”
“ Terserah..kalau pengen di jahati orang malam – malam di sini.”
“ Kenapa aku harus ikut denganmu ? antarkan aku pulang saja ke rumahku.”
“ Heyy..apa – apaan ini, kamu datang sendiri ke tempat ini. Yach..pulanglah sendiri. Aku tak peduli dengan kamu, sudah terlalu banyak urusan hidupku.” Lelaki itu tetap berceloteh dan membuat Annisa harus ikut dengan lelaki itu menuju rumah ibu lelaki muda itu. Sedang Annisa sendiri tidak tahu jalan menuju pulang ke rumahnya. Annisa telah tersesat di kampung orang. Menyedihkan !.
*** B. E. R. S. A.M. B. U. N. G ***
Tangerang, 15 Maret 2010
" Friend...dont be sad all the time, wake up and see your future awaits !! "
Selasa, 26 Januari 2010
Bolehkah Aku Mencintaimu....?
Selesai mandi dan berpakaian rapi, Ayyu duduk di kursi makan. Melahap setangkap roti dan segelas susu coklat yang sudah disediakan mamanya dari pagi tadi. Mama Ayyu sudah berangkat ke pasar jam segitu. Papanya dan Alisha, kakaknya juga sudah berangkat duluan ke kantor. Tinggal Ayyu yang berangkat ke kantor naik bis kota. Karena percuma bareng Papa dan kakaknya, Ayyu tetap harus naik bis kota juga. Karena rute kantor Ayyu tidak searah dengan rute Papanya.
Di bis kota, penumpang begitu padat. Banyak penumpang yang berdiri sampai tak ada celah untuk menjejakkan kaki. Panas dan bikin keringatan. Maklum, bis kota non AC. Ayyu sesekali menghapus butiran keringat yang berjatuhan di keningnya. Entah kenapa, tiba-tiba supir bis berhenti mendadak tanpa SMS terlebih dahulu. Penumpang satu bis berteriak dan mengeluh. Bertanya pada kondektur bis, apa apa dengan bis kota ini. Sang kondektur memberi penjelasan bahwa bisnya mogok. Maklum, bis kota keluaran tahun jebot dan kurang terawat, padahal milik pemerintah. Akhirnya para penumpang terpaksa turun dari bis dengan 1000 keluh kesah, termasuk Ayyu.
Udah hari ini hari senin, ada meeting pagi sama bos, klien dan staff kantor, eh ada acara mogok lagi. Ayyu mengumpat dalam hati. Ya sudahlah….syukuri saja kejadian pagi ini, begitu Ayyu membatin. Ayyu berjalan kaki menuju halte bis kota, karena untuk mencapai kantornya, Ayyu harus naik bis kota lagi dan menempuh setengah jam perjalanan bis.
Arloji di tangan kanan Ayyu sudah menunjukkan pukul 07.00 pagi. Ketika hendak mencapai halte bis, Ayyu dikagetkan oleh suara seseorang dari belakangnya.
“ Maaf, Mba….,”
Ayyu menoleh. Seorang laki-laki muda sudah berdiri di hadapannya. Tinggi dan berbadan tegap. Pakaiannya rapi, dan berdasi. Laki-laki itu tersenyum manis. Ditambah wajahnya yang memang sudah manis. Dan Tatapan matanya tenang. Ayyu menatap laki-laki itu penuh curiga. Ada apa sih nih orang, koq senyum-senyum?. Aneh. Jangan-jangan mau nipu gue lagi. Pikir Ayyu.
“ Ada apa yach, Mas…?” tanya Ayyu bingung.
“ Bolehkah saya meminta pertolongan, Mba ?” laki-laki itu mengulurkan tangannya.
Ayyu menyambut tangan laki-laki itu dan berjabat tangan.
