Sabtu, 13 Februari 2010

H Minus 5

Kenangan indah itu...masih terekam dalam memori terdalam,
terhangat, dan penuh semangat !

Tak ku hiraukan peluh yg berhamburan menyerbu stiap milimeter tubuhku,

ada sensasi yang tertitipkan disana.

Pengembaraan dari mal sampai plaza tak menyurutkan gairahku tuk mendapatkan kartu ucapan berwarna merah menyala...

dimana doa kebahagiaan, kemakmuran, dan kesuksesan terucap disana dengan rasa bangga,
tuk para sahabat dan relasi bisnis milik tuan.

Dekapan detik dan menit yang merajai perjalanan waktu...

ku nikmati dengan 1 harap saat itu, smoga doa tuan tersampaikan dengan sempurna dan terkabulkan di tahun baru imlek nanti...

Tangerang, 9 Februari 2010

" untuk Bapak Jakharia R. Mantan atasan aku...
tambah sukses pak..! Doa ku menyertai bapak slalu..."

Secangkir Kopi Panas


 Sstt...Ini sudah malam De...! begitu Engkau bisikkan ditelingaku.

Kenapa dengan malam yg bersinggasana? Biar saja dia memberi senyum untuk kita.

Ku belum lelah berbincang dengan Engkau...wahai kekasihku.

Ku masih ingin merebahkan kepala didadamu, dan tangan kananmu mengusap lembut rambutku,
dan lihatlah malam...mengedipkan sebelah matanya pada kita !

Tahukah Engkau kekasihku...ketika sore hari tadi, dengan secangkir kopi panas di meja kerjaku.

Rekan kerjaku dan temanku yg lain membicarakan tentang laki-laki yang nyaman dan aman,
lahir dan bathin.

Sebuah impian sederhana dari hati gadis metropolitan zaman sekarang bukan?.

Mereka rela berjuang lho...untuk meraih mimpi-mimpi indah itu.

Mereka juga tidak mau menyerah begitu saja dengan keadaan,
aku pun diam-diam memberi tepuk tangan sangat gempita pada mereka.

Bahkan saking meriahnya, tepukan tanganku sampai terdengar di kalbu mereka.

Tak disangka, mereka langsung mencium kedua pipiku, kiri dan kanan...
aku tersipu malu !

Kata mereka, selamat untuk kamu, duhai sahabat...!

Kamu lebih dulu mendapatkan laki-laki yang kita impikan, mulai dari saat sang fajar menyingsing sampai rembulan menyingkirkan matahari, begitu terus.

Secangkir kopi panas yang tinggal setengah, segera ku teguk !
Alhamdulillah...aku bersyukur pada Tuhan atas karunia-Nya.


" Untuk laki-laki yang mau menemaniku seumur hidup, thanks for your love..."


Tangerang, 13 Februari 2010

At. 00.52 Waktu Indonesia Bagian Tangerang.

Selasa, 09 Februari 2010

Keberhasilan, Demikian Dekat Di Lidah; Tetapi Bisa Demikian Jauh Dari Jangkauan



Apakah Anda bersemangat lebih dulu sebelum bertindak, ataukah Anda bertindak dulu baru kemudian bersemangat?
Yang manakah Anda?

Motivasi adalah langkah pertama untuk mencapai keberhasilan, karena motivasi adalah pelahir tindakan pertama, yang bisa menjadi langkah awal dari langkah-langkah berikutnya yang mencemerlangkan.

Jika motivasi menjadi langkah kedua, tindakan yang nyata yang pertama – adalah tindakan yang menyebabkan tumbuhnya semangat untuk mencapai kecemerlangan karir dan hidup kita.

Setelah itu, kita akan lupa – mana yang mana, karena kita terlibat dalam kesibukan untuk menyemangati tindakan-tindakan yang nyata dan bertindak untuk terhisap kedalam pusaran motivasi yang memperkuat, membesarkan, dan meninggikan kehidupan kita.


Kita semua adalah makhluk-makhluk ber-energi.
Kehidupan adalah energi. Semua yang hidup, hidup dengan sebuah tenaga di dalam diri mereka; tetapi tidak sedikit pribadi yang masih hidup hari ini, yang tidak lagi bertenaga.

Jika mereka terlibat dalam hiruk-pikuk kesibukan dunia, mereka terlibat dalam badan sehat yang terkulai lemah - selemah semangat mereka.

Sehingga pertanyaan yang logis bagi Anda, adalah

Seberapa besarkah tenaga yang ada di dalam diri Anda?
Perhatikanlah, sebuah badan yang sehat dan kuat – bisa tampil selemah ilalang dalam semilir angin, jika semangatnya rendah.

Perhatikanlah juga, sebuah badan kecil yang sakit dan letih – akan menghasilkan nilai yang meninggikannya di atas mereka yang lebih besar dan bugar – jika dia menemukan cara untuk membangun dan menjaga semangatnya tetap tinggi.

Maka terimalah ini dengan damai, bahwa dua orang yang seimbang dalam kompetensi – akan mencapai kualitas kehidupan yang berbeda,
yang perbedaannya ditentukan oleh tingkat motivasi yang dibangun dan dijaga di dalam diri mereka.

Sehingga, semakin Anda merasa tidak bertenaga,
semakin terlibatlah dalam pekerjaan-pekerjaan yang menghasilkan pengertian baru mengenai yang Anda kerjakan,
agar Anda mengenal mereka yang Anda layani dengan lebih baik,
mengerti nilai apa saja yang menjadikan seseorang pantas untuk dihargai tinggi,
dan mudah-mudahan kemudian Anda tercerahkan mengenai tugas kehidupan Anda yang dirancangkan oleh Tuhan.

Tuhan Telah Menetapkan Rezeki Kita. Bukan Pada Jumlahnya Tetapi Pada Syaratnya.


Sahabat saya yang berhak bagi sebesar-besarnya rezeki,

Marilah kita mulai dengan menerima formula yang ketetapannya sudah dibuktikan sejak lahirnya kemanusiaan, bahwa:

Rezeki kita kecil, jika kita bernilai kecil bagi orang lain.
Rezeki kita besar, jika kita bernilai besar bagi orang lain.

Dan satu lagi,



Rezeki itu bukan hanya uang.

Rezeki itu meliputi semua rahmat Tuhan bagi kita, yang bisa berupa kesehatan, kedamaian, ilmu, keluarga yang sejahtera dan berbahagia, nama baik, dan pengaruh yang besar untuk memajukan kebaikan dan mencegah terjadinya keburukan.

Dan yang tertinggi nilainya dari semua rezeki adalah IMAN kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Apakah ada yang lebih indah daripada hidup dalam keimanan, berpamitan dari kehidupan dunia dalam keimanan, dan memasuki surga dalam keimanan?

Maha Besar Tuhan, dengan semua kekuasaan dan kasih sayang-Nya.

Maka,

Marilah kita membesarkan nilai kita bagi orang lain, dan mengikhlaskan penghitungan imbalannya kepada Tuhan.

Janganlah seperti dia yang malas, penunda, dan peragu, tetapi yang galak menyalahkan orang lain yang tidak memuliakan kehidupannya.

Orang yang malu untuk mengajukan dirinya yang bernilai – dan menghindari bekerja bagi keuntungan banyak orang, harus berani menjadi orang yang tidak dibutuhkan.

Orang yang tidak dibutuhkan, tidak akan dinilai.

Karena,

Tingginya kebutuhan orang lain atas peran kita, menentukan tingginya penghargaan atas kehadiran kita.

Janganlah juga seperti dia yang malas untuk menjadikan dirinya pandai,
menunda pekerjaan bagi kebaikan orang lain,
dan meragukan kemungkinan berhasil dari rencana-rencananya sendiri;
tetapi marah dalam doa-doanya yang menuduh Tuhan berlaku tidak adil.

Tuhan Maha Adil.

Yang bernilai bagi orang lain, akan dijadikan-Nya bernilai.

Apakah kita sampai hati,
meminta Tuhan menjadikan orang yang malas, tidak jujur, dan penggerutu – untuk hidup dalam keindahan yang disediakan untuk jiwa-jiwa baik yang bermanfaat bagi saudaranya?

Ada kepantasan bagi segala sesuatu.

Jika yang kita minta besar, maka pantaskanlah diri kita untuk menerima yang besar.

Dan jika kita mengeluhkan kecilnya penghormatan orang lain kepada kita, mungkin itu adalah pemberitahuan untuk memeriksa yang sedang kita lakukan,
agar kita tidak melanjutkan sikap dan perilaku yang memantaskan kita bagi penghormatan kecil dari orang lain.

Perhatikanlah, bahwa

Selalu ada pemberitahuan untuk memperbaiki diri didalam keluhan kita sendiri.

………..



Dan untuk adik-adik saya yang besar impiannya,

Jadikanlah kehadiran mu di antara orang banyak, sebagai kehadiran yang menguntungkan.

Jika rezeki mu penting, maka pentingkanlah peran mu bagi kebaikan orang lain.

Jadikanlah diri mu pandai, rajin, dan jujur.

Tuhan telah menetapkan rezeki kita.
Bukan pada jumlahnya, tetapi pada syaratnya.

Maka,

Jadikanlah diri mu pandai, agar rezeki mu adalah rezeki orang yang pandai, yang bermanfaat bagi banyak orang karena ilmunya.

Rajinkanlah diri mu, agar rezeki mu adalah rezeki orang yang melakukan banyak hal yang menyenangkan banyak hati, yang menjernihkan kehidupan orang yang sedang kalut, yang menguatkan mereka yang sedang lemah, dan yang menunjukkan jalan keluar bagi mereka yang sedang tersesat.

Jujurkanlah diri mu, agar rezeki mu adalah rezeki orang yang amanah dalam memangku tugas, yang menasehatkan kebenaran, dan menasehatkan kesabaran.

Jadikanlah yang kau lakukan sebagai bukti dari kebenaran yang kau katakan.

Dan janganlah engkau mengatakan yang tidak akan kau lakukan.

Setialah kepada yang benar.


Jadikanlah diri mu teladan dalam penyetiaan diri kepada yang benar,
karena dengannya Tuhan akan mengutus semua kekuatan di alam ini untuk menjadi pembuka jalan bagi mu, menjadi pemelihara kebaikan mu, dan menjadi penjaga dari fitnah dan keburukan.

Apakah tadi aku mendengar hati mu mengatakan, amien …?

Adikku, itu penting sekali.

Apa pun yang baik dari perkataan orang yang kau dengar atau yang kau baca, katakanlah ‘amien …’ dengan setulus-tulusnya, karena dengannya engkau menjadikan kebaikan yang dikatakan dan dituliskan itu sebagai doa mu.

Dan karena engkau mengatakannya bersama banyak orang yang juga mendengar dan membacanya, maka sebetulnya kekuatan dari doa mu dikalikan dengan pelipatan yang sangat besar.

Sudah lebih jelas sekarang bagi mu, mengapa engkau dianjurkan untuk bergaul dengan mereka yang baik?

Dalam pergaulan yang baik, engkau akan selalu menemukan kebaikan, engkau akan mendengar dan membaca kebaikan, yang cukup dengan sedikit keikhlasan mu untuk mengucapkan amien …, akan memaafkan tahun-tahun panjang yang pernah kau lewatkan tanpa doa dan ibadah, dan menggantikannya dengan masa kini dan masa depan yang lebih lapang dan damai.

Engkau adalah kekasih Tuhan.

Maka berlakulah yang pantas bagi kedekatan yang demikian indah dengan Tuhan.

………..

Sahabat saya yang terkasih,

Begitu dulu ya?

Mudah-mudahkan Tuhan menguatkan kita untuk mencapai perubahan besar yang sudah lama kita niatkan itu.

Apakah tadi Anda mendengar diri Anda mengatakan ‘amien …’?

Super!

Marilah kita tetap bersaudara dan bersahabat dalam kebaikan.

Cara Terbaik Untuk Mewujudkan Impian Kita Adalah Segera Bangun Dan Bekerja Keras

Cara terbaik untuk mewujudkan impian kita adalah segera bangun, dan bekerja keras.

Mudah-mudahan Anda
termasuk pribadi yang SIBUK.

Karena,

Dia yang lemah dan paling kecil - tetapi sibuk, akan lebih berhasil daripada dia yang kuat dan cerdas tetapi lamban dan malas.

Memilki impian yang besar atau tidak,
tugas kita adalah
memulai, melanjutkan, bertahan, dan meneruskan.

Tugas kita bukanlah untuk berhasil.
Tugas kita adalah untuk mencoba.

Mario Teguh Short Message, Jan.2010
Photo AlbumGraha Teluk JakartaOct 23, '07 12:02 AM
for everyone





BARONANG.jpg
  




MARLIN.jpg
  




GINDARA.jpg
 1 Comment 




KRAPU.jpg
  

Sabtu, 06 Februari 2010

KADO AKHIR TAHUN

Sudah puluhan kali, aku bolak-balik ke ruangan Senat. Tapi, gak ada satupun makhluk yang nongkrong disana. Biasanya kalo gak Yhuzhof, Ilyaz, Aris, Sapti, atau Rini, selalu terlihat batang hidung dan kedua matanya. Tapi, kali ini mereka yang sering dijuluki 5 sekawan oleh anak-anak kampus, memang seperti benar-benar di telan bumi. Ahh…sedahsyat itukah bumi menelan mereka?. Mau kasih undangan Seminar dari kampus kakak aku, yang kebetulan adalah bekas teman SMA mereka berlima.
Mau kemana lagi yach mencari mereka berlima? Susah banget. Seperti mencari jarum dalam jemari eh jerami. Di Perpustakaan, tempat favorit mereka, juga udah ditelusuri, tidak ditemukan jejak langkah mereka berlima. Di ruangan HMJ FIKOM ( Himpunan Mahasiswa Jurusan Fakultas Ilmu Komunikasi ) juga gak ada. Di ruangan Siaran Radio Kampus juga apalagi. Huft…daripada pusing begini, mendingan aku ke warnet aja. Browsing apa keq, yang berbau pengetahuan. Lumayan buat nambah-nambah wawasan.

