Semua Impian kita bisa menjadi kenyataan, jika kita memiliki keberanian untuk mewujudkannya. Apapun yang dapat kita impikan, mulailah sekarang juga!
Tampilkan postingan dengan label Cerpen Cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen Cinta. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 27 Maret 2010
Cinta Membasuh Luka ( Luka Disini Part 2 )
Annisa terpaksa memilih mengikuti langkah lelaki muda itu yang hanya mengenakan sandal jepit. Ada perasaan ketakutan yang mencekam bertarung di benak Annisa. Ingin rasanya meminta pertolongan seseorang, agar bisa mengantarkan Annisa pulang ke rumah, atau minimal Annisa dapat kembali ke hotel, tempat ia mengikuti training kerja. Tiba – tiba Annisa teringat dengan telepon selulernya yang biasa ditaruh di saku celana panjangnya. Annisa merogoh saku celananya. Ohh…Tuhan !! Tak ada satu ponsel pun yang berada di dalam saku celana panjangku !. Annisa berteriak histeris dalam hati.
Annisa mulai bingung. Tentu saja bertambah takut. Sekarang dia berada di sebuah desa yang tidak ia kenal secara pasti dan bersama lelaki muda yang baru saja ia kenal di pesawat siang tadi. Lelaki muda yang berjalan di sampingnya dengan langkah kaki 2 kali lebih cepat dari Annisa, tidak mempedulikan kebingungan dan ketakutan Annisa.
“ Hei…kamu koq diam saja ? tidak lihat ponselku ? tadi sewaktu di hotel saat bertemu kamu di acara training, aku letakkan di saku celanaku sebelah kanan. Tapi, sekarang tiba – tiba menghilang.” Annisa menghentikan langkahnya.
Lelaki muda itu pun berhenti. Menundukkan kepalanya sejenak dan meletakkan kedua tangannya di kedua lutut. Seperti kecapekan berjalan kaki.
“ Hotel…? training ? kapan itu ? Eh..dengar yach gadis manis…aku aja baru ketemu kamu lagi malam ini, di sini. Kapan kita ketemu di hotelnya ? Mengigau yach kamu…? Training apa ? udahlah…aku antar pulang yach ke rumah kamu, aku masih ingat koq.” lelaki muda itu menarik lengan Annisa.
“ Lepaskan Satrio…! Aku ada dimana sekarang…?? Aku gak kenal daerah ini !” Annisa menepis lengan lelaki muda itu. Lelaki muda yang dipanggil dengan nama Satrio itu melepaskan tangan Annisa. Lalu berjalan ke pinggir jalan dan menghempaskan tubuhnya di atas tanah. Duduk dengan kedua kaki diluruskan ke depan. Mata Annisa hanya mengikuti gerakan Satrio. Tak ada kendaraan apapun yang melintasi jalanan yang kini sedang mereka jadikan tempat peristirahatan. Sepi, senyap, dan gelap. Tak ada lampu penerangan di pinggir jalan, kecuali berasal dari rumah penduduk yang saling berjauhan jaraknya. Disebelah kiri jalanan desa itupun dihiasi dengan hamparan sawah yang luas. Bukan dengan gedung – gedung tinggi atau pusat perbelanjaan.
“ Ayoo cah ayu…duduk dulu sini…, aku bingung sama kamu.” Lelaki muda itu menyuruh Annisa duduk di sampingnya. Annisa menggeleng. Lelaki muda itu menggaruk – garuk kepalanya.
“ Sebenarnya kamu ngapain sih di depan rumahku barusan ?”
“ Seharusnya pertanyaan itu untuk aku. Kenapa kita tidak berada di hotel sekarang ? kenapa berada ditempat ini ?” Annisa hanya berdiri sambil mendekap blazernya erat. Hawa dingin telah merasuki tubuhnya. Bibirnya pun bergetar, dan dari mulutnya seperti mengeluarkan kepulan asap berwarna putih.
Lelaki muda itu hanya memandang Annisa iba. Pakaian yang dikenakan oleh lelaki muda itupun tidak cukup untuk melindungi Annisa dari udara dingin yang menyergap.
“ Akuuu….pengen nangis, Satrio…! kejadian ini aneh sekali. Aku baru kenal dengan kamu, dan sekarang aku tersesat di kampung orang, yang sama sekali aku tidak tahu. Alat komunikasi pun aku tidak ada. Bagaimana aku bisa tidak bersedih, bingung dan sangat takut sekali ?.” Annisa akhirnya menghempaskan tubuhnya yang letih bertanya. Di pinggir jalan itu, di samping Satrio. Kini mereka berdua sedang dalam kebingungan. Annisa menelungkupkan wajah dan tangannya di kedua lutut kaki yang dihimpitkan.
“ Aku malah seneng ketemu sama kamu cah ayu.., setelah sekian lama…kita berpisah. Justru aku bingung, kenapa kamu bisa tiba – tiba ada di depan rumahku tadi ?.” Lelaki muda itu melemparkan pandangannya ke arah Annisa. Annisa mengangkat wajahnya seketika.
“ Apaa Satrio…? sekian lama kita berpisah…? Kita pernah bertemu sebelumnya ?”
Annisa mengguncang - guncangkan tubuh lelaki muda itu. Lelaki muda itu hanya tersenyum tipis.
“ Yach…di desa ini. 15 tahun silam. Di bangku Sekolah Dasar. Kita satu kelas selama 2 tahun, kamu baik sekali padaku saat itu. Tapi sayangnya….,” Lelaki muda itu menghentikan kisah tentang Annisa.
Mata Annisa terbelalak mendengar kata – kata lelaki muda di sampingnya yang masih menatap Annisa. Lelaki muda itu ternyata pernah mengenalnya. Tapi, mengapa Annisa tidak pernah mengenal lelaki muda itu ?. Ya …Tuhan, ada apa dengan aku ?. Jerit hati Annisa.
“ Tapi apa Satrio…?” Annisa penasaran. Ditatapnya wajah Satrio. Annisa mencoba menggali memorinya 15 tahun silam, memori tentang Satrio, tentang sekolah dasarnya. Namun sayang sekali, Annisa tak menemukan apa – apa disana. Tak ada yang bisa dikenang Annisa, apalagi tentang Satrio.
“ Kamu meninggalkan aku…, aku sedih sekali saat itu. Aku hanya berteman dengan kamu selama 2 tahun, begitu dekat dan akrab. Kamu selalu membela aku, bila ada teman lain yang mengganggu aku atau mengejek aku, karena badanku yang kecil, kurus dan rambutku yang keriting seperti orang negro. Kamu adalah anak perempuan yang pandai dalam menghitung angka dan menghapal pelajaran. Dan ketika kamu pindah bersama orang tua kamu ke Jakarta, aku benar – benar kehilangan kamu...aku menjadi orang yang sangat cengeng sekali, tak ada lagi teman yang membela aku. Tak ada lagi teman yang naik sepeda bersama dengan aku. Tak ada lagi teman yang menghibur aku kalau aku lagi sedih. Tak ada lagi teman yang nemenin aku makan roti saat waktu istirahat tiba. Duniaku serasa berakhir cah ayu…! Mengerikan ! Sampai akhirnya datang seorang teman laki – laki pindahan dari kota gudeg, dan menjadi sahabatku hingga kini.” mata lelaki muda itu menjadi berkaca – kaca.
“ Manis dan indah sekali kenangan tentang aku yach Satrio.., wajahku yang dulu dengan yang sekarang apa sudah berubah ?” tanya Annisa.
“ Wajahmu masih tetap seperti dulu koq, nanti lihatlah di rumah. Tak ada yang berubah. Hanya sekarang tubuhmu tinggi hampir menyamai tubuhku. Tapi, dimataku…kamu tetap teman yang selalu ada di hatiku, sampai kapanpun.”
“ Sekarang, giliran kamu yang bercerita…kenapa bisa ada di depan rumahku tiba – tiba, dan seperti orang kebingungan, tak kenal daerah ini dan tak tahu jalan pulang ke rumah ?” Lelaki muda itu menatap Annisa tajam, dengan melemparkan pertanyaan.
“ Nanti saja akan aku jelaskan setibanya di rumah kamu, aku kangen mau lihat foto – foto aku semasa SD. Masih kamu simpen khan, Satrio..?” Annisa bangun dari duduknya. Satrio membantunya berdiri. Mengulurkan tangannya.
“ Kalau aku lelah berjalan bagaimana Satrio…? “ Annisa bertanya.
“ Tenang saja cah ayu…akan aku gendong. Tapi gantian yach…! Tunggu sebentar…aku hubungi Om ku dulu, biar dia bisa jemput kita disini.” Satrio mengeluarkan ponsel dari dalam saku celana pendeknya. Annisa hanya memperhatikan saja, kenapa tadi ia tidak pinjam saja dengan Satrio yach untuk menghubungi keluarganya ?. Ternyata, aku benar – benar terlempar ke masa lalu Satrio, yang ternyata teman masa kecilnya. Lalu ada apa Tuhan mengirimkan aku ke sini, ke masa lalu Satrio ?.