" Ya udah…ngomong aja mas, kelamaan tau pake basa-basi gitu..” Ayyu melepaskan tangan laki-laki itu. Sambil menjaga jarak berdiri. Takut dihipnotis. Seperti cerita teman-teman kantornya yang pernah Ayyu dengar.
“ Mobil saya mogok, bisa bantuin saya untuk dorong mobil, Mba ?”
“ Apaaaa….? “ Ayyu berteriak. Gila juga nih orang, masa perempuan kayak gue disuruh bantuin dorong mobil. Pake rok sepan lagi. Duhh…gak kasian banget sih dia.
" Maaf Mas…emangnya gak ada orang lagi yang bisa mas mintain tolong? tuh…lihat disana banyak laki-laki yang bisa bantuin mas….” Ayyu menunjuk pada kerumunan orang yang berdiri di halte bis. Tidak jauh dari Ayyu berdiri. Laki-laki muda itu malah tersenyum melihat sikap Ayyu.
“ Saya tidak bawa uang kecil hari ini, mba….cuma bawa kartu ATM saja, tidak mungkin khan kalau saya tidak memberikan upah sebagai ucapan terima kasih pada mereka.” Laki-laki itu menjelaskan dengan penuh keyakinan, berharap Ayyu mau membantunya dengan tulus.
“ Ohhh….gitu yach, oke….saya bantuin dech.”
Mendengar laki-laki itu berceloteh, Ayyu jadi kasihan. Gak ada uang kecil atau pelit sih nih orang?. Sungguh….terlalu! Begitu Bang Haji Rhoma pernah bilang.
Ayyu berjalan di belakang, mengikuti laki-laki itu menghampiri mobilnya. Di dalam mobil, di kursi depan, duduk seorang laki-laki paruh baya. Berpakaian setelan jas hitam dan berdasi. Hmm…mirip bos gue penampilannya. Bisik Ayyu dalam hati.
Laki-laki muda itu memperkenalkan Ayyu dengan atasannya. Dan akhirnya Ayyu dengan atasan laki-laki muda itu mendorong mobil sambil berdoa, agar mobil mereka segera hidup. Laki-laki muda itu memegang kemudi dan menyalakan starter mobil.
Setelah berjuang beberapa menit, mobil mereka pun hidup kembali. Laki-laki muda dan atasannya itu pun mengucapkan terima kasih pada Ayyu dan menawarkan jasa untuk mengantar Ayyu sampai ke kantor. Tapi, Ayyu tidak mau. Lebih baik naik bis kota. Biarlah terlambat sedikit ke kantor, dari pada harus ikut orang yang baru saja ia kenal. Dan tau-tau esok pagi wajahnya udah terpampang di Harian Ibukota dengan keadaan yang mengenaskan. Hiii….amit-amit dech. Ujar Ayyu dalam hati.
Pukul 08.00 pagi meeting perusahaan telah dimulai. Telah berkumpul Pimpinan Perusahaan, Sekretaris, Team Marketing, Team Desain Graphis, Akunting dan Staf pengiriman.
Klien yang ditunggu belum datang juga. Sebelum klien datang, Pimpinan Perusahaan tempat Ayyu bekerja menjelaskan terlebih dahulu garis besar proyek yang akan mereka kerjakan bersama klien yang sedang ditunggu-tunggu itu.
Pintu ruang meeting diketuk dari luar. Ayyu bangkit dan membukakan pintu. Ketika pintu terkuak, Ayyu terbelalak kaget. Begitu juga dengan 2 orang tamu di hadapannya. Namun, Ayyu tetap memberikan senyum terbaiknya pagi itu untuk mereka. Dan mempersilakan mereka berdua memasuki ruangan meeting.
Acara meeting berjalan lancar dan mulus selama 2 jam. Dan menghasilkan Penanda tanganan Kontrak Kerja antara kedua belah pihak. Proyek besar yang akan menghasilkan keuntungan dengan angka yang sangat fantastis ini menciptakan senyum yang sangat merekah bagi kedua belah pihak.