Tanpa menunda waktu lagi, aku langsung menuju warnet depan kampus. Warnet BEBAS ONLINE, namanya. Milik salah satu mahasiswa kampus yg udah 2 tahun lulus. Hebat juga yach, hari gini udah bisa membangun usaha sendiri. Walaupun modal awal mungkin dari papi dan mami, tetap aja patut diacungi jempol dan angkat topi. Karena udah punya jiwa Enterpreuner, mau mandiri dan bisa menciptakan lapangan pekerjaan buat diri sendiri dan orang lain. Hahhaha….koq jadi ngomongin orang sih. Khan mau cari Pandawa 5, eh 5 sekawan.

“ Maaf yach Mba Indah…, roomnya penuh semua. Udah full. “ Penjaga warnet, Mas Anto memberitahu aku.
“ Emang tidak disisakan untuk aku yach Mas…? 1 kursi aza.”
Aku cukup kecewa banget. Padahal udah semangat mau internetan. Kan bisa chatting tuch sekalian. Biar aja lah mereka berlima gak berhasil aku temukan, daripada kepala pusing nyari yang gak ada.
“ Yee…si Mba ini, kalo dikasih tau gak ngerti dech, Full Mba….” Mas Anto sekali lagi bikin pengumuman.
“ Ya udah sih…sepele, gitu aja.” Aku meninggalkan warnet BEBAS ONLINE dengan tertawa-tawa, melihat Mas Anto bĂȘte mendengar ucapan aku tadi.
Padahal, aku becanda. Ketika menengok ke belakang ku lihat Mas Anto masih terlihat manyun, kemungkinan besar sih bibirnya maju 10 senti ( hehehhee….. ).
Tiba-tiba ponselku bergetar. Ada sms masuk kayaknya. Ku lihat segera, ternyata dari Aris. “ Indah… buruan ke sini ya, Yhuzhof kecelakaan. Ada di Rumah Sakit CEPAT SEMBUH , naik taxi aja. Tar kita ganti ongkos taxinya. Gak usah balas sms ini, ribet. Pokoknya, buruan yach…!”

Ya Tuhan…apa yang terjadi sih?. Aku segera memasukkan ponselku ke dalam tasku. Menghentikan taxi yang kebetulan udah lewat di depanku. Setelah memberitahu tujuanku kepada supir taxi. Aku segera masuk ke dalam taxi bertarif normal dan duduk di bangku belakang. Agak aman dan nyaman rasanya di dalam taxi. Tapi pikiran sangat gak tenang banget, ku gak berhenti bertanya-tanya, kejadian yang menimpa Yhuzhof saat ini. Gimana keadaan teman aku yach..? mudah-mudahan selamat. Tidak kurang suatu apapun. Semoga…Ya Tuhan.

Saat pikiranku melayang ke Yhuzhof, tiba-tiba supir taxi menghentikan mobil secara mendadak. Aku kaget bukan kepalang. Di depan taxi, udah berdiri seorang laki-laki berambut gondrong yang hampir menabrak taxi yang ku tumpangi. Supir taxi membuka jendela mobil, dan mengeluarkan kepalanya sambil berteriak marah, mengeluarkan kata-kata “ Goblok banget sih loe, mata loe dimana? Nyebrang sambil lari. Bosan hidup yach loe??” wihhh…sadis banget ucapannya. Untung bukan aku yang di posisi laki-laki itu. Untung Supir taxi, yang bernama Fery ( karena lihat kartu identitasnya yang tergantung di kaca mobil sih… ) itu tidak keluar dari mobilnya. Bisa-bisa tambah dicaci maki dech laki-laki itu. Cukup manusiawi lah, karena kecerobohan laki-laki itu bisa membawa supir taxi ini berurusan dengan banyak hal.
Aku cuma melihat laki-laki itu menganggukkan kepalanya dan mengangkat kedua tangannya sebagai tanda permintaan maaf pada supir taxi. Sikap yang baik ! Dan laki-laki itu berlalu dari pandangan kita berdua.
Aku meneruskan perjalanan kembali bersama supir taxi menuju Rumah Sakit tempat Yhuzhof di rawat. Ahh…betapa panjangnya perjalanan ini. Andai bisa merentangkan sayap dari tubuh ini, hingga aku bisa segera tiba melihat keadaan temanku secepatnya. Sayangnya, aku berada di negeri realita bukan di negeri dongeng.
20 menit berlalu, akhirnya ku tiba dengan selamat di Rumah Sakit CEPAT SEMBUH. Aku segera menuju ruang UGD, mencari keberadaan teman-temanku. Mereka berlima semua Kakak Tingkatku di kampus. Tanpa bertanya lagi, aku menyeruak masuk ke ruangan UGD. Berharap langsung bertemu Yhuzhof dan kawan-kawan disana.
Pintu ruangan UGD terkuak. Mataku mulai mencari, satu demi satu wajah yang sedang terbaring di sana. Dalam keadaan yang macam-macam pula. Tibalah mataku terhenti pada seorang laki-laki yang sedang terbaring tak berdaya di tempat tidur UGD. Wajahnya babak belur, bengkak-bengkak dan begitupun dengan seluruh badannya. Sungguh memprihatinkan sekali.

Ya Tuhan…aku terlonjak kaget. Bukankah laki-laki itu yang hampir menabrak taxi yang ku tumpangi tadi? Kenapa dia bisa ada di sini?. Untuk menghilangkan rasa penasaran di hati, maka ku hampiri laki-laki yang sedang di obati oleh Perawat wanita itu. Laki-laki itu juga terperanjat melihat wajahku. Melihat kehadiranku di ruangan itu. Seperti melihat setan di sore hari.
“ Selamat sore…Suster…, “ aku melirik kartu tanda pengenal yang tergantung di kemeja putihnya. Owhh….Suster Tri, namanya. Hmmm…cantik juga. Pikirku dalam hati.
“ Maaf…Suster Tri, saya mau bertanya…apa ada teman saya yang bernama Yhuzhof di ruangan ini? Kecelakaan Suster. Entah kecelakaan apa.”
Mataku tak henti-hentinya menatap laki-laki itu. Laki-laki itu cuma tertunduk malu. Tak berani menatap wajahku. Sebenarnya laki-laki ini tampan, cuma sayang penampilannya kurang rapi. rambutnya gondrong, di kanan dan kiri wajahnya ditumbuhi cambang, terlihat dekil, bajunya pun kusut, seperti tidak disetrika.
“ Oh…sudah dibawa ke lantai 3 tadi, Mba, silakan tanya di lantai 3 aja, untuk mengetahui di kamar nomor berapa.” Suster Tri menjelaskan.
Aku segera mengucapkan terima kasih dan pamit pada Suster Tri. Aku sudah tak menghiraukan laki-laki malang itu lagi. Aku segera naik ke lantai 3, dan mencari informasi. Setelah mendapatkan info, aku segera masuk kedalam kamar No. 318.
Pintu kamar no. 318 terbuka setelah ku ketuk dan memberi salam.
Aris, Ilyaz, Sapti dan Rini berdiri mengelilingi Yhuzhof yang terbaring lemah di tempat tidur. Kaki dan paha sebelah kiri Yhuzhof memar, biru-biru. Ternyata Yhuzhof jatuh ke trotoar karena di serempet motor oleh pengendara motor, yang mengendarai motor dengan kecepatan tinggi. Karena kehilangan keseimbangan maka Yhuzhof pun jatuh ke trotoar jalan.
Uhh…leganya. Temanku tidak mengalami hal yang sangat memilukan. Masih beruntung, diberikan keselamatan oleh Tuhan. Setelah berbicara banyak dengan Yhuzhof, aku pulang ke rumah bersama Sapti dan Rini. Sedangkan Aris dan Ilyaz menjaga Yhuzhof. Sambil menunggu kedatangan kedua orang tua Yhuzhof.

***************

Selesai kuliah jam 11 siang, aku langsung pulang ke rumah. Tadinya sih mau ke ruangan Siaran dulu, tapi hari ini aku absen buat siaran di radio kampus. Biar aja Ardian yang menggantikannya. Aku harus pulang cepat, karena di rumah gak ada Mbak Iyem. Dia pulang kampung dari kemarin. Minta izin menghadiri saudaranya yang menikah dengan Pak Lurah. Hehhehe….jadi isteri ke 2 sih, tapi gak apa-apa lah, yang penting hidup terjamin, begitu kata Mbak Iyem, padaku sebelum pulang kampung.
Angkot yang ku naiki sudah berhenti di depan Supermarket BELANJA SEPUASNYA. Aku membayar ongkos angkot dengan uang pas. Dan masuk ke dalam supermarket. Mama menitip banyak daftar belanjaan. Karena semua stok di rumah udah pada habis. Aku seneng banget nih kalo di suruh belanja sama mama. Bisa cuci mata, dan bisa beli cemilan-cemilan buat di rumah. Sesuai pilihan aku, hehehhehe......
Aku mulai memilih barang-barang belanjaan seperti yang tertera dalam daftar yang ku pegang. Aku mengambil troli, agar barang belanjaanku bisa masuk semuanya ke dalam troli. Ketika, aku sibuk memilih barang-barang kebutuhan dapur, aku melihat seorang laki-laki yang tengah sibuk memilih sesuatu juga. Tapi koq, tingkahnya aneh. Seperti tidak tenang. Berpindah dari tempat yang satu. Diam. Lalu pindah lagi ke tempat lain, sambil tengok-tengok ke lorong lain. Wahhh…kayaknya aku mencium sesuatu yang kurang baik nih, tapi, aku gak boleh menuduhnya dulu. Nanti, malah menjadi fitnah.
Dengan rasa penasaran, aku hampiri laki-laki yang gelagatnya terlihat aneh itu.
“ Kamu…?? “ Aku kaget ketika laki-laki itu menatap wajahku. Laki-laki yang hampir tertabrak taxi, kemarin . Wajahnya seperti mau marah kepadaku. Aku jadi takut.
Laki-laki berambut gondrong itu mendekatiku. Aku menahan nafas. Takut dia mencelakakan aku. Aku benar-benar takut. Mata laki-laki itu merah sekali.
“ Kamu ngapain disini?? Hah…., selalu bertemu aku, rusak semuanya, tau!” Laki-laki itu melotot sambil mengacungkan jari telunjuknya pada wajahku.
Aku diam saja. Tapi, mataku terus menatap laki-laki itu. Dengan segala keberanian yang ada, aku singkirkan jari telunjuknya dari hadapan wajahku. Jari telunjuk yang dia acungkan saat itu udah seperti mata pisau yang siap menikam kedua bola mataku.
“ Dengar yach Mas gondrong…( aku gak tau harus panggil dia apa, karena aku gak tau nama dia. ), aku gak pernah minta sama Tuhan untuk dipertemukan sama mas terus, aku bukan mau mengganggu mas, emang aku lagi belanja disini! Jadi harap, jangan bilang aku mengganggu mas!” Huft…lancar juga aku mengucapkannya. Padahal, hatiku benar-benar diselimuti ketakutan yang teramat sangat.
Laki-laki itu menyingkirkan jari telunjuknya dari wajahku. Dia menatap wajahku beberapa saat. Dia seperti tersiram air yang sangat panas, mendengar kata-kataku yang tajam dan keras. Aku cuma mengucap syukur dalam hati. Laki-laki itu tidak berbuat kasar sama aku.
“ Kamu…bilang apa tadi, hahhh….Tuhan? apa kamu udah pernah ketemu Tuhan selama ini?? Laki-laki itu mengajukan pertanyaan padaku. Tajam dan dalam.
“ Iya. Udah. Setiap hari, Mas gondrong.” Ujar ku cepat. Laki-laki itu cuma diam mendengar jawabanku. Tak ada siapapun di lorong itu, gimana kalo dia benar-benar marah. Aku pasti akan berteriak meminta pertolongan atau kabur menjauh.
“ Dimana…hahh? Kasih tau aku!” Laki-laki itu bertanya lagi. Laki-laki yang aneh. Masa lagi belanja nanyain keberadaan Tuhan segala. Disini kan bukan tempatnya. Pikirku. Tapi gak ada salahnya, untuk menjawab pertanyaan laki-laki ini.
“ Disini dan disini. Di dalam pikiran dan hatiku.” Jawabku lembut, sambil menunjuk ke kepala dan dadaku.
Laki-laki itu menatapku kembali. Pandangannya mulai menyurut, tak lagi tajam dan marah. Lalu dia pergi meninggalkan aku tanpa bicara apapun lagi. Dia pergi tanpa membawa barang-barang. Aku memperhatikan kepergiannya. Sampai dia keluar dari Supermarket itu. Ketika di depan supermarket, laki-laki itu berhenti, dan menoleh ke belakang. Ya ampun, dia tau aku perhatikan. Ahh…bodo amat. Aku cuma berdoa, semoga aku tidak bertemu lagi dengan laki-laki aneh itu di kemudian hari.