Ya…aku akan mencari tahu. Aku akan mengikuti skenario yang telah Tuhan buat untuk aku. Apapun yang aku alami setelah malam ini disini, aku ikhlas menjalaninya. Menerimanya walaupun pahit. Tuhan pasti punya sesuatu rencana yang tidak pernah aku mengetahuinya. Annisa berharap, itu adalah sebuah kebaikan dari Tuhan.
**********
Sesampainya di rumah Satrio, Annisa begitu terpana dengan keadaan rumah Satrio. Tak ada yang berubah dari isi rumah ini. Sama seperti dengan keadaan Annisa kecil. Di ruang tamu terpampang foto Satrio dan keluarganya, ada foto Annisa juga bersama Satrio sedang duduk di kursi yang sekarang Satrio duduki. Annisa memperhatikan foto itu dengan seksama. Annisa sedang memegang sebuah boneka berambut pirang yang di kuncir dua. Sedangkan Satrio merangkul pundak Annisa dengan erat. Annisa tersenyum bahagia sekali melihat kemesraan foto itu. Apalagi melihat tubuh Annisa yang gendut kala itu dengan rambutnya yang pendek. Satrio hanya memandangi Annisa penuh rasa heran.
“ Ayoo..Nisa..aku tunjukkan kamar untuk kamu beristirahat, esok pagi aku antar kamu pulang ke rumahmu. Ke Jakarta.” Satrio duduk di kursi tamu yang terbuat dari kayu jati jepara.
Annisa menganggukkan kepalanya. Lalu mendekat duduk di samping Satrio.
“ Hmm…aku benar – benar berada di sini, di masa laluku…Satrio!” Annisa berteriak kegirangan. Rambut Satrio diacak - acaknya. Satrio hanya tertawa – tawa. Gadis yang aneh. Pikir Satrio.
“ Antarkan aku ke kamar, Satrio…,”
“ Aku siapkan handuk dan aku buatkan air hangat yach, Nis…, mau khan..?”
“ Hmm…boleh dech..jarang – jarang khan aku mampir ke sini yach..!” Annisa mencubit bahu Satrio. Satrio tersenyum.
“ Mmmuachh….,” sebuah kecupan mendarat dengan mulusnya di pipi kiri Annisa.
Annisa menjadi kaget, lalu menolehkan wajahnya ke hadapan Satrio. Dan Satrio sudah siap dengan bibirnya yang menyentuh tipisnya bibir Annisa. Tanpa permisi lagi, Satrio mencium dengan lembut bibir Annisa, dirasakannya kehangatan yang belum pernah ia rasakan, dari bibir seorang gadis yang sangat
disayanginya sejak kecil. Satrio menciumi bibir Annisa tanpa memberi kesempatan Annisa untuk menolak atau mengajukan pertanyaan atas tindakan spontannya itu. Annisa hanya menikmati saja sentuhan
yang tidak pernah diduganya. Bermimpi pun tidak.
Satrio telah melepaskan kecupan terhangatnya di bibir Annisa. Dikecupnya kening Annisa dengan penuh kasih sayang. Satrio benar – benar telah melepaskan rasa rindunya pada gadis manis yang pernah menjadi sobat kecilnya itu. Bahkan Satrio pun tidak bisa mempercayai, mengapa Tuhan mengirimkan Annisa tiba – tiba malam ini di rumahnya. Keajaiban yang selama ini selalu diimpikan Satrio. Mau mencari Annisa dimana ? Jakarta sangatlah luas. Gadis manis itu pindah tanpa meninggalkan alamat untuk Satrio.
“ Terima Kasih cah ayu…,” Satrio membelai wajah Annisa. Annisa memegang tangan Satrio. Dilingkarkan di pinggangnya. Satrio hanya menurut saja. Lalu Annisa memeluk tubuh Satrio. Erat dan sangat erat. Satrio membalas pelukan Annisa. Dipeluknya pula tubuh Annisa erat.
“ Memoriku telah kembali…kamu memang sahabat kecilku, Satrio. Aku selalu merindukanmu setiap saat, ingin sekali bertemu dengan kamu. Tapi, aku pun tidak pernah ada kesempatan untuk bertemu dengan kamu. Wajah dan penampilan kamu sekarang sudah berubah drastis, aku benar – benar tidak mengenali kamu. Terima kasih Tuhan…! Kau hadirkan aku disini.”
Lalu Satrio mengajak Annisa masuk ke kamarnya. Untuk beristirahat terlebih dahulu.
“ Silakan istirahat Annisa…aku kebelakang dulu, bikin air hangat untuk kamu. Maaf, aku tidak bisa mempertemukan kamu dengan mama sekarang, karena mama sedang tidur.”
Satrio pamit meninggalkan Annisa sendirian di dalam kamarnya. Annisa duduk di kasur yang berukuran 120 x 100 cm, dengan terbalut sprei berwarna biru muda. Annisa mulai menjelajah isi kamar itu. Di dinding kamar yang berukuran 4 x 3 meter itu, banyak dihiasi foto – foto Satrio kecil, remaja dan dewasa. Ada juga foto seorang wanita cantik yang berdiri di sebelah Satrio. Annisa menjadi penasaran. Di raihnya pigura itu. Ditatapnya foto itu sangat lama. Annisa tidak mengenali wajah wanita cantik di foto itu, yang berambut panjang. Tiba – tiba saja mata Annisa seperti tersedot oleh putaran ombak yang kencang, teramat kencang dan Annisa terhempas tanpa ampun di sebuah rumah yang sangat mewah !.
Sebuah rumah mewah dimana pertama kali Annisa melihat Satrio. Annisa sekarang sudah berada di dalam pekarangan rumah itu. Dengan mengendap – endap Annisa memasuki rumah mewah yang bergaya klasik itu dengan warna cat coklat keemasan. Disebelah kanannya terdapat garasi mobil yang cukup luas, di sebelah kirinya terdapat taman indah yang sangat menyejukkan mata Annisa dengan aneka macam tanaman hias, yang boleh dikatakan sangat tidak murah harganya. Annisa mulai memasuki teras rumah itu, lalu dengan memberanikan diri Annisa memberi salam dan mengetuk pintu rumah, yang mirip sekali dengan pintu gerbang istana. Tak ada sahutan dari dalam rumah itu. Annisa menarik handel pintu, dan mendorongnya dengan mudah. Ternyata, rumah itu tak terkunci. Annisa melangkahkan kaki ke dalam ruangan perlahan. Begitu mewahnya seluruh isi furniture di dalam rumah itu. Hampir mirip dengan rumah – rumah yang ada di dunia sinetron Indonesia. Nyaris sempurna !.
Tiba – tiba dari dalam sebuah kamar terdengar sebuah suara ribut – ribut yang bukan saja di ramaikan oleh 2 orang, tapi lebih. Untuk menuntaskan rasa penasarannya, Annisa segera beranjak ke arah kamar itu. Setibanya disana. Annisa melihat Satrio berdiri dengan berkacak pinggang dan dengan wajah yang dipenuhi angkara murka ke arah wanita cantik yang dilihat Annisa di foto dikamar Satrio tadi.
Wanita cantik itu menangis tersedu – sedu, mendengar amarah dari mulut Satrio. Sedangkan ada seorang laki – laki di dalam kamar itu, yang ketampanannya tidak melebihi Satrio berdiri memegangi tubuh wanita cantik itu. Laki – laki itu memeluk tubuh wanita cantik itu. Annisa hanya terperanjat melihat kejadian itu, Wanita cantik itu hanya memakai pakaian dalam seadanya saja. Dan laki – laki yang berdiri disebelah wanita itu pun hanya memakai pakaian dalam lelaki saja, yah seadanya pula. Sangat memalukan !!. Annisa tetap berdiri mematung di depan pintu kamar itu. Tiada satupun manusia di dalam kamar itu yang melihat keberadaan Annisa di tengah – tengah mereka.
“ Aku ceraikan kamu, hari ini juga…Vivie ! dan kamu, bawa isteriku pergi dari rumah ini segera ! sebelum aku berubah pikiran untuk menghabiskan nyawa kalian berdua !!”
“ Maafkan aku Mas Satrio…, “ wanita cantik itu memohon di kaki Satrio.
“ Tak ada lagi. Habis sudah kesabaranku. Segera pergi dari rumah ini !” Satrio mengusir mereka berdua dari rumah itu.
Kepala Annisa menjadi pusing melihat kejadian itu, lalu diusapnya keringat yang menetes di keningnya. Ternyata, kepalanya semakin pusing dan pusing. Annisa jatuh ambruk, lalu tak sadarkan diri. Dibukanya perlahan matanya, Annisa terbelalak. Didepan Annisa sudah berdiri seorang perempuan setengah tua sedang menampar Satrio dan meludahi wajah Satrio. Ingin rasanya Annisa menampar balik perempuan yang setengah rambutnya sudah dipenuhi uban itu.