**********
“ Mau pulang jam berapa, Yu?” Dudul menghampiri meja kerja Ayyu yang bersebelahan, karena disekat partisi setengah badan.
“ On time, bro…!” Ayyu menjawab sambil menon aktifkan PC nya.
“ Caelah…tumben Non…biasanya lembur kalau hari senin.” Dudul tertawa.
“ Mau kemana sih? gue gak diajak nih….? nonton sama Shayuri? makan sama Erna? atau belanja baju sama Yurika ? ikut yach, Yu?” Dudul menggoda. Emang Dudul, sobat Ayyu yang gokil. Kemana pun Ayyu pergi selalu mau ikut. Maklumlah, Dudul juga masih jomblo seperti Ayyu. Seneng cuci mata bareng di mal selepas jam kerja berakhir.
“ Gue gak kemana-mana, Dul. Mau pulang ke rumah. Istirahat…cape banget hari ini.”
“ Kalo gitu, gue anterin yach…?” Dudul menawarkan bantuan.
“ Dengan senang hati, baik banget loe, Dul! sampe depan rumah yach…?” Pinta Ayyu manja.
“ Okkelah kallau beggittu….” Sahut Dudul dengan logat jawa medok, menirukan gaya Grup Band Warteg Boys.
Ayyu tertawa terbahak-bahak. Mereka berdua pun meninggalkan ruangan kantor dan menuju lantai dasar gedung perkantoran dengan melalui lift.
Pintu lift lantai 20 terbuka. Di dalam lift sudah berdiri 2 orang perempuan, dan 1 orang pria. Ayyu dan Dudul memasuki lift dengan masih tertawa-tawa kecil. Obrolan apa aja yang mereka percakapkan setiap hari pastinya bisa membuat mereka tertawa-tawa. Mereka udah mirip Beny And Mice, kartunis Indonesia yang lucu abis.
Saking serunya mereka berdua bercakap-cakap, pria yang berdiri dibelakang Ayyu menegur Ayyu.
“ Kelihatannya lagi seneng banget sore ini, Mbak Ayyu….”
Upss….! Ayu menengok ke belakang. Tatapan matanya lekat ke pria itu.
“ Eh…Mas Arya…aku kira siapa, maaf Mas Arya….aku gak lihat Mas tadi……” Ayyu jadi tersipu malu ditegur pria itu. Karena Pria itu adalah klien perusahaan yang tadi pagi meeting bersamanya. Dan pria itu juga yang meminta pertolongan Ayyu tadi pagi karena mobilnya mogok. Yach…ketauan gokilnya dech gue, padahal waktu meeting tadi gue udah jaim abis di depan dia. Kata Ayyu dalam hati.
Pria yang di panggil Arya hanya tersenyum. Senyumnya manis banget. Kelihatan kharismanya yang simpatik. Ayyu jadi salah tingkah dikasih senyum oleh Arya. Mudah-mudahan aja Dudul enggak respon dengan perubahan sikap gue ini. Bisa di ledekin abis entar di mobilnya Dudul. Begitu pikir Ayyu.
“ Kalau Mbak Ayyu enggak keberatan…, saya mau mengantarkan Mba pulang, sebagai balasan ucapan terima kasih saya tadi pagi.” Arya menawarkan jasa.
“ Owh…makasih banyak Mas.., saya bareng temen saya. kenalin..namanya Dudul.”
Dudul mengulurkan tangan dan Arya menjabatnya. Dudul, emang enggak kenal Arya. Karena seharusnya ia tadi ikut meeting. Cuma Dudul ada urusan check up kesehatan ke dokter dulu pagi tadi.
“ Cie…udah kenal yach kalian berdua? Sebelum meeting dimulai? Dimana Yu...koq tak cerita sih?” Dudul menyikut lengan Ayyu. Ayyu cuma senyum-senyum.