***************

Badanku terasa pegal semuanya. Letih dan lelah. Seharian di kampus. Pulang kuliah, siaran di kampus sampai sore. Dari sore sampai malam, ngumpul di Senat buat siapin acara tahun baru bersama anak-anak jalanan dan gabung sama Rumah Cinta, Yayasan Sosial yang didirikan oleh mahasiswa kampus ini, sebagai wadah untuk anak-anak jalanan agar bisa mengembangkan diri, menjadi anak-anak yang penuh kreatifitas. Mereka semua dibekali pendidikan layaknya anak-anak Indonesia, ditambah dengan bekal pendidikan non akademis, yang mengarah pada keahlian pribadi berdasarkan hobi dan minat masing-masing anak.
Bersama-sama temanku di Senat, menyumbang sedikit ilmu dan kreatifitas untuk berbagi dengan mereka. Anak-anak jalanan yang butuh pendidikan dan kasih sayang. Aku pun sesekali membantu Rumah Cinta, dengan mengisi waktu dan membagi ilmuku, mengenai Bahasa Inggris dan Broadcast, untuk mereka, puluhan anak-anak jalanan yang biasa dikumpulkan di rumah Mico, Pendiri Yayasan Rumah Cinta.
Aku sudah memasuki wilayah komplek rumahku. Yang di jaga oleh 2 orang security komplek yang setia menjalani tugasnya setiap hari, Bapak Anton dan Bapak Donie. Tapi malam ini, kedua security itu tidak terlihat keberadaannya. Entah lagi keliling dimana. Biasanya sih, mereka selalu kutemui di depan pintu gerbang komplek ini. Tapi mungkin mereka berdua sedang berkeliling komplek. Mengawasi situasi dan kondisi, hingga dalam situasi aman dan terkendali ( hehehhe….itu khan bahasa aparat keamanan, aku cuma nyontek dech….).
Memasuki blok kedua, aku melihat ada huru hara disana. Sekelompok orang sedang mengeroyok seorang laki-laki. Mereka tidak menggunakan alat, tapi mereka yang berjumlah 4 orang melayangkan tinju, sampai berkali-kali ke wajah laki-laki itu.
Aku berlari mendekat, untuk mengetahui siapa sih yang sedang mereka keroyok.
“ Yaaa…ampun. Stop. Stop.” Aku berteriak. Berusaha menyudahi pengeroyokan ini.
Laki-laki yang sedang mereka keroyok adalah laki-laki berambut gondrong. Aku lihat laki-laki itu sudah merah lebam wajahnya. Ada darah mengucur dari bibir dan pelipis wajahnya. Semua yang mengeroyok langsung menghentikan aksi mereka sesaat setelah mendengar teriakanku.
“ Eh…Mba Indah…ada apa toh Mba…?” Irfan, tetanggaku bertanya.
“ Ada apa sih Mas Irfan…? Kenapa ribut – ribut begini? Ini siapa yang lagi dikeroyok? Dia salah apa Mas…?” pertanyaanku bertubi-tubi.
“ Dia mau maling, Mba..mau ambil tape mobil saya.” Irfan menjelaskan masih dalam keadaan emosi. Pemuda yang lain hanya diam saja.
“ Maling..?? kamu…? Bener Mas gondrong…? Tanyaku pada laki-laki yang udah tidak terlihat bentuk wajahnya. Bengkak disana-sini. Benar-benar tidak percaya. Waktu itu ketemu di Rumah Sakit, dalam keadaan babak belur, trus ketemu di Supermarket, mau mencuri barang-barang. Sekarang di komplek rumahku. Kenapa orang ini tak pernah jera juga sih?. Tanyaku dalam hati.
“ Namanya bukan Mas gondrong, Mba Indah…, tapi Tiar. “ Ujar Irfan.
“ Apa..?? Tiar…?” Aku terperanjat mendengar nama itu diucapkan, Aku pernah mendengar nama itu dari mulut Papa, yang selalu menceritakan nama itu dahulu, sekitar 2 tahun yang lalu tepatnya. Tiar, anak teman bisnis Papa, yang sekaligus juga bekas teman seperjuangan Papa dulu waktu di kampus, saat zaman Orde Lama berkuasa. Apakah ada kesamaan yach…? atau hanya kebetulan saja, dengan nama yang sama?.
“ Nama lengkap Mas siapa…? Boleh aku tau Mas…?” Aku bertanya pada laki-laki itu. Laki-laki yang bernama Tiar itu hanya diam. Dan diangkat wajahnya. Menatap wajahku. Sungguh kasihan melihatnya. Benar-benar terhina. Duduk di aspal dengan keadaan mengenaskan, dengan pakaian yang sudak acak-acakan, dan wajah yang gak karuan.
“ Raden Mas Bahtiar Saputro.” Akhirnya laki-laki itu menyebutkan namanya.
“ Ya Tuhan…, emang bener laki-laki itu, adalah anak teman bisnis Papaku. Tapi, kenapa nasibnya seperti ini? Bukankah Tiar, seperti Papa bilang sekolah Bisnis di Amerika? Kenapa sekarang jadi pencuri? tragis sekali jalan hidup laki-laki ini.” Gumam ku dalam hati.
“ Baiklah Mas Irfan dan semuanya. Kalo emang bener dia pencuri, mari kita bawa ke pos security untuk diproses lebih lanjut. Tak usah dihakimi. Dan saya akan menghubungi Pak RT dan Papa, agar Papa menghubungi orang tua Tiar. Karena orang tua Mas Tiar adalah teman bisnis Papa saya.“ Aku memberi solusi terbaik untuk mereka. Untuk Tiar juga.
Akhirnya mereka berempat membawa Tiar bersama-sama ke pos security. Disana udah ada Bapak Anton dan Bapak Donie. Mereka memproses semua masalah pencurian yang dilakukan Tiar. Pak RT dan Papaku segera ku hubungi. Mereka datang dalam waktu singkat.
Setelah Papa datang melihat keadaan Tiar, Papa memeluk Tiar erat. Seperti anaknya sendiri. Papa menitikkan air mata ketika memeluk Tiar. Begitu pun dengan Tiar, dia benar-benar menangis. Seperti kedua sahabat yang berpisah lama dan saling mencari, hanya untuk melepaskan rasa rindu. Tidak pernah mereka berdua berpikir akan dipertemukan kembali dalam keadaan seperti ini.
Papaku, Adam Rabinson adalah teman dekat Papa Tiar, Raden Mas Avianto. Mereka berteman dari sejak kuliah sampai mereka memiliki putra putri. Papa Tiar, adalah pengusaha property yang sukses, hingga sanggup menyekolahkan Tiar ke luar Negeri. Tiar adalah anak tunggal. Sedangkan Papaku memiliki 2 orang putri, aku dan kakakku, Wulandari. Dan Papaku adalah pengusaha Furniture yang sedang berjuang menuju sukses.
Namun, selama itu pula aku belum pernah dikenalkan Papa dengan Tiar, begitu juga sebaliknya. Aku dan kakakku hanya mendengar cerita tentang keluarga mereka saja. Selalu diselimuti kebahagiaan dan kesuksesan. Tak pernah terdengar kata kesedihan, apalagi sampai menyaksikan Tiar seperti ini. Roda telah berputar, bahkan teramat cepat. Membalikkan semua yang indah dan bahagia, menjadi sebuah cerita hidup yang tak pernah terbayangkan.
Papa membawa pulang Tiar ke rumah, untuk bermalam. Sedangkan kasus pencurian di komplekku langsung ditutup dengan sebuah perdamaian, berdasarkan musyawarah bersama. Keluargaku sangat senang menyambut kedatangan Tiar, karena Papa sangat berhutang kebaikan dengan Papa Tiar. Papa Tiar lah yang banyak membantu permodalan Papaku saat dulu Papaku mengalami masa-masa sulit menjadi pengusaha kecil.
Semalaman kami berempat mendengarkan cerita tentang Tiar, papanya mengalami kebangkrutan usaha 8 bulan lalu. Usahanya ditutup. Dan Papa Tiar membayar semua hutang-hutang pada pihak ketiga dengan menjual semua asset pribadinya. Karena asset perusahaan tidak mampu mencukupi jumlah hutang yang membengkak. Saat kesusahan menyentuh Papa Tiar, Mamanya pergi meninggalkan Papa Tiar. Papa Tiar mengalami depresi berat. Dan sekarang berada di Rumah Sakit Jiwa. Tiar yang sedang kuliah di Amerika, terpaksa pulang ke Indonesia dan bekerja serabutan, dengan modal ijazah SMA. Karena tidak cukup untuk membiayai hidup Papanya dan dirinya sendiri, Tiar beralih profesi menjadi penjual obat-obat terlarang ( Psikotropika dan sejenisnya ), dan sering kucing-kucingan dengan Polisi bila ada penggeledahan di Pub atau Diskotik tempat Tiar mencari mangsa. Selain itu, Tiar juga sering menjalankan aksi pencurian aksesoris kendaraan bermobil di malam hari, siangnya Tiar juga suka mencopet di pasar-pasar atau di angkutan umum. Hanya untuk membiayai pengobatan Papanya. Tak ada satu orang saudara pun yang membantu Papa Tiar. Mereka hanya menikmati kesenangan saat Papa Tiar berjaya, saat terjatuh, mereka semua lari tunggang langgang.

***************

“ Mau ikut ke acara teman-temanku malam ini, Mas Tiar? “ aku membuka percakapan. Di teras rumah…sambil menyiram tanaman-tanaman milik Mamaku.
“ Aku malu, Indah…,” Tiar ikut membantu merapikan rumput-rumput yang sudah tinggi di taman, dia mengguntingnya rapi. Dan Tiar pun sekarang rambutnya udah rapi. Udah tidak gondrong lagi.
“ Koq malu sih, Mas…? Ya gak apa-apa, Mas bisa terbuka lagi nanti pikirannya, bisa dapat pencerahan baru, Mas…”
“ Betul sih…tapi apa aku masih bisa diterima mereka?” Tiar masih ragu. Walau sebenarnya mau ikut.
“ Pasti mereka nerima, Mas…, tidak semua orang sukses itu memiliki alur hidup yang lurus-lurus aja Mas… mereka bisa berhasil karena mereka mau bangkit dari kesalahan, dan mau belajar untuk merubah hidup mereka, dengan berusaha berbuat lebih baik lagi, begitu lho yang Indah pelajari di kampus. Maaf yach, Mas Tiar jangan tersinggung…..,” sambil merapikan selang air, dan aku duduk di pinggir taman. Tiar juga sudah selesai menggunting rumput. Ikutan duduk bersama aku, menghadap ke arah jalan raya.
“ Kamu berhati baik, Indah…,” Tiar memuji aku. Aku cuma tersenyum.
“ Terima Kasih yach…udah menolong aku malam itu, kalo gak ada kamu, mungkin aku tidak berpikir untuk merubah hidupku, kamu benar, memang Tuhan yang mempertemukan aku dengan kamu. Tuhan sudah mengatur semuanya, agar aku punya malaikat kecil yang bisa memberiku jalan terang…menuju cahaya.”
“ Ahhh…Mas Tiar nih, so sweet banget dech, ya udahlah…yang pasti mas mau khan ikut ke acara aku nanti malam…..? Bisa dipastikan Mas Tiar akan berubah 360 derajat dech pas hadir disana, sekalian sumbang keahlian main gitar dan menyanyi yach…anak-anak Yayasan Rumah Cinta pasti bahagia dengan kehadiran Mas malam ini, bisa berbagi cerita…dan memotivasi mereka untuk menjadi orang yang lebih baik lagi di tahun yang akan datang.”
“ Bukan cuma mereka yang bahagia nanti malam, Indah…” Tiar menatap aku. Gak seperti waktu bertemu pertama kali. Penuh amarah dan rasa benci.
“ Tapi aku juga…seperti mendapat kado yang tak terlupakan di akhir tahun ini, “ Wajah Tiar memancarkan kebahagiaan, yang beberapa bulan lalu telah direnggut dari kehidupannya. Sebuah realita hidup yang harus dijalani walaupun sangat pahit dan getir.

Begitulah kehidupan manusia, harus bisa menerima cobaan hidup yang diberikan Tuhan, agar bisa berpikir dan terus berpikir untuk keluar dari masalah dan ujian, untuk menjadi pribadi yang LEBIH BAIK bahkan pribadi yang lebih HEBAT, hingga bisa membimbing dirinya dan sesamanya untuk tetap berbuat kebaikan sepanjang hidup.
“ Ya aku setuju…., tapi, 1 syarat yach untuk kamu, “ Tiar menyanggupi permintaan aku, dengan mengajukan syarat. Duhhh…apaan yach…? Jangan yang susah –susah keq, ujarku dalam hati.
“ Apa Mas…? “ aku menunggu jawaban dengan perasaan dag dig dug.
“ Besok pagi, ikut aku tengok Papaku yach….? Mau mengenalkan hadiah tahun baru aku ke Papa, hahhahaa…..” Tiar tertawa terbahak-bahak.
“ Boleh…siapa takut, Mas…!” Aku ikut tertawa bahagia juga.
Terima Kasih Tuhan, telah kau percikkan Cahaya-Mu untuk menerangi hati temanku yang dahulu gelap. Semoga Tiar dan Papanya bisa mereguk kebahagiaan yang dulu pernah hilang. Terima Kasih Tuhan, Engkau telah mempertemukan aku dan keluargaku dengan Tiar, Sujud Syukur pada-Mu Tuhan.