“ Tak ada lagi hak kamu di sini ! rumah ini sudah menjadi milik putriku. Begitu pula dengan mobil milik kamu. Kamu boleh pergi dari rumah ini sesuka hati kamu!” perempuan setengah tua itu berteriak kencang.
“ Putri ibu telah mengkhianati saya, berpacaran kembali dengan mantan pacarnya. Dia merayu saya dahulu untuk menikahi dia, tapi sekarang semua harta saya mau dia kuasai juga. Putri ibu adalah perempuan yang serakah, sangat tamak dan tidak memiliki hati.” Satrio tak mampu lagi menahan amarahnya yang menggelegak.
“ Terserah kamu mau bicara apa. Aku tak peduli. Salah kamu menceraikan anak saya!”
“ Itu lebih baik bu..dari pada saya dikhianati tanpa berujung, perih yang putri ibu buat telah membuat luka yang sangat menganga disini bu..di hati saya. Tak ada yang bisa saya ucapkan malam ini, selain semoga ibu dan putri ibu, suatu hari akan merasakan luka batin saya. Sepanjang hidup saya. Tak ada satupun makhluk yang bisa lolos dari pengawasan Tuhan dan pengadilan Tuhan bu…,”
Perempuan setengah tua itu tiba – tiba meludahi wajah Satrio. Dan keluar dari dalam rumah seorang wanita cantik yang bernama Vivie itu. Ikut juga memaki Satrio.
“ Kenapa masih disini…?” wanita cantik itu melototkan matanya.
“ Ini rumahku, kubeli dari tabunganku sendiri semasa aku kuliah, seharusnya kamu malu karena menguasai hartaku bersama orang tua kamu. Kamu telah menghianati aku. Tidak sadarkah kamu…? Kamulah yang seharusnya pergi dari rumah ini ! kenapa kembali lagi ke rumah aku ?”
“ Hei..lupakah kamu, kamu telah memiliki anak di janinku yang berusia 3 bulan ? jadi rumah ini adalah untuk anakmu juga nantinya.”
“ Masih dengan mudahnya kamu berkata itu anak aku ? kamu berhubungan dengan kekasih kamu juga dengan aku. Sampai kita menikah kamu masih saja berhubungan dengan dia. Apa masih mungkin anak itu adalah anak aku ?”
“ Sudahlah..pergi sana, malas aku ribut dengan kamu !” Vivie mengusir Satrio dengan mudahnya dari rumah Satrio sendiri.
**********
Annisa seperti terbangun dari mimpi. Tiba – tiba saja, Annisa sudah berada di dalam kamar Satrio lagi. Satrio memanggil nama Annisa dari luar kamar. Ternyata Satrio sudah berada di depan teras rumah. Dengan memeluk gitar di dadanya yang atletis. Dipetiknya tali – tali gitar dengan penuh kelembutan, dilantunkannya sebuah lagu yang terdengar sangat menyayat hati. Annisa duduk berhadapan di depan Satrio. Memperhatikan wajah Satrio yang murung, selepas keributan di rumah mewah itu. Sedangkan gemericik air hujan di luar menambah syahdu suasana hati Satrio, menambah daftar luka di hatinya. Annisa turut merasakannya. Satrio memang tidak menceritakannya pada Annisa, namun perjalanan waktu ini yang membawa Annisa ke dalam setiap sudut masalah Satrio. Apa yang bisa Annisa lakukan untuk Satrio, sahabat semasa kecilnya ini ? lompatan waktu ini tidak boleh berakhir begitu saja tanpa usaha Annisa. Dulu Satrio selalu bisa berbagi dengan Annisa di masa kecilnya, kenapa sekarang Annisa tidak bisa melakukan hal yang sama untuk Satrio ?.
“ Jangan terus bersedih hati Satrio…lepaskan beban itu dari hatimu, biarkanlah coretan diary hatimu berakhir di sini. Tiada lagi kasih sayang yang patut kamu pertahankan, untuk kamu perjuangkan, biarkan cintamu pada dia, terkubur dalam di hari ini. Kamu bisa mendapatkan cinta yang lebih baik dari dia, suatu hari nanti…asalkan kamu yakin dan terus berusaha untuk mencari cinta sejati kamu, Satrio.” Annisa mengusap lembut bahu Satrio yang masih saja terus bernyanyi.
Satrio menitikkan air mata. Annisa menghapusnya dengan tangan Annisa.
“ Aku butuh seseorang untuk melepaskan sesakku di sini, melepaskan lukaku yang teramat dalam, Annisa…aku tidak sanggup melangkah di hari depan, Annisa…, aku teramat rapuh, aku tak tahu harus bagaimana tanpa dia…aku telah dikhianati dia, Annisa…”
“ Aku mengerti, Satrio..., Tapi, kamu harus bangkit dan berjalan ke depan Satrio, berani membuat keputusan terbaik untuk hidup kamu, masih ada cahaya terang di lembar kehidupanmu yang baru, aku yakin…kamu bahagia nanti. Ciptakanlah terus gambaran kebahagiaan itu dipikiranmu, karena bila kamu terus merasa ketakutan, pesimis dan menganggap semuanya akan tidak bahagia tanpa dia. Maka pikiran negatif itu pula yang akan membentuk hidup kamu, hidupmu akan penuh dengan kesedihan, ketakutan dan rasa putus asa. Ingatlah, Satrio…Tuhan tidak kan pernah menguji kesabaran umatnya melebihi batas kesanggupan umatnya.”
Satrio memandang wajah Annisa sangat dalam dan menggengam erat tangan Annisa. Annisa membalas pegangan tangan Satrio dengan tangan Annisa. Digenggamnya erat tangan Satrio dengan perasaan kasih sayang. Memberikan spirit yang paling terdalam untuk Satrio. Lalu Annisa mencium pipi Satrio. Membisikinya sesuatu yang indah…” aku selalu disamping kamu, Satrio. percayalah….!”
**********
Satrio tidak tahu harus berbuat apa lagi agar gadis manis di hadapannya itu membuka matanya. Dari acara makan malam dengan rekan – rekan kerja yang sedang mengikuti training staf ahli, Annisa telah pingsan di atas meja makan, sebelum sempat menyantap lezatnya hidangan yang tersaji. Satrio menjadi panik, lalu membawa Annisa ke kamar Annisa ditemani beberapa rekan wanita yang lain dari peserta training. Namun, setelah menanti selama 2 jam lamanya di kamar Annisa, Satrio menjadi bingung. Walaupun sebelumnya seorang dokter rekan Satrio sudah memeriksa keadaan Annisa, dan menyatakan bahwa Annisa tidak apa – apa. Hanya sedang tertidur pulas katanya. Tapi, tetap saja membuat Satrio bingung. Karena gadis manis yang baru pertama kali dilihatnya di pesawat dan telah membuat hatinya menjadi terpikat, pingsan seketika saat bertemu Satrio di meja makan.
“ Satrio…aku ada dimana..?” Annisa membuka kedua matanya yang selama 2 jam terpejam.
“ Owh…syukurlah Annisa…kamu telah sadar, Terima kash Ya Tuhan….!” Satrio menepuk pipi Annisa lembut.
“ Satrio…peluk aku…aku kangen sama kamu, sahabat masa kecilku.” Annisa segera bangun dari tidurnya, lalu merangkul Satrio. Satrio hanya diam saja. Lalu perlahan tangannya mendekap tubuh Annisa juga.
“ Sahabat masa kecilmu…Annisa ? memangnya siapa nama kecilmu ?” Satrio melepaskan pelukan Annisa, memegang kedua bahu Annisa. Terperanjat dengan kata – kata Annisa barusan. Menatap mata Annisa mengharapsebuah jawaban.
“ Nama lengkapku…Annisa Larasati, nama kecilku Nisa atau cah ayu, begitulah kamu memanggil aku.” Annisa menyahut santai. Ada rasa bahagia tak terhingga di hati Annisa melihat keterkejutan Satrio malam ini dikamarnya.
“ Ya Tuhan…! Kamu cah ayu…? sahabat SD ku, Annisa…?” Satrio memeluk Annisa kegirangan. Annisa menganggukkan kepala. Tak disangka Annisa, Satrio mencium kedua pipi Annisa, kiri dan kanan, lalu berlanjut ke kedua mata Annisa, dan berakhir di kening Annisa.
“ Aku telah mencarimu selama bertahun – tahun, Annisa. Bahkan setelah proses perceraian ku dengan isteri ku 3 tahun lalu, aku masih juga tetap mencari keberadaanmu, cah ayu…! aku rindu sama kamu, rindu setengah mati….cah ayuku…!” Satrio tertawa bahagia memeluk tubuh Annisa erat. Annisa hanya tersenyum bahagia.
“ Aku benar – benar tidak mengenali kamu di pesawat, karena dulu tubuh kamu waktu di bangku SD gendut dan rambutmu pendek, sekarang kamu menjelma menjadi wanita yang cantik dan masih tetap ramah seperti dulu, Annisa, tapi…ngomong – ngomong kenapa ketika kamu bangun dari pingsan kamu, kamu bisa bilang kangen sama aku, sahabat masa kecilmu ? aneh!” Satrio menatap mata Annisa. Memegangi kedua pipi Annisa.