“ Mobil saya mogok tadi pagi DuL, kebetulan Bos saya juga mobilnya lagi di bengkel. Jadi ke kantor hari ini pakai mobil saya. Eh…ketemu Mba Cantik dan Penolong ini…” Ucapan Arya membuat Ayyu jadi terbang di ruangan lift. Kenapa juga cowok ini begitu hiperbola sih? Umpat Ayyu. Gak lucu banget bikin gue jadi enggak enak hati, disanjung seperti itu.
“ Jadi Ayyu bantuin kamu dorong, Ya…?” Dudul tertawa.
“ Yach…begitulah, Dul.” Arya tertawa juga. Ayyu cuma melipat bibirnya, menahan tawa. Emang gokil nih cowok berdua. Seneng amat denger cewek dorong mobil. Jadi bahan leluconan lagi. Ayyu menggerutu.
Untungnya Pintu lift sudah terbuka lebar. Tibalah mereka di lantai dasar. Dudul menyarankan Ayyu untuk ikut Arya. Karena Dudul tau banget, cowok ini lagi naksir sobat manisnya. Alangkah bahagianya hati Dudul bila Ayyu bisa membuka hatinya untuk Arya. Sejak berakhirnya kisah asmara Ayyu dan Pranata 1 tahun lalu, Ayyu menutup pintu hatinya rapat-rapat untuk semua cowok yang mendekatinya. Pranata pergi meninggalkan Ayyu karena berselingkuh.
Ayyu tetap pada pilihan pertamanya, pulang bareng dengan Dudul. Lagi pula masih ada hari esok koq untuk kenal dengan Arya lebih dekat. Begitulah penjelasan Ayyu pada Arya. Mereka pun berpisah untuk bertemu kembali esok pagi.
**********
Ayyu begitu sibuk hari ini. Semua deadline pekerjaan telah diserahkan ke Manager Keuangannya. Siap untuk diperiksa dan dikoreksi bila ada kesalahan. Pesawat telepon di meja Ayyu berdering terus dari pagi. Banyak klien kantor yang mau membayar hutang-hutang jatuh tempo yang sudah di follow-up Ayyu sejak 1 minggu lalu. Kerja keras yang membuahkan hasil. Gak sia-sia Ayyu setiap hari mulutnya sampai berbusa hanya untuk meneriakkan dua kata, BAYAR DONG....!.
“ Yu.…line 1 buat kamu yach,,” Suara Alin, Customer Service.
“ Yupz…makasih, Lin.” Jawab Ayyu. Tanpa bertanya telepon dari siapa.
“ Hai Yu…,” suara seorang cowok menyapa dari seberang sana.
“ Ya betul…siapa nih?” Tanya Ayyu tanpa menaruh curiga.
“ Arya Kusuma.” cowok itu menjawab lembut.
Ayyu tersentak kaget. Lalu diam sesaat. Gak menyangka kalau Arya akan menghubungi ia siang ini.
“ Yu….aku udah di depan kantor kamu nih…kamu ke depan yach,” Arya menutup teleponnya tiba-tiba tanpa permisi.
Ayyu masih bingung dengan telepon Arya. Apa maksudnya sih, nelepon tapi cuma ngomong aku udah didepan kantor. Norak banget. Kalau mau ke kantor yach datang aja langsung, wong satu gedung. Pake pemberitahuan segala. Dia kan Desain Grafis? Apa hubungannya sama gue yang orang akunting?. Kalau mau bahas soal proyek yach sama Dudul kali tepatnya.
Dalam kebingungan, Ayyu segera menemui Arya di depan kantor. Arya tersenyum melihat Ayyu yang masih kaget dan gugup. Alin mempersilakan Arya duduk, tapi Arya tetap mau berdiri.
“ Makan siang bareng yuk…?” Ajak Arya dan terus memandangi wajah Ayyu yang memang ayu dengan rambut hitam panjangnya yang terurai melebihi bahu.