***************

Jakarta, 31 Desember 2009



Menjelang Malam Tahun Baru 2010

Jumat, 05 Februari 2010

IBU

By : Duduls Lebay ( ID Facebook )

Ringkih dan renta ditelan usia,
namun tampak tegar dan bahagia.
Ikhlas, memancarkan selaksa cinta penuh makna
yang membias dari guratan keriput di wajah.

Jemari itu memang tak lagi lentik,
namun selalu fasih menyulam kata pinta,
Indah... semua begitu indah dalam alunan cintamu,
menelisik lembut, membasahi lorong hati dan jiwa
yang merindu kasih sayangmu.

PESANKU KASIHKU....

By : Duduls Lebay ( ID Facebook )

Mataku…. membuncah kenangan cantik
Bumi berguncang melihat indah tubuhmu
Bersorak bahagia terlihat jelas dari binarnya…

Sekali melihatmu mata ini bagai singa yang merindu belaian….
Ingin ku memelukmu dan tak kan kulepaskan….
Mencumbumu harapanku kemudian….

Dan tiba-tiba binar itu redup seiring dengan datangnya kelam…
Kepergianmu tanpa pesan dan senjapun tenggelam
Meninggalkan sinar yang tadi memancar terang menjadi silam

Ku tak tak tahu kapankah kau kan kembali
Kebimbanganmu atau hasratku yang memaksa kau pergi….
Inilah mataku yang bergejolak menantimu disini…

Debu

By : Duduls Lebay ( ID Facebook )


Terkibas karena tak berguna
Menghilangkan kotor yang melekat...
Meski mencoba bertahan erat…
Tiada guna pun tak berarti….
demikian kah arti keberadaanku….

cendawan tumbuh subur diwaktu hujan….
Tapi dia akan musnah jika musim itu berganti…
Dan aku ingin menjadi pucuk daun diwaktu hujan…
Tumbuh menjadi ranting ketika kemarau….

Pinta senantiasa terucap
Dari tangan yang sudah tak lagi kuat terangkat…
Impian berjalan beriringan dengan harapan…
Hingga debu ini tinggal tetap…
Tidak diterbangkan oleh kibasan…

SAYAP

By : Duduls Lebay ( ID Facebook )




Kepakan sayapku patah…..
Terhempas kasar kedasar tanah…..
Harapan pupus sudah….
Kuputuskan tuk tetap melangkah…
Kunantikan mujizat yang kuanggap punah…..

merpati sebagai mana terbangnya merpati…..
kelinci sebagai mana lompatan kelinci….
anugerah atau musibah…..
hukuman atau berkah….
Mensyukuri atau berharap lebih….
Meski kadangkala perih….
Itu sudah terjadi….
dapatkah terulang kembali

Rabu, 03 Februari 2010

Hapus saja


Bukankah kamu yang membujuk aku
Untuk yakin padamu ?

Bukankah kamu juga yang mengitari relung hatiku dengan
Sebongkah kerinduanmu ?

Bukankah kamu juga yang ingin menjadi pemenang di hatiku ?
Lupakah semua itu ? Wahai sang pecundang ?

Kau tlah menikamku dari belakang,
Sebuah tusukan terperih seumur hidupku.
Cocoklah untukmu…..dan semua tentangmu.
Hapus saja dari hidupku.

Tawa panjangku siap menemani tangismu
Seumur hidupmu.

Dengar baik - baik ucapku.....
Jangan temukan aku lagi !!!


Jakarta, 2 Februari 2010

Rindu yang Sebenarnya


Penyiksaan itu….
Sungguh ku tak percaya,
Belum genap setahun khan ?

Ku berlari menatap cermin
Di sudut kamarku,
Lihatlah air mata itu !
Tanpa malu lagi….jatuh dan tumpah ruah sudah.
Menggenangi kedua bola mataku.
Terisak tak berdaya….kehabisan nafas.

Dan cerminpun ikut menunjukkan duka,
Tak pantas katanya aku seperti ini,
Katakan saja sana dengan si pembuat rindu,
Dan lepaskan belenggu rindu yang cukup lama
Terpenjara di hati.


Jakarta, 2 Februari 2010

Kisah Tentang Sahabat…..


Entah kau masih ingat....
Atau Engkau lupa….
Bagaimana kita tlah dipertemukan…
Tanpa aturan dan kesepakatan terlebih dulu….

Begitu jauh jarak kita….hingga ku membuatnya menjadi dekat.
Begitu lekat tatap mataku….
Dan begitu mengalir tenang pembicaraan kita saat itu…seakan kita tlah menyatu.
Bunga dan tanaman hias milik tuanmu….
Menjadi saksi perkenalan kita.
“ The Secret “…..yach aku ingat buku itu….
Bersemangat sekali, masuk ke telinga ku
Engkau ceritakan pelan – pelan , walau sulit tercerna.
Hingga aku memahami sebuah kegemaranmu.

Berlanjut ke pertemuan dimana aku membutuhkanmu….
Setelah kehilangan teman terbaikku.
Dan kita pun bersahabat….
Semua tercurah dari hatiku….dari hatimu….
Hingga segala tawa, sesak dan tangis kita berkumpul…..
Menguji kokohnya persahabatan kita.

Ketika terjaga di pagi hari…..
Terima kasih masih menjadi sahabat terbaikku….
Tanpa lelah…tanpa letih….menyapaku….berbagi denganku, Menginspirasiku….dan setia pula merindukanku,
Walaupun kita terpisah jarak dan waktu.

Jakarta, 2 Februari 2010
" Untuk Yuningsih, The Girl From Cianjur "

Akhirnya…….


Jalinan itu….
Sekejap mata….
Musnah berkeping – keping.
Kau pulung kepingan itu lagi. Percuma ! dan sangat!.
Karena cemburumu….
Karena ketakutanmu…..kehilangan seseorang
Yang menurutmu terbaik dan terhebat.
Padahal kau membangun pondasi yang salah.

Mana pernah kau lintaskan di benakmu yang pernah terjalin
Dengan susah payah….tak ada yang tersisa lagi,
Walau kau kembalikan waktu itu….

Akhirnya ….
Hanya penyesalan kau persembahkan dengan manis
Untukku.


Jakarta, 2 Februari 2010

Ku Tak Sanggup


Masih saja kau bertengger di sana….
Pergi dan jangan kembali !
Tak sanggup lagi ku melihatmu.
Terlalu kau melengkapi keterpurukanku.

Tak kah kau lihat aku ??
Tanpa aliran darah…tanpa denyut jantung lagi.
Masih tidak kau sadari juga…bahwa aku telah berteriak kencang padamu.
Setelah hitungan sekian kali bahkan beribu kali,
Jangan pernah ganggu aku !

Ku tak sanggup bersamamu….terlalu banyak sesak menghimpitku,
Biarkan ku tenang menikmati hidupku.
Berikan aku kesempatan saja….walau 1 kali,
Mengukir bahagia di hati untuk hidupku sendiri.


Jakarta, 2 Februari 2010
“ Untuk Lily Apriyana “

Selasa, 26 Januari 2010

Boss dan Tinta

Disini....Punya teman baru...Tina Hardjono, Lilly Apriyana, Tri Hartanto, Rudie, Yadie, Joni, Denny, Arif, Tedjo, Moel, Riswan, Roni, Iswan, Aa Tata, Pak Kisman....suasana baru...pekerjaan baru...semuanya indah...Eh...punya boss baru juga yang lucu...tiap hari gak pernah negur gw...gak menyapa gw...gak pernah marah sama gw, gak pernah tanya2 kerjaan apapun sama gw selama 3 minggu, beda banged sama boss gw yang dulu...
Yang lucunya...kalo Boss gw lagi ngomong sama teman gw, gw suka liad ini gerak bibirnya, gw gak mengerti apa yang dia bicarakan....sama sekali....!! tapi teman2 gw yang lain mengert banged !! gw sempet tanya kenapa Mr. Kim gak pnh bicara sama gw? apa gw ada salah yach sama dia? kata teman gw...emang dia begitu orangnya. Tapi sama semua teman2 gw, boss gw mw ngobrol bahkan main catur bareng saat break, jam 12 siang. Hufth...harus cari tw nech...!. Udah 3 minggu gw disini, slalu nyapa dia...kalo pagi, sore mau pulang..., dia cm tersenyum aza...gak ada suaranya. gak ramah banged koq sama gw...?? apa karena gw anak baru yach? begitulah kata teman gw.

Hari Senin, gw mau print semua data - data keuangan yang udah gw buat....eh tinta printer Laserjet P1006 HP habiz....Grrrrrr......gmn dunk? kapan selesai kerjaan gw? gw minta tolong sama Mba Tina untuk memesan Tinta. Yupz...dapat sambutan baik....!! lagi dipesan tapi besok datangnya. Ughhhh....tapi hari ini gw perlunya, mba....!!. 

Okay...cari jalan lain yach..., gw usulkan ISI ULANG aza di VENETA SYSTEM !! lumayan !! bisa menghemat cost. daripada beli original Rp. 640.000,- terus, skalee2 beli yang murah..kualitas 80 -90 % baguss !! hehehe...gw cari no. telpon VENETA via 108, trus dapat yg dekat sama kantor...Di Blok E No.18, Taman Palem hhihihi....mahal juga ternyata, 50 persen lebih murah dari harga original. Mba Tina Setuju!! cihuyyy...eh tau2 gw liad...ada catridge bekas ngejoprak di rak file, ada 6kardus !! Jafar, Officer VENETA gw ajak negosiasi dulu...., akhirnya catridge kosong laku Rp. 85.000,- / pcs, lumayan ada 5 yg dalam kondisi bagus. yang 1 lagi cm dihargai Rp. 35.000,- krn chip rusak. Its Ok lah bagi gw. Yang penting...gw bisa beli tinta hari ini, murah n gak keluar uang !!.
Huft...berhasil !! gw bisa dapat 1 tinta Refill dengan menukar 6 Catridge kosong eh ditambah uang dari VENETA Rp. 72.500,-. Sebelum Tinta diantarkan ke Kantor gw oleh Jafar, Mr. Kim masuk ke ruangan gw...kesempatan nech wat bicara n komunikasi sama dia!!

" Hmm...maav Boss.." gaya gw membuka pembicaraan
" Bolehkah saya ...mengisi ulang Tinta Printer ? jadi kita cukup membeli 1 kali original aza....dan bisa isi
ulang 2 kali, bisa menghemat cost kita, Boss...," dengan mimik yang agak takud...takud gak dijawab.
"o yach...boleh...boleh...asal kualitasnya bagus..." Mr. Kim berkata terbata-bata. maklum Bahasa Indonesianya belum lancar.
" Tapi..." gw menggantung kalimat .
" ya...? " Mr. Kim bertanya
" Bolehkah saya menjual catridge-catridge kosong disana? sambil menunjuk kardus-kardus di rak file.
" Untuk saya tukar dengan Refill Tinta yang saya butuhkan, Boss, 1 catridge seharga 85 ribu rupiah. Bolehkan Boss ?"
" ya..boleh..boleh..." Mr. Kim menatap wajah gw. sambil menganggukkan kepala. YESS....!! gw dah bisa membuat komunikasi dengan dia. ternyata gak sulit.
Selesai Reffil dipasang...Mba Tina Membelikan gw n Lily Roti tawar, anak2 lantai 1 juga hasil penjualan catridge bekas, sisanya dikasih ke Mr. Kim, hehehe...tertawa senang dech dia !! dapat Tinta, tanpa keluar uang dan dapat uang juga....! senangnya gw...kenyang...dan bisa komunikasi  sama Boss lucu nan aneh. hahahha...........


Jakarta, 27 Oktober 2009



Catatan Sang Karyawan 

Izinkan Aku Memilikimu......


Pusing banget seharian muter-muter Mal Taman Anggrek, hanya untuk mencari barang yang teristimewa. Seperti apa juga barang yang teristimewa, yang dimaksud Arya yach…? kenapa gak menyarankan yang simple, indah dan bermakna buat penerimanya. Itu juga udah lebih dari cukup kali.

Udah bisa hidup di zaman yang sulit ini dan bisa keluar dari segala masalah di dalamnya aja udah Istimewa. Apalagi harus mencari barang yang teristimewa? pasti lebih sulit dari Ujian CPNS ( Calon Pegawai Negeri Sipil ). Tapi, kalo Ujiannya lewat belakang dan dipastikan aman sih, pasti gak sulit. Hehehe…., itu sih namanya gak jujur. Bagaimana mau jadi pelayan masyarakat, kalo mentalnya udah gak berkualitas?. Betul gak sih. Yach…jawab aja sendiri dalam hati.

Balik ke benda lagi nih…..Apakah barang yang teristimewa itu bagi pemberinya juga akan menjadi sangat istimewa buat si penerimanya? Belum tentu khan? cuma Tuhan dan penerimanya yang tau. Trus, gimana kalau si penerimanya hanya menganggap benda itu biasa aja? Waduhhh….bisa timbul rasa kecewa dech buat yang memberinya.

Mendingan sih…kasih yang biasa aja, yang umum, yang penting bermanfaat. Namanya juga dikasih, apapun itu…pasti yang menerima udah bahagia. Dari pada gak ada yang ngasih. Hahaha….gak lah. Biar bagaimanapun juga, gue emang harus kasih yang terbaik buat orang itu, dengan 1 syarat yach harus ikhlas. Maksudnya, ikhlas aja kalau ternyata…si penerima kurang sreg sama pemberian kita. Yach namanya juga usaha. Begitulah dialog perdebatan yang terjadi di batin Ayyu saat ini.