“ Panjang ceritanya….Satrio…! nanti saja ku ceritakan yach…sekarang ku mau mandi dulu..kamu boleh tunggu diluar, dan aku mau menyantap hidangan yang tadi belum aku selesaikan di meja makan.”
“ Hahhaha…sudah tutup acara makan malamnya, Annisa sayang…! aku traktir kamu aja yach malam ini di luar…kamu khan yang lebih paham restoran mana yang paling yummy disini. Bagaimana, Annisa…?” Satrio mencubit pipi Annisa.
“ Nah gitu dong…oke Satrio ! aku setuju banget. hahhaha….”
Satrio meninggalkan kamar Annisa dengan rasa bahagia. Tuhan telah mempertemukan ia dengan gadis manis yang selama bertahun – tahun dicarinya. Semoga ini adalah awal kebahagiaan hidupnya kelak,
Terima kasih Tuhan…! Puji syukur di hati Satrio.
Tangerang, 25 Maret 2010
Rabu, 10 Maret 2010
Sebentuk Cinta dari Nany
Aku tak pernah membayangkan sebelumnya kalau aku akan mengalami hal terburuk seperti ini. Bermimpi pun aku tidak mau. Rasanya kalau aku tidak menyayangi diriku dan keluargaku, sudah dari dulu saat musibah ini menimpaku, aku ingin pergi dari dunia ini. Meninggalkan Ibuku dan adikku Maharani berjuang keras untuk memenangkan pertarungan hidup yang penuh tantangan ini.
Ya…Tuhan, tak pantaskah aku mendekap hangat kebahagiaan lagi seperti dulu? Tak pantaskah aku kembali menjadi seperti seseorang yang sangat diharapkan keluargaku? Adilkah yang Engkau berikan untukku Ya…Tuhan di saat keluargaku membutuhkan keringat dan kerja kerasku…? Apa salahku selama ini pada-Mu...? Bukankah aku selalu taat mengerjakan semua Perintah-Mu dan menjauhkan segala Larangan-Mu..? Kenapa aku tidak bisa menerima semua ujian-Mu ini Ya Tuhan…? rasanya sulit untuk memahami semua musibah yang Engkau berikan ini padaku.
Terlalu cepat Engkau hantarkan aku dalam keterpurukan, dalam kesedihan yang aku tidak pernah tahu kapan bisa ku akhiri. Ya…Tuhan…, kumohon kepada-Mu….kembalikanlah aku seperti semula, aku rindu saat – saat dulu, saat - saat bahagia berkumpul bersama keluargaku, bersama teman – temanku, dan bersama sesorang yang kucintai.. Ya…Tuhan, bila memang ini adalah jalan-Mu agar hatiku selalu dekat dengan-Mu, maka teguhkanlah hatiku…menjadi orang yang penuh kesabaran dan keilkhlasan dalam menerima kasih sayang ujian-Mu ini……
Erwin masih menangis tersedu – sedu di penghujung doanya…, tak dihiraukan lagi kemejanya yang telah basah oleh jatuhnya air mata yang terus menyusuri kedua pipinya, seakan kedua matanya seperti sebuah waduk yang jebol karena melimpah ruahnya air, disebabkan hujan yang tiada berhenti berhari – hari membasahi bumi. Matanya telah membengkak karena selalu menangis setiap berdoa, dan doa yang diucapkannya selalu itu – itu saja. Hanya memohon kesembuhan dirinya.
Apalah daya manusia? Tuhan pun sudah mendengar doa Erwin setiap hari, Tuhan pun sudah melihat keadaan Erwin yang sangat tidak mengenakkan itu. Tuhan pun mungkin sudah mempunyai rencana indah di balik sebuah ujian yang kini Erwin derita. Tuhan pun mungkin sudah menyiapkan hadiah dari buah kesabaran Erwin…hanya Erwin tidak mengetahuinya, andai saja Erwin mau mengambil hikmah dari musibah yang menimpanya saat ini, agar Erwin selalu dekat dengan Pencipta-Nya. Karena seseorang yang sedang diuji Tuhan…adalah sesungguhnya dia sedang dekat dengan Tuhan-Nya. Setiap tetes air mata yang jatuh dari kedua mata Erwin…sesungguhnya adalah air mata kebahagiaan, bukanlah air mata kesedihan, karena sebenarnya Erwin memang telah dicintai oleh Tuhan dan dipilih sebagai seseorang yang akan naik kelas, yaitu dalam kelasnya orang – orang yang bersabar dan ikhlas.
“ Kakak mau aku suapin makan sekarang…?” Maharani menawarkan makan sore pada Erwin.
“ Tak usahlah Ran…, kamu sediakan saja. Biar kakak makan sendiri. Antar kakak ke ruang tengah yach…? Kakak mau makan sambil nonton TV.” Sahut Erwin.
“ Tapi Kak…, “ Rani ragu mengantarkan kakaknya ke ruang tengah. Selama kakaknya mengalami musibah kecelakaan mobil 2 bulan lalu, kakaknya sudah tidak pernah lagi mau menonton tv. Kerjanya hanya berdiam diri di kamar, berdoa tanpa berhenti dan selalu menangis. Membuat Maharani khawatir akan kestabilan jiwa kakak satu – satunya itu.
“ Ayolah…Ran..antar kakak ke sana yach…?” Erwin menarik tangan Rani.
Tangan kanan Rani memegang bahu kakaknya. Diajaknya kakaknya ke ruang tengah dengan berjalan berhati – hati. Sesampainya di ruang tengah, segera dirapikan bantal kecil untuk sandaran punggung kakaknya. Agar kakaknya bisa menonton TV dengan nyaman. Didudukkan kakaknya di sofa berukuran L yang hanya berjarak 200 meter dari buffet TV.
Setelah itu Rani pergi ke dapur, mengambil makanan dan sebotol air minum untuk Erwin. Tanpa memberitahu terlebih dahulu.
“ Ran…mana remote TV nya…? Kakak mau nonton berita terkini.” Erwin memanggil nama Rani. Namun sayang, Rani tidak mendengarnya.
“ Ini Kak Erwin…bukalah tangan Kakak.” sebuah suara lembut tiba – tiba menjawab pertanyaan Erwin. Erwin kaget. Karena belum pernah mendengar suara lembut itu di rumahnya. Apalagi dengan panggilan Kakak. Yang pasti itu bukan suara adiknya, Rani dan bukan pula suara Ibunya.
“ Maaf…kamu siapa yach? aku tidak pernah mengenal suara kamu sebelumnya.” Erwin menengok ke arah asal suara lembut tadi. Memberi senyum manis. Dibalas si pemilik suara lembut itu dengan senyum manis pula. Tapi, pemilik suara lembut itu tiba – tiba matanya berkaca – kaca. Dan sayangnya, Erwin tidak bisa melihat kristal – kristal bening yang mengisi ruangan kedua mata si pemilik suara lembut itu. Bahkan Erwin juga tidak dapat melihat senyum manis yang diberikan untuknya.
“ Namaku….Nany, Kak Erwin, teman satu kelas dengan Maharani.” gadis bersuara lembut itu mengenalkan diri.
Erwin tersenyum. Dibukanya telapak tangan kanannya. Nany meletakkan remote TV di tangan kanan Erwin yang sudah terbuka lebar. Erwin memegang remote TV erat. Dan memulai memainkan tombol – tombol remote dengan jarinya. Terlihat kesulitan sekali Erwin memencet tombol remote TV. Sekali lagi gadis bernama Nany menawarkan bantuan pada Erwin.
“ Biar aku bantu Kak.., Kakak mau saluran nomer berapa? Biar tanganku yang memilihkannya untuk Kak Erwin.”
“ Terima kasih De…aku masih bisa koq kalau hanya untuk memencet tombol remote. Aku tidak mau menjadi manja karena aku seperti ini.” Ujar Erwin.
Di hati yang paling dalam sekali, Erwin menangis…dan menangis terisak – isak, berusaha bersikap seperti ia seorang yang berjiwa besar di depan Nany, padahal ia seorang yang rapuh, yang cengeng, yang tidak tahan kesakitan dan penderitaan seperti ini.
Rani datang dengan membawa makanan, buah - buahan dan sebotol air putih untuk kakaknya. Diletakkannya semua hidangan itu di meja di depan kakaknya. Tiba – tiba saja suara hujan terdengar di depan rumah. Rani spontan berlari ke depan rumah, untuk membereskan cucian yang baru saja selesai dijemurnya.
“ Mari Kak Erwin…aku bantu suapin makanannya yach...” Nany mengambil sendok dan piring yang sudah lengkap dengan nasi, lauk dan sayur. Tangan Nany sudah siap untuk memberi suapan pertama untuk Erwin.
Erwin menggelengkan kepala. Dan tersenyum.