Ayyu jadi salah tingkah. Kenapa sih cowok ini selalu kasih surprise buat gue? Kenapa sih gue gak bisa menghindari tatapan matanya yang tenang itu? tanya Ayyu dalam hati.
“ Belum jam makan siang, Arya.” Ayyu berkelit. Malu banget rasanya dikasih kejutan didepan Alin dan Pak Tejo, Security kantor.
“ Hahaha… jam tangan kamu rusak yach, Yu..?” Arya menggoda sambil meraih tangan kanan Ayyu. Ayyu cuma diam saja. Gak bisa berbuat apa-apa. Ia udah malu dan gak bisa menutupi wajahnya yang merah merona karena diperlakukan Arya seperti itu.
“ Udah jam 12 lewat 10 menit koq, Mbak Ayyu.” Pak Tejo jadi ikutan dech, menambah daftar salah tingkah Ayyu. Ayyu cuma tersenyum malu melihat jarum jam arloji di tangannya. Arya dan Pak Tejo gak salah. Gue lah yang lupa kalo udah waktunya jam makan siang. Saking keenakan kerja.
“ Gimana, Yu..?” Arya bertanya lagi pada Ayyu. Tatapan matanya seolah memohon agar Ayyu mengabulkan tawaran baiknya. Tetap masih memegang lengan Ayyu erat.
“ Baiklah…, tapi tolong lepaskan tangan aku, please…” Akhirnya Ayyu menyanggupi penawaran Arya. Arya melepas lengan Ayyu dan mereka berjalan menuju lantai 15 melalui lift.
Di dalam lift, hanya Arya dan Ayyu. Tak ada kata yang terucap dari bibir mereka berdua. Ayyu hanya diam kayak patung batu. Matanya terus menatap tombol-tombol lift yang terus menyala bergantian. Rasanya tidak sabar untuk segera tiba di Food Court gedung ini. Agar kebisuan dan suasana dingin dan kaku beku kayak di Lautan Antartika ini segera berakhir. Sedangkan Arya tidak berkedip sedikitpun menatap Ayyu dari arah samping, dengan berdiri di pojok lift. Dan dengan posisi kedua tangan melipat di dada. Seperti mendapat durian runtuh, suasana hati Arya saat itu. Bisa mengajak Ayyu ke kantin Gedung Perkantoran, walaupun dengan cara yang cukup membuat shock gadis ayu itu.
Mereka telah berada di lantai 15, di Food Court ENAK GILA. Sangat mengejutkan sekali suasana siang ini di kantin kantor. Semua orang udah pada duduk rapi di kursinya masing-masing. Semuanya menatap ke Ayyu dan Arya. Tak ditemukan kursi yang kosong disana. Semuanya terisi penuh. Dan yang aneh lagi, ada live musicnya. Biasanya juga gak ada. Ada penyanyi wanita dan laki-laki pemain keyboard sedang menyenandungkan lagu “ Karena Ku Cinta Kau “ milik Bunga Citra Lestari.
“ Selamat datang…Ayyu dan Arya!” Tiba-tiba Shayuri menyapa dengan gaya centilnya membawa kotak berwarna putih.
Ayyu terperanjat melihat teman baiknya, Shayuri ada di kantin ini. Padahal tadi masih sibuk dengan urusan loby-meloby klien via telepon, sebelum Ayyu keluar menemui Arya.
“ Hai….Ayyu….Hai Arya….!” Sekarang Erna, Yurika, Alin dan Dudul menyapa serempak mereka berdua. Entah mereka datang dari mana. Tau-tau sudah muncul di depan Ayyu.
Arya cuma tersenyum bahagia. Kejutan demi kejutan dipersembahkannya untuk Ayyu dengan sempurna tanpa memberi kesempatan Ayyu untuk melontarkan pertanyaan kepadanya.