“ Mau kemana lagi kita, Yu?” Shayuri membuyarkan lamunan Ayyu.

“ Loe dah cape yach, Sha?” Ayyu merapikan rambutnya dengan kedua tangannya.

“ Nih…pake punya gue.” Shayuri menyodorkan karet rambut berwarna biru.

Ayyu menerimanya. Lalu rambutnya dikuncir satu. Lebih rapi dan enak dilihat.

“ Gitu dong...cakep dech.” Shayuri mengacungkan jempol kanannya. Kebiasan lama Shayuri kalo di Facebook ( situs jaringan pertemanan, milik Mark Zuckerberg ), keseringan menyukai status, foto atau catatan orang lain. Tapi, baguslah…itu khan suatu bentuk tanda perhatian dan apresiasi pada orang lain. Walaupun Shayuri jarang memberi comment, kadang memberi comment sih…tapi seperlunya saja dan sepantasnya saja. Hahaha…itulah Shasha, tipikal sobat gue yang emang apa adanya. The Simple Woman. Begitu Ayyu menjulukinya.

“ Kita ke lantai 3 yuk, Sha? Masih kuat gak…?” Ayyu merayu.

“ Tenang…gue masih kuat. Lagi pula masih jam 5 khan?” Shasha menyanggupi permintaan Ayyu untuk menuju ke lantai 3.

Di lantai 3, Ayyu langsung memilih barang yang disukainya. Setelah meminta pendapat Shasha, Ayyu segera membayar semua barang belanjaannya. Huft…lega rasanya! Bisa memilih dan membeli barang istimewa dalam waktu singkat. Kenapa tadi 2 jam hanya untuk menemukan ketidakcocokan terus yach?. Mungkin karena sudah dikejar waktu dan telah melewati pertimbangan-pertimbangan rasional, makanya apapun yang dipilih menjadi cepat dan tepat. Biasanya orang lebih mudah ambil keputusan kalo dalam keadaan tenang dan kepala dingin. Kalo tadi khan kebanyakan pilihan, jadinya gak tenang dan kepala pun jadi panas.

Ayyu dan Shasha meninggalkan Departemen Store ternama itu, lalu turun ke lantai 1 dengan eskalator. Liftnya telah penuh. Apalagi kalo hari minggu kayak begini. Banyak pasangan muda-mudi dan keluarga yang main dan bersantai di Mal yang terbilang cukup besar di kawasan Jakarta Barat itu.

Dengan wajah yang sumringah, Ayyu dan Shasha pulang naik taxi menuju rumah.
Walaupun kaki terasa pegal dan mata udah lelah lihat barang-barang di mal, mereka berdua bahagia, bisa mendapatkan barang istimewa yang diinginkan Ayyu.

***************

“ Selamat Malam…Tante…! “ Arya memberikan salam ketika mama Ayyu membukakan pintu.

“ Malam…Arya..! gak masuk dulu?” Mama Ayyu memepersilakan Arya masuk.

“ Terima kasih, Tante…lain waktu aja…soalnya udah mau mulai acaranya.” Arya memberi penjelasan.

“ Tunggu sebentar yach..Tante panggil Ayyu dulu.” Mama Ayyu masuk ke dalam.

Lalu keluarlah Ayyu dari dalam dengan penampilan yang bikin Arya pangling dan tidak bisa bicara apa-apa. Ayyu dan Arya segera pamit sama Mama Ayyu meninggalkan rumah untuk menuju ke Kafe tempat temannya Arya menyelenggarakan acara.

Arya membukakan pintu untuk Ayyu. Ayyu duduk dengan manisnya sambil menenteng sebuah kado istimewa berwarna biru muda. Arya memperhatikan wajah Ayyu yang sangat manis malam itu. Dengan High Heels Putih, gaun berwarna putih, berleher oval, lengan pendek dan panjang gaun selutut kaki Ayyu, membungkus tubuh Ayyu dengan sempurna. Dengan riasan wajah yang sederhana dan tatanan rambut yang dibiarkan ikal dibawah, membuat penampilan Ayyu cantik dan anggun.

Mata Arya sesekali memandang wajah Ayyu. Ayyu cuma tersenyum kecil, melihat pujaan hatinya bertingkah aneh dan norak. Seperti baru lihat cewek cantik saja.

“ Cantik banged kamu malam ini…sayank.” Sambil menyetir, Arya membuka percakapan.

“ Makasih…tak ada uang kecil.” Ayyu menjawab sambil mencubit lengan Arya.

“ Kenapa gak dari dulu, aku pacarin kamu yach..?” Tangan kiri Arya mencubit pipi Ayyu gemas. Ayyu mengaduh kecil.

“ Kamunya aja yang penakut, banyakan mikir sih. Gak tau ada cewek manis kayak aku yang lagi menanti Pangeran Baik Hati, hahahha….” Ayyu tertawa kecil.

Arya kaget mendengar jawaban kekasihnya. Ternyata Ayyu udah terlihat sifat gokilnya. Udah gak pemalu lagi. Udah bisa menandingi Arya yang gokil dan romantis abis.

“ Kenapa kamu bisa suka sama aku juga, Sayank…?” Arya mencoba mencari tahu.
Maklum, mereka udah jadian 1 bulan. Tapi Arya belum tau kenapa Ayyu begitu cepat menyukainya.

“ Karena kamu mempunyai cinta yang besar untuk aku.” Ayyu mengedipkan sebelah matanya. Dan tertawa. Arya juga ikut tertawa. Ahh…Ayyu, gak ada jawaban lain apa yach. Pede banget cewek manis ini. Malah bikin Arya makin cinta.

“ Yakin banget aku mempunyai cinta yang besar untuk kamu, Sayank…?” Arya balik bertanya.

“ Yach..keliatan lah…tuch dari tatapan mata kamu, yang teramat dalam kalo lagi mandangin aku, hahhaha….ngaku dech….!” Ayyu tertawa lagi. Giliran Arya sekarang yang dibuat merah merona wajahnya oleh Ayyu.

Benar juga yang dikatakan Ayyu, dia tidak salah menilai. Arya memang sangat mencintai Ayyu. Apapun akan dilakukan Arya demi mendapatkan hati sang gadis manis itu.

Mereka sudah tiba di tempat yang dituju. Kafe Mpok Siti, di bilangan Jakarta Selatan. Tempatnya sangat strategis, didepan Kampus Tercinta, yang udah terkenal itu. Di tempat parkir, sudah banyak mobil, motor bahkan ada satu bis yang memarkir kendaraannya di sana. Dari sebuah Panti Asuhan Yatim Piatu. Begitu banyak anak-anak kecil berusia 7 s/d 12 tahun yang berlarian di tempat parkir untuk memasuki ruangan Kafe yang didesain Unik, namun tetap dengan gaya modern.

Arya memarkir mobilnya. Dan mengajak Ayyu masuk ke dalam Kafe. Di dalam Kafe sudah banyak tamu yang datang. Arya mengenalkan Ayyu pada Rha, sepupu Arya yang sedang berulang tahun hari itu. Rha, menerima ucapan selamat dari Arya dan Ayyu. Dan memberikan kado Ayyu pada Rha. Mudah-mudahan Rha suka dengan kado Ayyu, Tas cantik untuk kerja. Arya yang memberikan uangnya pada Ayyu dan menyuruh Ayyu membelikan barang apa saja, yang penting bagus dan bermanfaat buat Rha.

Acara dimulai. Sampai akhirnya pada acara bebas. Menyantap hidangan sepuasnya. Waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam, Arya dan Ayyu segera pamit pulang pada Rha, Ghis, Nie dan Mel, sahabat-sahabat Rha sekaligus pemilik Kafe tersebut. Mereka berempat mendirikan Kafe itu sejak masih duduk di bangku kuliah. Setelah lulus menjadi Sarjana. Mereka bersama-sama mengelola Kafe itu dengan perjuangan yang sangat gigih. Hingga menjadikan Kafe itu menjadi besar dan dikenal masyarakat dari segala penjuru.

Arya mengantarkan pulang Ayyu ke rumah dengan perasaan bahagia. Akhirnya bisa juga mengenalkan gadis pujaannya pada sepupunya itu. Hampir setiap pulang kerja Arya mampir ke Kafe itu, walau hanya untuk Free Wifi-an atau untuk bercerita kepada Rha, tentang cewek gebetannya, yaitu Ayyu. Rha menjadi penasaran dengan cerita Arya, makanya diundanglah Ayyu untuk datang ke acara ulang tahunnya Rha.

***************

“ Yu..gimana kemarin malam…? Seru donk…?” Dudul merapikan tumpukan kertas di mejanya.

“ Seru banget, Dul. Yang datang di acaranya Rha, bukan hanya teman-teman, keluarga dan relasi, bro. Tapi, anak-anak Yatim Piatu juga diundang. Salut gue sama Mereka berempat! Masih muda, jiwa sosialnya tinggi banget…pengen banget gue bisa ikutin jejak mereka, Dul. ” Sahut Ayyu.

“ Amien….,” Dudul mengambil tas kerjanya.

“ Kita hang out kemana sore ini, Dul? Erna, Shasha dan Rika udah nunggu di depan.” Ayyu menyangkilkan tasnya di bahu.

“ Loe mau ikut kita hang out? Gak jalan sama Arya?” Tanya Dudul gak yakin.

“ Jiahhh…masa jalan terus sama dia? Gue juga punya teman-teman, punya kehidupan, yang gak bisa dipisahkan karena gue pacaran sama dia, Dul” Ayyu berjalan mengikuti langkah Dudul memasuki lift menuju lantai basement. Tempat parkiran mobil.

“ Hmm…iyya juga sih. Tapi, kita lihat saja nanti.” Dudul menarik nafas panjang.

Erna, Shasha dan Rika sudah menanti di depan gedung. Dudul dan Ayyu langsung menyuruh mereka masuk ke dalam mobil. Berlima mereka menuju Pusat Perbelanjaan di daerah Senayan.

***************

“ Yu…ada kiriman bunga cantik lho buat kamu.” Dudul memberikan seikat bunga mawar putih untuk Ayyu. Ada kartu ucapan diikatkan di tangkainya. Berwarna putih juga.

Ayyu membuka kartu ucapannya dan membacakannya di depan Dudul.

“ Kekasihku yang manis…ciumlah harum bunga mawar ini dan rasakan wanginya sampai ke dalam jiwamu…dan ucapkanlah dalam hati bahwa kamu juga memiliki perasaan yang sama seperti aku, ingin makan siang bersama…karena aku Laperrr Sayank….!” Ayyu tertawa terbahak-bahak, dudul cuma nyengir. Emang sama gokilnya. Pantesan cocok. Begitu pikir Dudul.

“ Ikut yuk Dul…mau khan? makan siang bareng Arya.” Ayyu menarik kursi mendekat ke kursi Dudul.

“ Ya udahlah…loe makan aja berdua sana. Jangan dilewatkan kesempatan indah itu, Arya sayang banget sama loe. Jangan kecewakan dia…” Dudul berkata sambil menatap wajah Ayyu lekat. Entah kenapa, Dudul bersikap seperti itu. Belum pernah Ayyu ditatap seperti itu. Ayyu balik menatap wajah Dudul, sambil tersenyum.

“ Gak ada kata-kata yang loe lewatkan untuk gue, Dul…?” Ayyu menonjok bahu Dudul.

“ Apa sih, Yu..? gak adalah.” Dudul menonjok lembut bahu Ayyu.

“ Tatapan mata loe tadi maksudnya apa? Masih mau bohong yach sama gue?” Ayyu kali ini serius.

“ Ahhh…biasa aja seh.” Dudul tetap berkelit.

“ Loe sahabat gue…gue gak mau kehilangan loe, kalo gue lagi bahagia, loe harus ikut juga merasakan kebahagiaan gue. Makan bareng yach sama gue, please….,” Ayyu merayu manja.

Mata Dudul berkaca-kaca mendengar permintaan Ayyu. Sahabatnya yang sudah dikenal 1 tahun, melakukan aktifitas bersama-sama. Baik di kantor maupun di luar kantor.

Ayyu yang rajin membawakan kue-kue buatannya sendiri ke rumah dudul, kalo lagi kumpul bareng dengan Erna, Shasha, dan Rika. Ayyu yang selalu menemaninya memancing ikan di tempat pemancingan dekat rumah. Ayyu yang selalu mengajaknya pergi Hang Out kalo Dudul lagi suntuk. Ayyu yang selalu mau kasih ide gila untuk pekerjaan Graphisnya, bila sudah kehabisan ide. Ayyu yang selalu mendukung kariernya dan rajin mengingatkan Dudul akan peningkatan kreativitas dan pengembangan diri. Lalu sekarang, kebahagiaan itu akan terenggut paksa dari hidup Dudul. Bila waktunya tiba…maka Dudul akan benar-benar kehilangan Ayyu. Kehilangan sahabat, sekaligus seseorang yang dikaguminya diam-diam.

“ Lain waktu aja yach Yu…oke? Ya udahlah…siap-siap sana, Arya mungkin udah nunggu loe di kantin.” Dudul segera menghentikan pertarungan di batinnya.

***************

“ Sayank…kenapa wajah kamu muram…? Gak manis kalo begitu.” Arya mencubit pipi Ayyu.

“ Gak apa-apa koq…emang lagi males ngomong.” Ayyu menatap wajah Arya. Ayyu tak berhenti memikirkan sikap Dudul yang tak seperti biasanya siang ini. Seperti ada gurat-gurat kesedihan yang terpancar dari nada bicara Dudul tadi. Entah apa.