“ Kenapa Kak…? Kakak malu yach aku suapin…? Gak usah malulah kak…anggap aja aku adik kakak juga. Aku gak punya kakak. Aku anak tunggal, Kak.” Nany menatap wajah Erwin, laki – laki yang sedari dulu dikaguminya, sejak Nany duduk dibangku kelas 2 SMK.
Erwin melamun sejenak. Di dalam hatinya yang paling dalam…Erwin tertawa bahagia. Belum pernah ada seorang gadis sejak musibah menimpa dirinya, memberi perhatian padanya. Sedangkan Tiara saja, kekasih hati yang dipacarinya selama 2 tahun, pergi meninggalkan dia dengan memberikan sebuah surat yang berisi salam perpisahan, saat mengetahui cacat fisik yang diderita Erwin.
Erwin membuka mulutnya perlahan. Nany tersenyum manis, walaupun Erwin tidak melihatnya. Nany memberikan suapan pertama pada Erwin. Dengan penuh rasa sabar, Nany menanti Erwin mengunyah makanan hingga habis. Lalu suapan kedua, disusul suapan ketiga. Erwin begitu senang dengan perhatian yang diberikan Nany. Betapa bahagianya Nany, bisa menyuapi makan seorang cowok yang sudah lama dikaguminya.
Rani datang dengan membawa setumpuk pakaian yang telah dirapikannya diluar. Rani cuma senyum – senyum saja melihat keakraban yang dipertunjukkan Nany sore ini kepada Kakaknya. Tiada doa yang Rani bisikkan saat itu di hatinya, selain berharap kehadiran Nany dalam hidup kakaknya, bisa membawa kebahagiaan dan perubahan sikap kakaknya dalam menghadapi musibah ini, menjadi seseorang yang tegar, sabar dan mau bangkit dari penderitaan, dengan memandang hidup lebih optimis.
***************
Nany merebahkan kepalanya di atas bantal yang paling empuk di kamarnya. Matanya memandangi langit – langit kamar yang diberi warna biru, dan sebentuk gambar awan yang teduh menggelayut di sana, di antara awan – awan itu tertulis nama Ayah Bunda Nany. Jadi sambil menatap hamparan langit yang biru tiap menjelang tidur, Nany bisa selalu mengingat kedua orang tuanya yang membesarkannya dengan penuh kasih sayang.
Di dalam kamar yang berukuran luas itu, pikiran Nany tidak lepas kepada nama Erwin, wajah Erwin, dan sikap Erwin tadi sore yang benar – benar membuat Nany lucu dan bahagia. Apakah ini yang dinamakan jatuh cinta?? Tapi Nany memang sudah lama jatuh cinta dengan Erwin, guru eskul komputernya yang selalu mengajarnya tiap sabtu sore. Cuma sayangnya, Erwin tidak pernah mengetahui getar – getar asmara Nany, tidak pernah mengetahui sinyal – sinyal cinta Nany. Erwin terlalu sibuk dengan aktifitasnya untuk menghidupi keluarga. Selepas Ayah Erwin meninggal dunia 3 tahun lalu. Dari hari Senin sampai Jumat, Erwin bekerja sebagai Marketing Bank Swasta di Jakarta. Hari Sabtu siang sampai dengan sore mengajar eskul komputer di SMK Nany. Hari Minggunya jalan – jalan sama Tiara, kekasih Erwin, yang cantik jelita itu. Manalah sempat Erwin untuk membaca email cinta dari hati Nany?.
Disaat yang bersamaan pula……di ruangan kamar yang tidak terlalu luas.
Erwin menatap langit – langit kamarnya yang tidak ada satupun awan – awan bertengger di sana. Hanya langit yang kosong. Bukan berwarna biru pula. Tapi berwarna putih.
Erwin tersenyum sendirian, meletakkan kedua tangannya di bawah bantal, dan kaki kanannya diletakkan di atas dengkul kaki sebelah kirinya. Mengingat kejadian sore tadi. Terbersit keanehan dalam diri Erwin. Kenapa hatinya begitu terusik dengan perhatian kecil yang diberikan Nany tadi sore, anak didiknya yang kebetulan satu kelas dengan adiknya.
Padahal, sikap Nany kalau di sekolah itu biasa saja. Tidak ada sikap yang istimewa yang ditonjolkan Nany. Bahkan saat mengajar pun, Erwin tidak pernah memberikan perhatian khusus pada gadis bersuara lembut dan berwajah imut itu. Kenapa kepergian Tiara dari hidupnya tidak bisa membuat Erwin bersedih hati, justru kedatangan Nany bisa memberi tawa bahagia di hatinya saat ini? Ada apa dengan hatiku? tanya Erwin.
***************
Di suatu sore yang cerah, selepas hujan. Erwin dan Nany bertemu di taman dekat komplek rumah Nany. Erwin datang diantar oleh Rani. Setelah urusan mereka berdua selesai, Rany berjanji akan menjemput Erwin kembali ke rumah.
“ Maaf yach Kak…aku meminta Kakak datang ke sini mendadak banget.” Nany membuka percakapan.
Di taman yang dipenuhi pohon – pohon besar yang rindang, rumput – rumput yang hijau yang tertata rapi, mereka berdua duduk berdekatan dibangku taman yang terbuat dari kayu, disediakan memang hanya satu oleh pengelola taman. Hanya sebagai dekorasi taman saja.
“ Gak apa – apa koq De…aku senang sekali bisa datang ke tempat ini, tempatnya sejuk dan nyaman. Masih serba hijau.” Erwin tersenyum simpul.
“ Hmm….aku cuma mau menyampaikan ini sama Kak Erwin…, dari rekan – rekan di sekolah dan rekan – rekan Kakak di kantor, semoga bermanfaat yach untuk Kakak…,” Nany memberikan amplop coklat berisi uang ke tangan Erwin. Diraihnya tangan Erwin agar memegang amplop coklat yang tebal itu.
Erwin menerimanya. Bingung dan khawatir dengan pemberian Nany.
“ Apa ini De…?” Erwin meraba – raba isi amplop itu.
“ Isinya uang Kak…, buat pengobatan mata Kakak. Udah 2 bulan, aku dan teman - temanku, menggalang dana di sekolah dan ke semua rekan kerja Kakak di kantor, atas info Bapak Ilham, tetanggaku yang jadi security di kantor Kak Erwin...,” Nany memandangi wajah Bapak gurunya dengan seksama, ada pelangi bahagia menyembul di wajah Erwin yang bulat.
“ Kenapa kamu harus repot – repot De…? Aku tak pantas mendapat perlakuan baik seperti ini. Selama aku mengajar kamu, aku gak pernah memperlakukan kamu istimewa. Aku malu De…!” Erwin menatap wajah Nany.
Andai dia bisa berterus terang pada Nany, dia sebenarnya bahagia masih ada orang yang peduli sama dirinya. Erwin berpikir, yang masih punya rasa peduli hanyalah keluarganya saja. Sejak Kecelakaan mobil yang menimpa Erwin, dan membutakan mata Erwin, Erwin keluar dari kantor. Mobil kantor yang dikendarainya harus masuk bengkel dengan biaya perbaikan yang tidak sedikit. Erwin mendapat pesangon 3 kali gaji pokok beserta uang pengobatan sekedarnya. Tak ada rekan kerjanya yang peduli dengan keadaannya. Begitupun Erwin mengajar di SMK Nany, hanya sebagai guru freelance, hanya mendapat sumbangan ala kadarnya saja dari guru – guru di sana.
“ Ya sudahlah Kakak..anggap aja ini rezeki dari Tuhan untuk Kak Erwin…!” Nany menghibur. Agar Erwin mau menerima uluran tangan dari kerja keras Nany selama ini.
“ Kalau aku masih dalam tahap penyembuhan nanti, apakah kamu akan terus bersikap baik padaku De…?” Erwin melontarkan pertanyaan pada Nany.
“ Maksud Kakak apa…? “ Tanya Nany tidak mengerti.
“ Seperti yang kamu beri beberapa hari lalu di rumahku itu...De, nyuapin aku.” Erwin malu – malu mengungkapkan isi hatinya.
“ Hehehe…pastinya Kak ! walaupun Kakak belum sembuh pun, aku masih mau koq menemani hari-hari Kakak…nyuapin Kakak lagi, ngobrol sama Kakak, menceritakan tentang acara TV sama Kakak, atau sekedar duduk di taman ini dan bercerita tentang indahnya rumput yang selalu menghijau, agar Kakak bisa menghirup udara segar dan semangat lagi menghadapi hidup, hhehhe….” Nany tertawa kecil.
“ Berarti kamu sayang dong sama aku, bener gak sih De…?” Erwin tersenyum menatap Nany.
“ Emangnya Kakak gak merasa seperti itu yach…?” jawab Nany balik.
“ Terima kasih yach De….atas jawaban kamu dan pemberian amplop yang sangat berharga ini.”