Arya meraih tangan Ayyu dan membawa Ayyu ke depan. Ayyu hanya menurut saja seperti kerbau yang dicucuk hidungnya. Tidak berontak atau marah, Arya menggenggam tangan Ayyu erat. Ayyu diberi tempat duduk di depan di dekat panggung. Kursi yang sudah disiapkan dengan manisnya oleh sahabat-sahabat Ayyu dan Arya.
Arya naik ke atas panggung dan mengambil mikrofon.
“ Makasih atas kehadiran seorang gadis manis bernama Ayyu disini…” Arya menghentikan ucapannya, karena tepuk tangan riuh dari teman-temannya yang memenuhi 40 buah kursi di Food Court ENAK GILA itu.
“ Mohon maaf kepada Ayyu yang telah aku jemput tiba-tiba, hanya untuk hadir di tempat ini dan merayakannya bersama aku dan teman-teman. Ketahuilah Ayyu…bahwa aku sudah lama mengagumi kamu..., sejak 1 tahun lalu, sejak kamu sering makan di Food Court ini bersama teman-teman terbaikmu. Aku tak punya keberanian untuk mendekati kamu, karena melihat sikap kamu yang terlalu cuek. Aku tak pandai berkomunikasi dengan wanita sepertimu. Aku takut tertolak oleh kamu. Kejadian kemarin pagi pun, ketika mobil ku mogok, itu skenario dari teman-teman terbaikmu. Agar aku bisa mengenalmu secara tidak disengaja. Dan sengaja pula aku mengikutimu dari rumah, sampai akhirnya ku lihat bis yang kamu naiki mogok. Aku menemani bos ku meeting pun, sebenarnya hanya menggantikan posisi teman aku yang kebetulan tidak masuk. Aku senang sekali, bisa lihat kamu hari itu lebih lama. Pertemuan kita di lift pun…sudah diatur teman-teman terbaikmu dengan rapi.” Arya turun ke bawah dan membawa Ayyu yang masih terbengong-bengong, naik ke atas panggung.
Teman-teman Arya dan Ayyu bertepuk tangan sangat riuh dan menyanyikan lagu “ Happy Birthday” secara bersama-sama. Arya membuka kotak putih yang tergeletak di dekat mikrofon.
Ternyata, Black Corest Cake dengan 27 lilin kecil berwarna-warni menghias diatasnya. Arya meniup bersih lilin-lilin itu tanpa tersisa. Tepuk tangan riuh kembali menggema di ruangan itu. Dan Arya meminta kepada Ayyu yang dari tadi tersenyum-senyum, membacakan kata-kata yang tertera di Black Forest Cakenya. Bahwa itulah ungkapan hatinya yang terpendam untuk Ayyu selama 1 tahun.
Dengan suara gemetar Ayyu membacakannya untuk Arya….Bolehkah....Aku.....Mencintaimu....?. Suara riuh kembali lagi melengkapi kebahagiaan Arya dan Ayyu hari itu.
Ayyu diam sesaat…dan mengambil mikrofon yang dipegang Arya. Semua yang hadir terdiam. Menanti jawaban mendebarkan dari Ayyu yang sudah menutup pintu hatinya rapat-rapat untuk pria manapun.
“ Gak ada salahnya…bila…aku membuka…hatiku…untukmu, Arya..” Terbata-bata Ayyu mengungkapkan isi hatinya pada Arya dan pada semua yang hadir di ruangan itu.
Semua yang hadir disana langsung berdiri dan memberi tepukan tangan yang sangat meriah. Siulan dan teriakan-teriakan heboh dari para tamu yang hadir mewarnai kebahagiaan Arya dan Ayyu. Tanpa merasa malu dan takut lagi, Arya langsung memeluk erat tubuh Ayyu.
Dan sebuah lagu romantis pun berkumandang syahdu mengawali Kisah Cinta mereka berdua.
**********
Jakarta, 19 Desember 2009
at. 02.30 a.m
Coretan keduaku.
Langganan:
Postingan (Atom)