Arya tersenyum. Lalu mengusap kepala Ayyu dan ditariknya kepala Ayyu perlahan. Hingga menjadi dekat. Lalu Arya mencium kening Ayyu lembut. Ayyu cuma diam. Sama sekali tidak menikmati sentuhan kelembutan yang diberikan Arya siang ini.

“ Oh yach Sayank…pagi-pagi tadi, aku menyampaikan berita bahagia sama Dudul. Dia senang banget sama ide aku.” Arya memegang tangan Ayyu erat.

“ Berita apa…?” Ayyu tersenyum. Paling-paling Arya cuma mau becandain Ayyu lagi. Begitu pikiran Ayyu.

“ Melamar kamu.” Spontan Arya menjawab. Ayyu tersentak. Serasa tercekik tenggorokannya mendengar ucapan Arya. Baru pacaran 1 bulan, udah mau melamar. Udah gokil apa nih orang. Kenal lebih dalam sifat gue juga belum. Udah langsung mau melamar aja.

“ Haaaa….? Jangan becanda yach… Arya.” Ayyu mencubit pipi Arya keras sekali. Arya kesakitan. Tapi, Ayyu tidak mau melepaskan cubitannya.

“ Seriuslah Sayank…, Mama dan Papa udah aku kasih tau koq, mereka setuju. Lagipula kita terpaut 4 tahun khan usianya. Jadi yach cocoklah untuk segera menikah…., biar cepat punya banyak anak, karena masih muda, hahahha…...” Arya tertawa terbahak-bahak. Bahagia karena bisa membuat Ayyu bagai tersambar petir di siang hari. Kali ini dipegangnya tangan Ayyu, lalu dicium punggung telapak tangan gadis manis itu.

“ Aku Sayang sama kamu, dan ingin memiliki kamu…jadi isteri aku. Aku udah cocok sama kamu. Udah cukup aku mencari tau tentang kamu 1 tahun lamanya, sekarang udah saatnya aku menentukan pilihan hidup aku….” Arya begitu penuh kemantapan berbicara dengan Ayyu.

“ Besok aja jawabnya yach…kepala aku pening nih.” Ayyu bingung mau jawab apa. Berita bahagia itu tidak pernah diduganya. Apa Papa, Mama dan kakaknya Alisha setuju dengan rencana Arya ini? Entahlah. Lihat besok saja.

***************

Langit di luar sana sangat cerah. Secerah wajah Ayyu dan Arya yang sedang di landa kebahagiaan tiada terkira. Keluarga Ayyu dan Arya serta kedua orang tua mereka hadir di sana, di rumah Ayyu untuk melamar Ayyu menjadi Isteri Arya. Ayyu sendiri tidak pernah menduga akan secepat ini hubungan kasih asmaranya dengan Arya akan segera diresmikan oleh kedua orang tua Arya.

Semuanya terlalu cepat bagi Ayyu. Semuanya serba tiba-tiba. Semuanya penuh kejutan dengan Arya. Tapi itulah rezeki dari Tuhan. Yang kita tidak pernah tau dari arah mana datangnya. Kita hanya bisa mensyukuri apapun pemberian Tuhan, kita harus bisa ikhlas menerima apapun yang Tuhan berikan untuk kita. Bila memang Tuhan sudah menentukan jodoh yang baik untuk kita, maka kita harus menerimanya dengan rasa suka cita dan menjaganya sampai ajal memisahkan kita.

“ Bagaimana, Ayyu…? Mau khan menjadi isteri Arya 1 bulan ke depan…? Kita sudah menyiapkan semuanya. Ayyu dan keluarga tinggal menentukan Hari H nya saja, semua biaya Akad Nikah dan Resepsi akan kami berikan hari ini, bila pihak keluarga Ayyu menerima lamaran kami. Untuk Mas kawin dan hadiah pernikahan akan kami berikan 3 hari sebelum Hari H nya tiba…” Papa Arya angkat bicara. Dan semua keluarga Ayyu dan Arya yang hadir, mendengarkan dengan seksama bait demi bait kalimat Papa Arya.

“ Ya…Om…Ayyu siap untuk menjadi isteri Arya.” Dengan mantap Ayyu menjawab pertanyaan Papa Arya. Semua yang hadir di sana mengucapkan rasa syukur. Ahirnya mereka pulang tidak sia-sia, karena gadis manis pujaan hati anaknya mau menerima lamaran mereka.

Arya tersenyum bahagia. Cintanya telah bersambut. Gadis manis yang dikejarnya selama 1 tahun lalu, sebentar lagi akan menjadi miliknya yang sah. Terima Kasih Ya Tuhan….Engkaulah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.


***************


Jakarta, 24 Desember 2009
at. 04.00 a.m






Coretan ke 3

Kafe Mpok Siti


Seperti biasa, Seperti pagi yang lalu. Tak ada yang berubah.

Ghis, Nie, Mel, dan Rha pergi ke Kampus Tercinta yang tidak jauh dari kostan mereka. Hanya berjarak 1 km berjalan kaki. Belum sampai 500 meter mereka berjalan, terdengar suara gaduh dari dalam rumah bercat biru muda berpagar bambu. Mereka menghentikan langkah kaki serempak.

”Brakkk……! Prangggg……! “ terdengar suara kursi dan suara piring dijatuhkan ke lantai mewarnai kegaduhan yang tidak jelas.

“Kenapa ya dengan Mpok Siti?” Rha bertanya sambil melongok kearah rumah Mpok Siti.

“Mana ku tau? “ Mel mengerutkan dahi. Ghis menggelengkan kepala.

“Cari tau yuk, ada apa sih dengan mereka? Tidak seperti biasanya.” Nie menarik tangan Ghis. Menyeret Ghis ke halaman rumah, Mel dan Rha mengikuti dari belakang. Baru saja kaki mereka melangkah, tiba-tiba seorang laki-laki berperawakan tinggi besar dan wajah penuh bewok muncul dari dalam rumah sambil menenteng tas ransel besar dan menatap wajah mereka berempat.

“Ada apa disini? Gak kuliah kalian semua??” Laki-laki itu bertanya sangat tidak ramah.

“Maaf Bang Jun…kami lewat disini tadi, lalu….,” Rha menggantung kalimatnya.

“Lalu kami mendengar suara gaduh dari dalam rumah.” Mel meneruskan kalimat Rha.

“Bukan urusan kalian! Mengerti kamu?? Pergi sana!” Bang Jum mengusir mereka berempat.
Tiba-tiba dari dalam rumah terdengar suara tangis Mpok Siti dan seorang anak kecil, yang meraung-raung.

“Bolehkah kami tau apa yang sebenarnya terjadi didalam sana Bang?” Ghis dan Nie bertanya serempak.

“Gak Boleh!” Bang Jun menghardik dan mengusir mereka berempat untuk pergi dari rumahnya. Mereka berempat pun pergi dari rumah tersebut, karena memang tidak pantas untuk mencampuri urusan rumah tangga mereka dan tak lama kemudian Bang Jun pun ikut menyusul di belakang mereka.

Di Kampus, pikiran mereka tidak lepas pada Mpok Siti dan anaknya. Pukul 13.30 siang mereka telah mengakhiri mata kuliah secara bersamaan, walaupun Jurusan mereka berbeda-beda. Ghis, ambil jurusan Finance, Mel memilih Public Relation, Nie lebih suka Interior Desain, sedangkan Rha nyaman dengan Jurusan Multimedia. Mereka berempat berkumpul di Kantin Kampus Tercinta.
Mereka selalu bersama sejak bergabung 2 tahun lalu di Kampus Tercinta, pertemuan mereka pun sungguhlah tidak sengaja.

Seperti Mel yang bertemu dengan Nie, karena pernah meminjam uang empat ribu rupiah untuk membayar ongkos angkot. Kebetulan, Nie yang saat itu duduk di halte depan kampus, sedang menunggu jemputan kakaknya. Karena Mel tidak ada uang kecil, Nie meminjamkan uangnya.

Sampai 1 minggu Mel selalu menunggu Nie di halte itu untuk mengembalikan uang Nie, tapi Nie tidak pernah muncul. Mel mencari di kampus pun tidak pernah bertemu Nie. Rupanya, Nie tidak pernah lagi menunggu jemputan, karena sudah kost di dekat kampus.

Lain halnya dengan pertemuan Rha dan Ghis, karena Rha suka dance modern dari SMK, Rha sering tampil mewakili sekolahnya untuk ikut kompetisi Dance di Mal-mal Jakarta. Dan sekolah Rha, selalu menjadi langganan juara.

Sedangkan Ghis suka sekali dengan Dunia Jurnalistik, maka tak urung kegiatan kompetisi untuk pelajar di Jakarta, apapun itu sering diliput Ghis, sebagai pencari berita untuk Mading sekolahnya. Ghis sering berkeliaran di Mal di seluruh Jakarta, hingga dipertemukan dengan Rha, saat wawancara. Dan tidak diduga lagi, saat kegiatan Ospek berlangsung, ternyata Rha satu team dengan Ghis, jadilah mereka bersahabat sejak saat itu.

“Hmmm….gimana kalau kita ke rumah Mpok Siti sekarang?” tanya Mel membuka percakapan sambil menghabiskan soft drinknya.

“Gue takut lho…,” Rha menyeruput jus alpukatnya.

“Dasar penakut! “ Nie melemparkan tissue ke badan Rha, sambil meneguk tegukan terakhir es teh manisnya.

“Gue setuju banget ! oke…jalan yuk sekarang, abis ke rumah Mpok Siti, gue mau ngerjain tugas nih, bejibun. “Ghis bangun dari tempat duduknya, meraih tas dan mengalungkannya ke bahu. Mel, Nie dan Rha berkemas dan membayar pesanan mereka.

Setibanya di rumah Mpok Siti. Suasana hening dari luar rumah. Tidak ada sama sekali kehidupan di dalam rumah. Pagar rumah pun terkunci rapat. Jendela rumah tertutup tidak seperti biasanya. Gorden jendela ruang tamu pun tidak terbuka seperti hari-hari lalu. Mel memberanikan diri pertama kali untuk mengucap salam. Tak ada sahutan dari dalam rumah. Hening. Lalu Nie, mengulang salam kembali sambil memanggil nama Mpok Siti berulang-ulang. Tak ada sahutan juga. Kali ini Ghis, mengucap salam ketiga. Tetap tak ada jawaban dari dalam rumah.

Mereka berempat berfikir sejenak. Diam tanpa kata. Tak ada satu orang pun di luar rumah saat itu, tetangga mereka pun tak ada. Memang biasanya jam segitu Ibu-ibu lebih suka di dalam rumah, tidur siang atau mengerjakan tugas rumah tangga. Hanya anak-anak kecil yang berkeliaran di siang yang
terik itu. Bermain sepeda atau main petak umpet.

“Lihat itu…” Rha menunjuk ke halaman rumah Mpok Siti.

“Apa sih, Rha? Gue gak liat apa-apa dech.” Mel menyahut

“Sendal Mpok Siti ! “ Rha masih menunjuk kearah sandal jepit warna hijau yang sering dipakai Mpok Siti.

“Ya Tuhan….Mpok Siti didalam!” Ghis berteriak kencang.

“Ayo kita kedalam saja, gue gak sabar nih…kenapa Mpok Siti gak mendengar salam kita!” Nie membuka pintu pagar rumah Mpok Siti.

“Gak sopan dech kalau kita seperti itu,” Rha menghadang langkah Nie.

“Terserah loe mau ngomong apa, gak mikir apa kalau terjadi sesuatu didalam sana sama dia? Dia kan tetangga kita.” Nie menerobos masuk halaman.

“Kita ketuk pintunya dulu dan beri salam, bila tidak ada sahutan juga, kita baru masuk. Gimana ?” Ghis mengajukan opsi.

Mereka bertiga mengangguk.

Mel dan Nie, mengetuk pintu berkali-kali. Tidak ada sahutan juga dari dalam. Ghis, memegang handel pintu dan menariknya ke bawah. Ternyata, pintu TIDAK TERKUNCI ! Mereka berempat kaget.
Mel dan Nie mendorong pintu perlahan, terbukalah pintu rumah Mpok Siti. Keadaan rumah Mpok Siti kacau balau. Di lantai berhamburan barang-barang pecah belah, pigura yang pecah, kursi makan yang retak, kaca meja tengah ruang tamu yang pecah dan frame pernikahan Mpok Siti dan Bang Jun, yang telah hancur terbelah dua. Ghis, Nie, Mel dan Rha hanya bisa terpaku memandangi keadaan rumah yang berantakan itu. Mel berlari ke ruang tengah, tidak ditemukan Mpok siti disana. Nie berjalan ke dapur, tidak ada Mpok Siti. Ghis dan Rha melangkah menuju ke kamar Mpok Siti. Nie dan Mel mengekor di belakang.

"Mpok Siti….” Rha memanggil pelan sambil mengetuk pintu kamar.
Karena tidak ada sahutan, mereka berempat mendorong pintu secara serempak.

“Astaghfirullah……!” Ghis berteriak, diikuti teriakan ketiga sahabatnya.
Apa yang mereka lihat sungguh diluar dugaan. Mpok Siti terlentang dilantai dengan MULUT DIPENUHI BUSA. Ada kaleng Obat Pembasmi nyamuk bersandar disamping Mpok Siti, beserta gelas mug besar. Entah apa yang telah meracuni pikiran Mpok Siti, sampai dia begitu NEKAD mau menghabisi nyawanya sendiri sebelum Tuhan mengutus Malaikat Izrail untuk menyudahi waktu Mpok Siti di dunia yang fana ini.