“ Sama – sama Bapak Guru....hhehehe….,”
Erwin tertawa lepas. Begitu juga Nany. Sepertinya binar-binar bahagia itu bukan cuma untuk Erwin, tapi juga untuk hati Nany. Rasa yang dahulu di pendam Nany pada guru komputernya, kini sudah bisa dirasakan Erwin. Dan Erwin pun sudah dapat memahami pesan cinta Nany. Dan menjawab pesan cinta Nany dengan cara yang instan.
Tak ada kata terlambat memang untuk mencintai seseorang, walaupun harus melalui sebuah rintangan dan keadaan yang paling tidak mengenakkan. Hingga Nany harus berjuang untuk membuktikan perasaan cintanya yang tulus pada Erwin dengan memberi perhatian tulus yang mungkin orang lain tidak dapat melakukannya. Memang benar yach, perbuatan itu ternyata lebih bermakna dari pada sebuah kata – kata manis yang hanya singgah di bibir saja.
Andai Erwin tahu, siapa sebenarnya yang malam itu menabrak Erwin, hingga Erwin yang berada dalam mobil, dalam keadaan menyetir langsung pingsan seketika. Dan beberapa serpihan kaca tanpa ampun menusuk ke dalam matanya, hingga membutakan kedua mata Erwin. Mungkin Erwin sama sekali tidak mau mengenal Nany. Karena orang yang menabrak Erwin telah melarikan diri hanya untuk menjaga reputasi karier dan keluarganya. Selama 2 bulan, Nany berusaha keras menyadarkan orang itu agar mengakui semua kesalahannya kepada Erwin dan keluarganya. Dan orang itu telah menemui Ibu dan adik Erwin sore ini di rumah. Saat Nany dan Erwin bercengkerama di taman. Tinggal menunggu Erwin sembuh dan melihat dunia kembali…Ayah Nany akan datang ke hadapan Erwin….untuk memohon maaf.
Tangerang, 17 Januari 2010
At 4.00 a.m
Selasa, 26 Januari 2010
Izinkan Aku Memilikimu......
Pusing banget seharian muter-muter Mal Taman Anggrek, hanya untuk mencari barang yang teristimewa. Seperti apa juga barang yang teristimewa, yang dimaksud Arya yach…? kenapa gak menyarankan yang simple, indah dan bermakna buat penerimanya. Itu juga udah lebih dari cukup kali.
Udah bisa hidup di zaman yang sulit ini dan bisa keluar dari segala masalah di dalamnya aja udah Istimewa. Apalagi harus mencari barang yang teristimewa? pasti lebih sulit dari Ujian CPNS ( Calon Pegawai Negeri Sipil ). Tapi, kalo Ujiannya lewat belakang dan dipastikan aman sih, pasti gak sulit. Hehehe…., itu sih namanya gak jujur. Bagaimana mau jadi pelayan masyarakat, kalo mentalnya udah gak berkualitas?. Betul gak sih. Yach…jawab aja sendiri dalam hati.
Balik ke benda lagi nih…..Apakah barang yang teristimewa itu bagi pemberinya juga akan menjadi sangat istimewa buat si penerimanya? Belum tentu khan? cuma Tuhan dan penerimanya yang tau. Trus, gimana kalau si penerimanya hanya menganggap benda itu biasa aja? Waduhhh….bisa timbul rasa kecewa dech buat yang memberinya.
Mendingan sih…kasih yang biasa aja, yang umum, yang penting bermanfaat. Namanya juga dikasih, apapun itu…pasti yang menerima udah bahagia. Dari pada gak ada yang ngasih. Hahaha….gak lah. Biar bagaimanapun juga, gue emang harus kasih yang terbaik buat orang itu, dengan 1 syarat yach harus ikhlas. Maksudnya, ikhlas aja kalau ternyata…si penerima kurang sreg sama pemberian kita. Yach namanya juga usaha. Begitulah dialog perdebatan yang terjadi di batin Ayyu saat ini.
“ Mau kemana lagi kita, Yu?” Shayuri membuyarkan lamunan Ayyu.
“ Loe dah cape yach, Sha?” Ayyu merapikan rambutnya dengan kedua tangannya.
“ Nih…pake punya gue.” Shayuri menyodorkan karet rambut berwarna biru.
Ayyu menerimanya. Lalu rambutnya dikuncir satu. Lebih rapi dan enak dilihat.
“ Gitu dong...cakep dech.” Shayuri mengacungkan jempol kanannya. Kebiasan lama Shayuri kalo di Facebook ( situs jaringan pertemanan, milik Mark Zuckerberg ), keseringan menyukai status, foto atau catatan orang lain. Tapi, baguslah…itu khan suatu bentuk tanda perhatian dan apresiasi pada orang lain. Walaupun Shayuri jarang memberi comment, kadang memberi comment sih…tapi seperlunya saja dan sepantasnya saja. Hahaha…itulah Shasha, tipikal sobat gue yang emang apa adanya. The Simple Woman. Begitu Ayyu menjulukinya.
“ Kita ke lantai 3 yuk, Sha? Masih kuat gak…?” Ayyu merayu.
“ Tenang…gue masih kuat. Lagi pula masih jam 5 khan?” Shasha menyanggupi permintaan Ayyu untuk menuju ke lantai 3.
Di lantai 3, Ayyu langsung memilih barang yang disukainya. Setelah meminta pendapat Shasha, Ayyu segera membayar semua barang belanjaannya. Huft…lega rasanya! Bisa memilih dan membeli barang istimewa dalam waktu singkat. Kenapa tadi 2 jam hanya untuk menemukan ketidakcocokan terus yach?. Mungkin karena sudah dikejar waktu dan telah melewati pertimbangan-pertimbangan rasional, makanya apapun yang dipilih menjadi cepat dan tepat. Biasanya orang lebih mudah ambil keputusan kalo dalam keadaan tenang dan kepala dingin. Kalo tadi khan kebanyakan pilihan, jadinya gak tenang dan kepala pun jadi panas.
Ayyu dan Shasha meninggalkan Departemen Store ternama itu, lalu turun ke lantai 1 dengan eskalator. Liftnya telah penuh. Apalagi kalo hari minggu kayak begini. Banyak pasangan muda-mudi dan keluarga yang main dan bersantai di Mal yang terbilang cukup besar di kawasan Jakarta Barat itu.
Dengan wajah yang sumringah, Ayyu dan Shasha pulang naik taxi menuju rumah.
Walaupun kaki terasa pegal dan mata udah lelah lihat barang-barang di mal, mereka berdua bahagia, bisa mendapatkan barang istimewa yang diinginkan Ayyu.
***************
“ Selamat Malam…Tante…! “ Arya memberikan salam ketika mama Ayyu membukakan pintu.
“ Malam…Arya..! gak masuk dulu?” Mama Ayyu memepersilakan Arya masuk.
“ Terima kasih, Tante…lain waktu aja…soalnya udah mau mulai acaranya.” Arya memberi penjelasan.
“ Tunggu sebentar yach..Tante panggil Ayyu dulu.” Mama Ayyu masuk ke dalam.
Lalu keluarlah Ayyu dari dalam dengan penampilan yang bikin Arya pangling dan tidak bisa bicara apa-apa. Ayyu dan Arya segera pamit sama Mama Ayyu meninggalkan rumah untuk menuju ke Kafe tempat temannya Arya menyelenggarakan acara.
Arya membukakan pintu untuk Ayyu. Ayyu duduk dengan manisnya sambil menenteng sebuah kado istimewa berwarna biru muda. Arya memperhatikan wajah Ayyu yang sangat manis malam itu. Dengan High Heels Putih, gaun berwarna putih, berleher oval, lengan pendek dan panjang gaun selutut kaki Ayyu, membungkus tubuh Ayyu dengan sempurna. Dengan riasan wajah yang sederhana dan tatanan rambut yang dibiarkan ikal dibawah, membuat penampilan Ayyu cantik dan anggun.
Mata Arya sesekali memandang wajah Ayyu. Ayyu cuma tersenyum kecil, melihat pujaan hatinya bertingkah aneh dan norak. Seperti baru lihat cewek cantik saja.
“ Cantik banged kamu malam ini…sayank.” Sambil menyetir, Arya membuka percakapan.
“ Makasih…tak ada uang kecil.” Ayyu menjawab sambil mencubit lengan Arya.
“ Kenapa gak dari dulu, aku pacarin kamu yach..?” Tangan kiri Arya mencubit pipi Ayyu gemas. Ayyu mengaduh kecil.
“ Kamunya aja yang penakut, banyakan mikir sih. Gak tau ada cewek manis kayak aku yang lagi menanti Pangeran Baik Hati, hahahha….” Ayyu tertawa kecil.
Arya kaget mendengar jawaban kekasihnya. Ternyata Ayyu udah terlihat sifat gokilnya. Udah gak pemalu lagi. Udah bisa menandingi Arya yang gokil dan romantis abis.
“ Kenapa kamu bisa suka sama aku juga, Sayank…?” Arya mencoba mencari tahu.
Maklum, mereka udah jadian 1 bulan. Tapi Arya belum tau kenapa Ayyu begitu cepat menyukainya.
“ Karena kamu mempunyai cinta yang besar untuk aku.” Ayyu mengedipkan sebelah matanya. Dan tertawa. Arya juga ikut tertawa. Ahh…Ayyu, gak ada jawaban lain apa yach. Pede banget cewek manis ini. Malah bikin Arya makin cinta.
“ Yakin banget aku mempunyai cinta yang besar untuk kamu, Sayank…?” Arya balik bertanya.
“ Yach..keliatan lah…tuch dari tatapan mata kamu, yang teramat dalam kalo lagi mandangin aku, hahhaha….ngaku dech….!” Ayyu tertawa lagi. Giliran Arya sekarang yang dibuat merah merona wajahnya oleh Ayyu.
Benar juga yang dikatakan Ayyu, dia tidak salah menilai. Arya memang sangat mencintai Ayyu. Apapun akan dilakukan Arya demi mendapatkan hati sang gadis manis itu.
Mereka sudah tiba di tempat yang dituju. Kafe Mpok Siti, di bilangan Jakarta Selatan. Tempatnya sangat strategis, didepan Kampus Tercinta, yang udah terkenal itu. Di tempat parkir, sudah banyak mobil, motor bahkan ada satu bis yang memarkir kendaraannya di sana. Dari sebuah Panti Asuhan Yatim Piatu. Begitu banyak anak-anak kecil berusia 7 s/d 12 tahun yang berlarian di tempat parkir untuk memasuki ruangan Kafe yang didesain Unik, namun tetap dengan gaya modern.
Arya memarkir mobilnya. Dan mengajak Ayyu masuk ke dalam Kafe. Di dalam Kafe sudah banyak tamu yang datang. Arya mengenalkan Ayyu pada Rha, sepupu Arya yang sedang berulang tahun hari itu. Rha, menerima ucapan selamat dari Arya dan Ayyu. Dan memberikan kado Ayyu pada Rha. Mudah-mudahan Rha suka dengan kado Ayyu, Tas cantik untuk kerja. Arya yang memberikan uangnya pada Ayyu dan menyuruh Ayyu membelikan barang apa saja, yang penting bagus dan bermanfaat buat Rha.
Acara dimulai. Sampai akhirnya pada acara bebas. Menyantap hidangan sepuasnya. Waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam, Arya dan Ayyu segera pamit pulang pada Rha, Ghis, Nie dan Mel, sahabat-sahabat Rha sekaligus pemilik Kafe tersebut. Mereka berempat mendirikan Kafe itu sejak masih duduk di bangku kuliah. Setelah lulus menjadi Sarjana. Mereka bersama-sama mengelola Kafe itu dengan perjuangan yang sangat gigih. Hingga menjadikan Kafe itu menjadi besar dan dikenal masyarakat dari segala penjuru.
Arya mengantarkan pulang Ayyu ke rumah dengan perasaan bahagia. Akhirnya bisa juga mengenalkan gadis pujaannya pada sepupunya itu. Hampir setiap pulang kerja Arya mampir ke Kafe itu, walau hanya untuk Free Wifi-an atau untuk bercerita kepada Rha, tentang cewek gebetannya, yaitu Ayyu. Rha menjadi penasaran dengan cerita Arya, makanya diundanglah Ayyu untuk datang ke acara ulang tahunnya Rha.
***************
“ Yu..gimana kemarin malam…? Seru donk…?” Dudul merapikan tumpukan kertas di mejanya.
“ Seru banget, Dul. Yang datang di acaranya Rha, bukan hanya teman-teman, keluarga dan relasi, bro. Tapi, anak-anak Yatim Piatu juga diundang. Salut gue sama Mereka berempat! Masih muda, jiwa sosialnya tinggi banget…pengen banget gue bisa ikutin jejak mereka, Dul. ” Sahut Ayyu.
“ Amien….,” Dudul mengambil tas kerjanya.
“ Kita hang out kemana sore ini, Dul? Erna, Shasha dan Rika udah nunggu di depan.” Ayyu menyangkilkan tasnya di bahu.
“ Loe mau ikut kita hang out? Gak jalan sama Arya?” Tanya Dudul gak yakin.
“ Jiahhh…masa jalan terus sama dia? Gue juga punya teman-teman, punya kehidupan, yang gak bisa dipisahkan karena gue pacaran sama dia, Dul” Ayyu berjalan mengikuti langkah Dudul memasuki lift menuju lantai basement. Tempat parkiran mobil.
“ Hmm…iyya juga sih. Tapi, kita lihat saja nanti.” Dudul menarik nafas panjang.
Erna, Shasha dan Rika sudah menanti di depan gedung. Dudul dan Ayyu langsung menyuruh mereka masuk ke dalam mobil. Berlima mereka menuju Pusat Perbelanjaan di daerah Senayan.
***************
“ Yu…ada kiriman bunga cantik lho buat kamu.” Dudul memberikan seikat bunga mawar putih untuk Ayyu. Ada kartu ucapan diikatkan di tangkainya. Berwarna putih juga.
Ayyu membuka kartu ucapannya dan membacakannya di depan Dudul.
“ Kekasihku yang manis…ciumlah harum bunga mawar ini dan rasakan wanginya sampai ke dalam jiwamu…dan ucapkanlah dalam hati bahwa kamu juga memiliki perasaan yang sama seperti aku, ingin makan siang bersama…karena aku Laperrr Sayank….!” Ayyu tertawa terbahak-bahak, dudul cuma nyengir. Emang sama gokilnya. Pantesan cocok. Begitu pikir Dudul.
“ Ikut yuk Dul…mau khan? makan siang bareng Arya.” Ayyu menarik kursi mendekat ke kursi Dudul.
“ Ya udahlah…loe makan aja berdua sana. Jangan dilewatkan kesempatan indah itu, Arya sayang banget sama loe. Jangan kecewakan dia…” Dudul berkata sambil menatap wajah Ayyu lekat. Entah kenapa, Dudul bersikap seperti itu. Belum pernah Ayyu ditatap seperti itu. Ayyu balik menatap wajah Dudul, sambil tersenyum.
“ Gak ada kata-kata yang loe lewatkan untuk gue, Dul…?” Ayyu menonjok bahu Dudul.
“ Apa sih, Yu..? gak adalah.” Dudul menonjok lembut bahu Ayyu.
“ Tatapan mata loe tadi maksudnya apa? Masih mau bohong yach sama gue?” Ayyu kali ini serius.
“ Ahhh…biasa aja seh.” Dudul tetap berkelit.
“ Loe sahabat gue…gue gak mau kehilangan loe, kalo gue lagi bahagia, loe harus ikut juga merasakan kebahagiaan gue. Makan bareng yach sama gue, please….,” Ayyu merayu manja.
Mata Dudul berkaca-kaca mendengar permintaan Ayyu. Sahabatnya yang sudah dikenal 1 tahun, melakukan aktifitas bersama-sama. Baik di kantor maupun di luar kantor.
Ayyu yang rajin membawakan kue-kue buatannya sendiri ke rumah dudul, kalo lagi kumpul bareng dengan Erna, Shasha, dan Rika. Ayyu yang selalu menemaninya memancing ikan di tempat pemancingan dekat rumah. Ayyu yang selalu mengajaknya pergi Hang Out kalo Dudul lagi suntuk. Ayyu yang selalu mau kasih ide gila untuk pekerjaan Graphisnya, bila sudah kehabisan ide. Ayyu yang selalu mendukung kariernya dan rajin mengingatkan Dudul akan peningkatan kreativitas dan pengembangan diri. Lalu sekarang, kebahagiaan itu akan terenggut paksa dari hidup Dudul. Bila waktunya tiba…maka Dudul akan benar-benar kehilangan Ayyu. Kehilangan sahabat, sekaligus seseorang yang dikaguminya diam-diam.
“ Lain waktu aja yach Yu…oke? Ya udahlah…siap-siap sana, Arya mungkin udah nunggu loe di kantin.” Dudul segera menghentikan pertarungan di batinnya.
***************
“ Sayank…kenapa wajah kamu muram…? Gak manis kalo begitu.” Arya mencubit pipi Ayyu.
“ Gak apa-apa koq…emang lagi males ngomong.” Ayyu menatap wajah Arya. Ayyu tak berhenti memikirkan sikap Dudul yang tak seperti biasanya siang ini. Seperti ada gurat-gurat kesedihan yang terpancar dari nada bicara Dudul tadi. Entah apa.
Arya tersenyum. Lalu mengusap kepala Ayyu dan ditariknya kepala Ayyu perlahan. Hingga menjadi dekat. Lalu Arya mencium kening Ayyu lembut. Ayyu cuma diam. Sama sekali tidak menikmati sentuhan kelembutan yang diberikan Arya siang ini.
“ Oh yach Sayank…pagi-pagi tadi, aku menyampaikan berita bahagia sama Dudul. Dia senang banget sama ide aku.” Arya memegang tangan Ayyu erat.
“ Berita apa…?” Ayyu tersenyum. Paling-paling Arya cuma mau becandain Ayyu lagi. Begitu pikiran Ayyu.