Mereka berempat memeluk Mpok Siti. Nie dan Rha, meneteskan airmata. Ghis segera berlari keluar untuk menemui Pak RT. Mel langsung menghubungi ambulan sebuah Rumah Sakit terdekat. Mpok Siti baru saja menenggak hampir 1 kaleng Racun Serangga.

Pak RT sudah tiba beserta warga yang lain di tempat kejadian. Mereka membawa Mpok Siti keluar dari kamar. Ambulan sudah siap di depan rumah. Mpok Siti diangkut ke Rumah Sakit terdekat tidak jauh dari kampus. Ghis, Nie, Rha dan Mel pun ikut bersama warga lain ke Rumah Sakit.

**********

Dua Setengah Tahun kemudian…..

Ghis dan Rha sibuk menyiapkan hidangan untuk para tamu yang akan datang hari itu. Nie dan Mel sibuk mendekor ruangan yang akan dipakai untuk standing party. Rangkaian bunga ucapan selamat dari para relasi dan keluarga telah berdatangan diluar dari pagi tadi. Cukup banyak teman dan keluarga yang diundang mereka untuk acara yang istimewa ini. Walaupun sudah ada yang memasak dan mengatur semuanya, tetap saja mereka berempat ikut membantu kelancaran acara spesial hari itu.
Setengah jam kemudian, tamu sudah berdatangan…dengan wajah ceria Ghis berdiri di depan para tamu, membuka acara yang dihadiri oleh kurang lebih dari 200 orang undangan.

“Di Awal Hari yang Istimewa ini, izinkan saya menyampaikan rasa Syukur Alhamdulillah kepada Allah SWT dan ucapan Terima kasih yang tak terhingga kepada semua pihak yang telah membantu Kafe ini menjadi besar dan dikenal banyak orang dari berbagai tempat. Tanpa cicipan dan kritik kalian pada menu-menu makanan yang tersaji disini…tidaklah mungkin Kafe ini menjadi besar dan terkenal. Terima kasih atas dukungan dan kesetiaan kalian semua,

Terima kasih saya ucapkan pada sahabat-sahabat saya yang mau mendukung ide saya untuk membantu Mpok Siti….membuka warung kecil hanya untuk berjualan gado-gado dan jus buah didepan Kampus Tercinta, walaupun modal yang kami dapatkan harus merelakan tabungan kami berempat dan menyisihkan uang saku kami setiap hari untuk menyewa tempat dan belanja.

Terima kasih pada jasa para sahabat, Mel…yang tak pernah letih memperkenalkan Kafe ini ke masyarakat luas, pada Rha….yang begitu banyak ide mempromosikan Kafe ini ke dunia maya, makasih atas pembuatan website Kafe Mpok Sitinya, pada Nie….yang sudah memberikan inspirasi untuk mendekorasi setiap detail ruangan Kafe ini menjadi Unik dan Spesial.

Terima kasih pada Keluarga tersayang yang telah mendukung semua jerih payah kami berempat…Terima kasih juga pada Mpok Siti yang mau bangkit dari kepahitan masa lalu dan berjuang membesarkan seorang putra sendirian tanpa suami yang kejam dan egois, dengan berjualan di depan Kampus kami ini. Bagi kami, kebaikan yang telah Mpok Siti berikan pada kami dulu….sering mengirimi kami makanan kecil di saat kami sedang belajar tengah malam untuk menempuh Ujian Semester adalah hal yang tak bisa kami lupakan, kami bahagia telah membantu Mpok Siti, dan berkat dukungan Mpok Siti pula kami bisa meraih gelar Sarjana dengan nilai yang tidak mengecewakan sibuk mengurus Kafe ini menjadi besar dan dikenal banyak orang…

Terima kasih sekali lagi untuk Mpok Siti yang pandai memasak sehingga menghasilkan makanan dengan rasa yang enak di lidah dan tak terlupakan rasanya, berkat Mpok Siti kami juga bisa menjual makanan bukan hanya gado-gado dan jus buah, semua makanan yang spesial bisa pembeli dapatkan disini.

Terima kasih juga untuk seluruh Staff Kafe Mpok Siti yang selama 2,5 tahun turut membesarkan Kafe ini dengan perjuangan yang besar dan kesetiaan yang dalam. Akhir kata….Selamat Menikmati hidangan hari ini sepuasnya…bawalah pulang untuk sanak keluarga di rumah agar mereka bisa membuktikan kepada semua orang nantinya tentang kelezatan makanan di Kafe ini…..” Ghis mengakhiri sambutannya dengan pembacaan doa. Dan di amini semua tamu yang hadir.

Ghis, Nie, Mel, Rha dan Mpok Siti sekarang tersenyum bahagia, sebuah kesuksesan telah diraih dengan perjuangan dan kemauan yang keras….semua impian yang dulu cuma dikepala kini tlah hadir di depan mata.


Jakarta, 12 Desember 2009
at. 21.55 p.m



Cerpen Perdana

Bolehkah Aku Mencintaimu....?


Selesai mandi dan berpakaian rapi, Ayyu duduk di kursi makan. Melahap setangkap roti dan segelas susu coklat yang sudah disediakan mamanya dari pagi tadi. Mama Ayyu sudah berangkat ke pasar jam segitu. Papanya dan Alisha, kakaknya juga sudah berangkat duluan ke kantor. Tinggal Ayyu yang berangkat ke kantor naik bis kota. Karena percuma bareng Papa dan kakaknya, Ayyu tetap harus naik bis kota juga. Karena rute kantor Ayyu tidak searah dengan rute Papanya.

Di bis kota, penumpang begitu padat. Banyak penumpang yang berdiri sampai tak ada celah untuk menjejakkan kaki. Panas dan bikin keringatan. Maklum, bis kota non AC. Ayyu sesekali menghapus butiran keringat yang berjatuhan di keningnya. Entah kenapa, tiba-tiba supir bis berhenti mendadak tanpa SMS terlebih dahulu. Penumpang satu bis berteriak dan mengeluh. Bertanya pada kondektur bis, apa apa dengan bis kota ini. Sang kondektur memberi penjelasan bahwa bisnya mogok. Maklum, bis kota keluaran tahun jebot dan kurang terawat, padahal milik pemerintah. Akhirnya para penumpang terpaksa turun dari bis dengan 1000 keluh kesah, termasuk Ayyu.

Udah hari ini hari senin, ada meeting pagi sama bos, klien dan staff kantor, eh ada acara mogok lagi. Ayyu mengumpat dalam hati. Ya sudahlah….syukuri saja kejadian pagi ini, begitu Ayyu membatin. Ayyu berjalan kaki menuju halte bis kota, karena untuk mencapai kantornya, Ayyu harus naik bis kota lagi dan menempuh setengah jam perjalanan bis.

Arloji di tangan kanan Ayyu sudah menunjukkan pukul 07.00 pagi. Ketika hendak mencapai halte bis, Ayyu dikagetkan oleh suara seseorang dari belakangnya.

“ Maaf, Mba….,”

Ayyu menoleh. Seorang laki-laki muda sudah berdiri di hadapannya. Tinggi dan berbadan tegap. Pakaiannya rapi, dan berdasi. Laki-laki itu tersenyum manis. Ditambah wajahnya yang memang sudah manis. Dan Tatapan matanya tenang. Ayyu menatap laki-laki itu penuh curiga. Ada apa sih nih orang, koq senyum-senyum?. Aneh. Jangan-jangan mau nipu gue lagi. Pikir Ayyu.

“ Ada apa yach, Mas…?” tanya Ayyu bingung.

“ Bolehkah saya meminta pertolongan, Mba ?” laki-laki itu mengulurkan tangannya.

Ayyu menyambut tangan laki-laki itu dan berjabat tangan.

" Ya udah…ngomong aja mas, kelamaan tau pake basa-basi gitu..” Ayyu melepaskan tangan laki-laki itu. Sambil menjaga jarak berdiri. Takut dihipnotis. Seperti cerita teman-teman kantornya yang pernah Ayyu dengar.

“ Mobil saya mogok, bisa bantuin saya untuk dorong mobil, Mba ?”

“ Apaaaa….? “ Ayyu berteriak. Gila juga nih orang, masa perempuan kayak gue disuruh bantuin dorong mobil. Pake rok sepan lagi. Duhh…gak kasian banget sih dia.

" Maaf Mas…emangnya gak ada orang lagi yang bisa mas mintain tolong? tuh…lihat disana banyak laki-laki yang bisa bantuin mas….” Ayyu menunjuk pada kerumunan orang yang berdiri di halte bis. Tidak jauh dari Ayyu berdiri. Laki-laki muda itu malah tersenyum melihat sikap Ayyu.

“ Saya tidak bawa uang kecil hari ini, mba….cuma bawa kartu ATM saja, tidak mungkin khan kalau saya tidak memberikan upah sebagai ucapan terima kasih pada mereka.” Laki-laki itu menjelaskan dengan penuh keyakinan, berharap Ayyu mau membantunya dengan tulus.

“ Ohhh….gitu yach, oke….saya bantuin dech.”

Mendengar laki-laki itu berceloteh, Ayyu jadi kasihan. Gak ada uang kecil atau pelit sih nih orang?. Sungguh….terlalu! Begitu Bang Haji Rhoma pernah bilang.

Ayyu berjalan di belakang, mengikuti laki-laki itu menghampiri mobilnya. Di dalam mobil, di kursi depan, duduk seorang laki-laki paruh baya. Berpakaian setelan jas hitam dan berdasi. Hmm…mirip bos gue penampilannya. Bisik Ayyu dalam hati.

Laki-laki muda itu memperkenalkan Ayyu dengan atasannya. Dan akhirnya Ayyu dengan atasan laki-laki muda itu mendorong mobil sambil berdoa, agar mobil mereka segera hidup. Laki-laki muda itu memegang kemudi dan menyalakan starter mobil.

Setelah berjuang beberapa menit, mobil mereka pun hidup kembali. Laki-laki muda dan atasannya itu pun mengucapkan terima kasih pada Ayyu dan menawarkan jasa untuk mengantar Ayyu sampai ke kantor. Tapi, Ayyu tidak mau. Lebih baik naik bis kota. Biarlah terlambat sedikit ke kantor, dari pada harus ikut orang yang baru saja ia kenal. Dan tau-tau esok pagi wajahnya udah terpampang di Harian Ibukota dengan keadaan yang mengenaskan. Hiii….amit-amit dech. Ujar Ayyu dalam hati.

Pukul 08.00 pagi meeting perusahaan telah dimulai. Telah berkumpul Pimpinan Perusahaan, Sekretaris, Team Marketing, Team Desain Graphis, Akunting dan Staf pengiriman.

Klien yang ditunggu belum datang juga. Sebelum klien datang, Pimpinan Perusahaan tempat Ayyu bekerja menjelaskan terlebih dahulu garis besar proyek yang akan mereka kerjakan bersama klien yang sedang ditunggu-tunggu itu.

Pintu ruang meeting diketuk dari luar. Ayyu bangkit dan membukakan pintu. Ketika pintu terkuak, Ayyu terbelalak kaget. Begitu juga dengan 2 orang tamu di hadapannya. Namun, Ayyu tetap memberikan senyum terbaiknya pagi itu untuk mereka. Dan mempersilakan mereka berdua memasuki ruangan meeting.

Acara meeting berjalan lancar dan mulus selama 2 jam. Dan menghasilkan Penanda tanganan Kontrak Kerja antara kedua belah pihak. Proyek besar yang akan menghasilkan keuntungan dengan angka yang sangat fantastis ini menciptakan senyum yang sangat merekah bagi kedua belah pihak.

**********

“ Mau pulang jam berapa, Yu?” Dudul menghampiri meja kerja Ayyu yang bersebelahan, karena disekat partisi setengah badan.

“ On time, bro…!” Ayyu menjawab sambil menon aktifkan PC nya.

“ Caelah…tumben Non…biasanya lembur kalau hari senin.” Dudul tertawa.

“ Mau kemana sih? gue gak diajak nih….? nonton sama Shayuri? makan sama Erna? atau belanja baju sama Yurika ? ikut yach, Yu?” Dudul menggoda. Emang Dudul, sobat Ayyu yang gokil. Kemana pun Ayyu pergi selalu mau ikut. Maklumlah, Dudul juga masih jomblo seperti Ayyu. Seneng cuci mata bareng di mal selepas jam kerja berakhir.

“ Gue gak kemana-mana, Dul. Mau pulang ke rumah. Istirahat…cape banget hari ini.”

“ Kalo gitu, gue anterin yach…?” Dudul menawarkan bantuan.

“ Dengan senang hati, baik banget loe, Dul! sampe depan rumah yach…?” Pinta Ayyu manja.

“ Okkelah kallau beggittu….” Sahut Dudul dengan logat jawa medok, menirukan gaya Grup Band Warteg Boys.

Ayyu tertawa terbahak-bahak. Mereka berdua pun meninggalkan ruangan kantor dan menuju lantai dasar gedung perkantoran dengan melalui lift.

Pintu lift lantai 20 terbuka. Di dalam lift sudah berdiri 2 orang perempuan, dan 1 orang pria. Ayyu dan Dudul memasuki lift dengan masih tertawa-tawa kecil. Obrolan apa aja yang mereka percakapkan setiap hari pastinya bisa membuat mereka tertawa-tawa. Mereka udah mirip Beny And Mice, kartunis Indonesia yang lucu abis.