“ Melamar kamu.” Spontan Arya menjawab. Ayyu tersentak. Serasa tercekik tenggorokannya mendengar ucapan Arya. Baru pacaran 1 bulan, udah mau melamar. Udah gokil apa nih orang. Kenal lebih dalam sifat gue juga belum. Udah langsung mau melamar aja.
“ Haaaa….? Jangan becanda yach… Arya.” Ayyu mencubit pipi Arya keras sekali. Arya kesakitan. Tapi, Ayyu tidak mau melepaskan cubitannya.
“ Seriuslah Sayank…, Mama dan Papa udah aku kasih tau koq, mereka setuju. Lagipula kita terpaut 4 tahun khan usianya. Jadi yach cocoklah untuk segera menikah…., biar cepat punya banyak anak, karena masih muda, hahahha…...” Arya tertawa terbahak-bahak. Bahagia karena bisa membuat Ayyu bagai tersambar petir di siang hari. Kali ini dipegangnya tangan Ayyu, lalu dicium punggung telapak tangan gadis manis itu.
“ Aku Sayang sama kamu, dan ingin memiliki kamu…jadi isteri aku. Aku udah cocok sama kamu. Udah cukup aku mencari tau tentang kamu 1 tahun lamanya, sekarang udah saatnya aku menentukan pilihan hidup aku….” Arya begitu penuh kemantapan berbicara dengan Ayyu.
“ Besok aja jawabnya yach…kepala aku pening nih.” Ayyu bingung mau jawab apa. Berita bahagia itu tidak pernah diduganya. Apa Papa, Mama dan kakaknya Alisha setuju dengan rencana Arya ini? Entahlah. Lihat besok saja.
***************
Langit di luar sana sangat cerah. Secerah wajah Ayyu dan Arya yang sedang di landa kebahagiaan tiada terkira. Keluarga Ayyu dan Arya serta kedua orang tua mereka hadir di sana, di rumah Ayyu untuk melamar Ayyu menjadi Isteri Arya. Ayyu sendiri tidak pernah menduga akan secepat ini hubungan kasih asmaranya dengan Arya akan segera diresmikan oleh kedua orang tua Arya.
Semuanya terlalu cepat bagi Ayyu. Semuanya serba tiba-tiba. Semuanya penuh kejutan dengan Arya. Tapi itulah rezeki dari Tuhan. Yang kita tidak pernah tau dari arah mana datangnya. Kita hanya bisa mensyukuri apapun pemberian Tuhan, kita harus bisa ikhlas menerima apapun yang Tuhan berikan untuk kita. Bila memang Tuhan sudah menentukan jodoh yang baik untuk kita, maka kita harus menerimanya dengan rasa suka cita dan menjaganya sampai ajal memisahkan kita.
“ Bagaimana, Ayyu…? Mau khan menjadi isteri Arya 1 bulan ke depan…? Kita sudah menyiapkan semuanya. Ayyu dan keluarga tinggal menentukan Hari H nya saja, semua biaya Akad Nikah dan Resepsi akan kami berikan hari ini, bila pihak keluarga Ayyu menerima lamaran kami. Untuk Mas kawin dan hadiah pernikahan akan kami berikan 3 hari sebelum Hari H nya tiba…” Papa Arya angkat bicara. Dan semua keluarga Ayyu dan Arya yang hadir, mendengarkan dengan seksama bait demi bait kalimat Papa Arya.
“ Ya…Om…Ayyu siap untuk menjadi isteri Arya.” Dengan mantap Ayyu menjawab pertanyaan Papa Arya. Semua yang hadir di sana mengucapkan rasa syukur. Ahirnya mereka pulang tidak sia-sia, karena gadis manis pujaan hati anaknya mau menerima lamaran mereka.
Arya tersenyum bahagia. Cintanya telah bersambut. Gadis manis yang dikejarnya selama 1 tahun lalu, sebentar lagi akan menjadi miliknya yang sah. Terima Kasih Ya Tuhan….Engkaulah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
“ Gak apa-apa koq…emang lagi males ngomong.” Ayyu menatap wajah Arya. Ayyu tak berhenti memikirkan sikap Dudul yang tak seperti biasanya siang ini. Seperti ada gurat-gurat kesedihan yang terpancar dari nada bicara Dudul tadi. Entah apa.
Arya tersenyum. Lalu mengusap kepala Ayyu dan ditariknya kepala Ayyu perlahan. Hingga menjadi dekat. Lalu Arya mencium kening Ayyu lembut. Ayyu cuma diam. Sama sekali tidak menikmati sentuhan kelembutan yang diberikan Arya siang ini.
“ Oh yach Sayank…pagi-pagi tadi, aku menyampaikan berita bahagia sama Dudul. Dia senang banget sama ide aku.” Arya memegang tangan Ayyu erat.
“ Berita apa…?” Ayyu tersenyum. Paling-paling Arya cuma mau becandain Ayyu lagi. Begitu pikiran Ayyu.
“ Melamar kamu.” Spontan Arya menjawab. Ayyu tersentak. Serasa tercekik tenggorokannya mendengar ucapan Arya. Baru pacaran 1 bulan, udah mau melamar. Udah gokil apa nih orang. Kenal lebih dalam sifat gue juga belum. Udah langsung mau melamar aja.
“ Haaaa….? Jangan becanda yach… Arya.” Ayyu mencubit pipi Arya keras sekali. Arya kesakitan. Tapi, Ayyu tidak mau melepaskan cubitannya.
“ Seriuslah Sayank…, Mama dan Papa udah aku kasih tau koq, mereka setuju. Lagipula kita terpaut 4 tahun khan usianya. Jadi yach cocoklah untuk segera menikah…., biar cepat punya banyak anak, karena masih muda, hahahha…...” Arya tertawa terbahak-bahak. Bahagia karena bisa membuat Ayyu bagai tersambar petir di siang hari. Kali ini dipegangnya tangan Ayyu, lalu dicium punggung telapak tangan gadis manis itu.
“ Aku Sayang sama kamu, dan ingin memiliki kamu…jadi isteri aku. Aku udah cocok sama kamu. Udah cukup aku mencari tau tentang kamu 1 tahun lamanya, sekarang udah saatnya aku menentukan pilihan hidup aku….” Arya begitu penuh kemantapan berbicara dengan Ayyu.
“ Besok aja jawabnya yach…kepala aku pening nih.” Ayyu bingung mau jawab apa. Berita bahagia itu tidak pernah diduganya. Apa Papa, Mama dan kakaknya Alisha setuju dengan rencana Arya ini? Entahlah. Lihat besok saja.
***************
Langit di luar sana sangat cerah. Secerah wajah Ayyu dan Arya yang sedang di landa kebahagiaan tiada terkira. Keluarga Ayyu dan Arya serta kedua orang tua mereka hadir di sana, di rumah Ayyu untuk melamar Ayyu menjadi Isteri Arya. Ayyu sendiri tidak pernah menduga akan secepat ini hubungan kasih asmaranya dengan Arya akan segera diresmikan oleh kedua orang tua Arya.
Semuanya terlalu cepat bagi Ayyu. Semuanya serba tiba-tiba. Semuanya penuh kejutan dengan Arya. Tapi itulah rezeki dari Tuhan. Yang kita tidak pernah tau dari arah mana datangnya. Kita hanya bisa mensyukuri apapun pemberian Tuhan, kita harus bisa ikhlas menerima apapun yang Tuhan berikan untuk kita. Bila memang Tuhan sudah menentukan jodoh yang baik untuk kita, maka kita harus menerimanya dengan rasa suka cita dan menjaganya sampai ajal memisahkan kita.
“ Bagaimana, Ayyu…? Mau khan menjadi isteri Arya 1 bulan ke depan…? Kita sudah menyiapkan semuanya. Ayyu dan keluarga tinggal menentukan Hari H nya saja, semua biaya Akad Nikah dan Resepsi akan kami berikan hari ini, bila pihak keluarga Ayyu menerima lamaran kami. Untuk Mas kawin dan hadiah pernikahan akan kami berikan 3 hari sebelum Hari H nya tiba…” Papa Arya angkat bicara. Dan semua keluarga Ayyu dan Arya yang hadir, mendengarkan dengan seksama bait demi bait kalimat Papa Arya.
“ Ya…Om…Ayyu siap untuk menjadi isteri Arya.” Dengan mantap Ayyu menjawab pertanyaan Papa Arya. Semua yang hadir di sana mengucapkan rasa syukur. Ahirnya mereka pulang tidak sia-sia, karena gadis manis pujaan hati anaknya mau menerima lamaran mereka.
Arya tersenyum bahagia. Cintanya telah bersambut. Gadis manis yang dikejarnya selama 1 tahun lalu, sebentar lagi akan menjadi miliknya yang sah. Terima Kasih Ya Tuhan….Engkaulah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
***************
Jakarta, 24 Desember 2009
at. 04.00 a.m
Coretan ke 3
Langganan:
Postingan (Atom)