Saking serunya mereka berdua bercakap-cakap, pria yang berdiri dibelakang Ayyu menegur Ayyu.

“ Kelihatannya lagi seneng banget sore ini, Mbak Ayyu….”

Upss….! Ayu menengok ke belakang. Tatapan matanya lekat ke pria itu.

“ Eh…Mas Arya…aku kira siapa, maaf Mas Arya….aku gak lihat Mas tadi……” Ayyu jadi tersipu malu ditegur pria itu. Karena Pria itu adalah klien perusahaan yang tadi pagi meeting bersamanya. Dan pria itu juga yang meminta pertolongan Ayyu tadi pagi karena mobilnya mogok. Yach…ketauan gokilnya dech gue, padahal waktu meeting tadi gue udah jaim abis di depan dia. Kata Ayyu dalam hati.

Pria yang di panggil Arya hanya tersenyum. Senyumnya manis banget. Kelihatan kharismanya yang simpatik. Ayyu jadi salah tingkah dikasih senyum oleh Arya. Mudah-mudahan aja Dudul enggak respon dengan perubahan sikap gue ini. Bisa di ledekin abis entar di mobilnya Dudul. Begitu pikir Ayyu.

“ Kalau Mbak Ayyu enggak keberatan…, saya mau mengantarkan Mba pulang, sebagai balasan ucapan terima kasih saya tadi pagi.” Arya menawarkan jasa.

“ Owh…makasih banyak Mas.., saya bareng temen saya. kenalin..namanya Dudul.”
Dudul mengulurkan tangan dan Arya menjabatnya. Dudul, emang enggak kenal Arya. Karena seharusnya ia tadi ikut meeting. Cuma Dudul ada urusan check up kesehatan ke dokter dulu pagi tadi.

“ Cie…udah kenal yach kalian berdua? Sebelum meeting dimulai? Dimana Yu...koq tak cerita sih?” Dudul menyikut lengan Ayyu. Ayyu cuma senyum-senyum.

“ Mobil saya mogok tadi pagi DuL, kebetulan Bos saya juga mobilnya lagi di bengkel. Jadi ke kantor hari ini pakai mobil saya. Eh…ketemu Mba Cantik dan Penolong ini…” Ucapan Arya membuat Ayyu jadi terbang di ruangan lift. Kenapa juga cowok ini begitu hiperbola sih? Umpat Ayyu. Gak lucu banget bikin gue jadi enggak enak hati, disanjung seperti itu.

“ Jadi Ayyu bantuin kamu dorong, Ya…?” Dudul tertawa.

“ Yach…begitulah, Dul.” Arya tertawa juga. Ayyu cuma melipat bibirnya, menahan tawa. Emang gokil nih cowok berdua. Seneng amat denger cewek dorong mobil. Jadi bahan leluconan lagi. Ayyu menggerutu.

Untungnya Pintu lift sudah terbuka lebar. Tibalah mereka di lantai dasar. Dudul menyarankan Ayyu untuk ikut Arya. Karena Dudul tau banget, cowok ini lagi naksir sobat manisnya. Alangkah bahagianya hati Dudul bila Ayyu bisa membuka hatinya untuk Arya. Sejak berakhirnya kisah asmara Ayyu dan Pranata 1 tahun lalu, Ayyu menutup pintu hatinya rapat-rapat untuk semua cowok yang mendekatinya. Pranata pergi meninggalkan Ayyu karena berselingkuh.

Ayyu tetap pada pilihan pertamanya, pulang bareng dengan Dudul. Lagi pula masih ada hari esok koq untuk kenal dengan Arya lebih dekat. Begitulah penjelasan Ayyu pada Arya. Mereka pun berpisah untuk bertemu kembali esok pagi.

**********

Ayyu begitu sibuk hari ini. Semua deadline pekerjaan telah diserahkan ke Manager Keuangannya. Siap untuk diperiksa dan dikoreksi bila ada kesalahan. Pesawat telepon di meja Ayyu berdering terus dari pagi. Banyak klien kantor yang mau membayar hutang-hutang jatuh tempo yang sudah di follow-up Ayyu sejak 1 minggu lalu. Kerja keras yang membuahkan hasil. Gak sia-sia Ayyu setiap hari mulutnya sampai berbusa hanya untuk meneriakkan dua kata, BAYAR DONG....!.

“ Yu.…line 1 buat kamu yach,,” Suara Alin, Customer Service.

“ Yupz…makasih, Lin.” Jawab Ayyu. Tanpa bertanya telepon dari siapa.

“ Hai Yu…,” suara seorang cowok menyapa dari seberang sana.

“ Ya betul…siapa nih?” Tanya Ayyu tanpa menaruh curiga.

“ Arya Kusuma.” cowok itu menjawab lembut.
Ayyu tersentak kaget. Lalu diam sesaat. Gak menyangka kalau Arya akan menghubungi ia siang ini.

“ Yu….aku udah di depan kantor kamu nih…kamu ke depan yach,” Arya menutup teleponnya tiba-tiba tanpa permisi.

Ayyu masih bingung dengan telepon Arya. Apa maksudnya sih, nelepon tapi cuma ngomong aku udah didepan kantor. Norak banget. Kalau mau ke kantor yach datang aja langsung, wong satu gedung. Pake pemberitahuan segala. Dia kan Desain Grafis? Apa hubungannya sama gue yang orang akunting?. Kalau mau bahas soal proyek yach sama Dudul kali tepatnya.

Dalam kebingungan, Ayyu segera menemui Arya di depan kantor. Arya tersenyum melihat Ayyu yang masih kaget dan gugup. Alin mempersilakan Arya duduk, tapi Arya tetap mau berdiri.

“ Makan siang bareng yuk…?” Ajak Arya dan terus memandangi wajah Ayyu yang memang ayu dengan rambut hitam panjangnya yang terurai melebihi bahu.

Ayyu jadi salah tingkah. Kenapa sih cowok ini selalu kasih surprise buat gue? Kenapa sih gue gak bisa menghindari tatapan matanya yang tenang itu? tanya Ayyu dalam hati.

“ Belum jam makan siang, Arya.” Ayyu berkelit. Malu banget rasanya dikasih kejutan didepan Alin dan Pak Tejo, Security kantor.

“ Hahaha… jam tangan kamu rusak yach, Yu..?” Arya menggoda sambil meraih tangan kanan Ayyu. Ayyu cuma diam saja. Gak bisa berbuat apa-apa. Ia udah malu dan gak bisa menutupi wajahnya yang merah merona karena diperlakukan Arya seperti itu.

“ Udah jam 12 lewat 10 menit koq, Mbak Ayyu.” Pak Tejo jadi ikutan dech, menambah daftar salah tingkah Ayyu. Ayyu cuma tersenyum malu melihat jarum jam arloji di tangannya. Arya dan Pak Tejo gak salah. Gue lah yang lupa kalo udah waktunya jam makan siang. Saking keenakan kerja.

“ Gimana, Yu..?” Arya bertanya lagi pada Ayyu. Tatapan matanya seolah memohon agar Ayyu mengabulkan tawaran baiknya. Tetap masih memegang lengan Ayyu erat.

“ Baiklah…, tapi tolong lepaskan tangan aku, please…” Akhirnya Ayyu menyanggupi penawaran Arya. Arya melepas lengan Ayyu dan mereka berjalan menuju lantai 15 melalui lift.

Di dalam lift, hanya Arya dan Ayyu. Tak ada kata yang terucap dari bibir mereka berdua. Ayyu hanya diam kayak patung batu. Matanya terus menatap tombol-tombol lift yang terus menyala bergantian. Rasanya tidak sabar untuk segera tiba di Food Court gedung ini. Agar kebisuan dan suasana dingin dan kaku beku kayak di Lautan Antartika ini segera berakhir. Sedangkan Arya tidak berkedip sedikitpun menatap Ayyu dari arah samping, dengan berdiri di pojok lift. Dan dengan posisi kedua tangan melipat di dada. Seperti mendapat durian runtuh, suasana hati Arya saat itu. Bisa mengajak Ayyu ke kantin Gedung Perkantoran, walaupun dengan cara yang cukup membuat shock gadis ayu itu.

Mereka telah berada di lantai 15, di Food Court ENAK GILA. Sangat mengejutkan sekali suasana siang ini di kantin kantor. Semua orang udah pada duduk rapi di kursinya masing-masing. Semuanya menatap ke Ayyu dan Arya. Tak ditemukan kursi yang kosong disana. Semuanya terisi penuh. Dan yang aneh lagi, ada live musicnya. Biasanya juga gak ada. Ada penyanyi wanita dan laki-laki pemain keyboard sedang menyenandungkan lagu “ Karena Ku Cinta Kau “ milik Bunga Citra Lestari.

“ Selamat datang…Ayyu dan Arya!” Tiba-tiba Shayuri menyapa dengan gaya centilnya membawa kotak berwarna putih.

Ayyu terperanjat melihat teman baiknya, Shayuri ada di kantin ini. Padahal tadi masih sibuk dengan urusan loby-meloby klien via telepon, sebelum Ayyu keluar menemui Arya.

“ Hai….Ayyu….Hai Arya….!” Sekarang Erna, Yurika, Alin dan Dudul menyapa serempak mereka berdua. Entah mereka datang dari mana. Tau-tau sudah muncul di depan Ayyu.

Arya cuma tersenyum bahagia. Kejutan demi kejutan dipersembahkannya untuk Ayyu dengan sempurna tanpa memberi kesempatan Ayyu untuk melontarkan pertanyaan kepadanya.

Arya meraih tangan Ayyu dan membawa Ayyu ke depan. Ayyu hanya menurut saja seperti kerbau yang dicucuk hidungnya. Tidak berontak atau marah, Arya menggenggam tangan Ayyu erat. Ayyu diberi tempat duduk di depan di dekat panggung. Kursi yang sudah disiapkan dengan manisnya oleh sahabat-sahabat Ayyu dan Arya.

Arya naik ke atas panggung dan mengambil mikrofon.

“ Makasih atas kehadiran seorang gadis manis bernama Ayyu disini…” Arya menghentikan ucapannya, karena tepuk tangan riuh dari teman-temannya yang memenuhi 40 buah kursi di Food Court ENAK GILA itu.

“ Mohon maaf kepada Ayyu yang telah aku jemput tiba-tiba, hanya untuk hadir di tempat ini dan merayakannya bersama aku dan teman-teman. Ketahuilah Ayyu…bahwa aku sudah lama mengagumi kamu..., sejak 1 tahun lalu, sejak kamu sering makan di Food Court ini bersama teman-teman terbaikmu. Aku tak punya keberanian untuk mendekati kamu, karena melihat sikap kamu yang terlalu cuek. Aku tak pandai berkomunikasi dengan wanita sepertimu. Aku takut tertolak oleh kamu. Kejadian kemarin pagi pun, ketika mobil ku mogok, itu skenario dari teman-teman terbaikmu. Agar aku bisa mengenalmu secara tidak disengaja. Dan sengaja pula aku mengikutimu dari rumah, sampai akhirnya ku lihat bis yang kamu naiki mogok. Aku menemani bos ku meeting pun, sebenarnya hanya menggantikan posisi teman aku yang kebetulan tidak masuk. Aku senang sekali, bisa lihat kamu hari itu lebih lama. Pertemuan kita di lift pun…sudah diatur teman-teman terbaikmu dengan rapi.” Arya turun ke bawah dan membawa Ayyu yang masih terbengong-bengong, naik ke atas panggung.

Teman-teman Arya dan Ayyu bertepuk tangan sangat riuh dan menyanyikan lagu “ Happy Birthday” secara bersama-sama. Arya membuka kotak putih yang tergeletak di dekat mikrofon.

Ternyata, Black Corest Cake dengan 27 lilin kecil berwarna-warni menghias diatasnya. Arya meniup bersih lilin-lilin itu tanpa tersisa. Tepuk tangan riuh kembali menggema di ruangan itu. Dan Arya meminta kepada Ayyu yang dari tadi tersenyum-senyum, membacakan kata-kata yang tertera di Black Forest Cakenya. Bahwa itulah ungkapan hatinya yang terpendam untuk Ayyu selama 1 tahun.

Dengan suara gemetar Ayyu membacakannya untuk Arya….Bolehkah....Aku.....Mencintaimu....?. Suara riuh kembali lagi melengkapi kebahagiaan Arya dan Ayyu hari itu.

Ayyu diam sesaat…dan mengambil mikrofon yang dipegang Arya. Semua yang hadir terdiam. Menanti jawaban mendebarkan dari Ayyu yang sudah menutup pintu hatinya rapat-rapat untuk pria manapun.

“ Gak ada salahnya…bila…aku membuka…hatiku…untukmu, Arya..” Terbata-bata Ayyu mengungkapkan isi hatinya pada Arya dan pada semua yang hadir di ruangan itu.

Semua yang hadir disana langsung berdiri dan memberi tepukan tangan yang sangat meriah. Siulan dan teriakan-teriakan heboh dari para tamu yang hadir mewarnai kebahagiaan Arya dan Ayyu. Tanpa merasa malu dan takut lagi, Arya langsung memeluk erat tubuh Ayyu.

Dan sebuah lagu romantis pun berkumandang syahdu mengawali Kisah Cinta mereka berdua.

**********

Jakarta, 19 Desember 2009
at. 02.30 a.m



Coretan keduaku.

Fans