Sabtu, 22 Mei 2010

Ar - Rahmaan.....Ar - Rahiim.....


Tidak perlu meminta,
Dia pasti memberi,

Tidak usah mengeluh,
Dia pasti sudah mendengar keluhan,

Tidak perlu meratap-ratap diberi kemudahan,
Dia pasti bermurah hati menghadirkan itu,

Tak usah memohon untuk disayang dan dicintai,
Dia pasti tlah melakukan itu stiap saat.

Pantaskah kita hanya menerima uluran dan pemberian dari Dia tanpa mengucapkan sedikit rasa terima kasih walaupun hanya 5 kali dalam sehari ?

Bukankah itu jumlah yang sangat sedikit sekali buat kita, bila dibandingkan jutaan lebih nikmat yang tlah Dia limpahkan stiap detiknya untuk kita.

Kepada siapa kita akan Tunduk dan Patuh bila bukan kepada Dia,
satu-satunya Pemilik Hidup dan Mati kita ?

Karena Hanya Dialah tempat kita berawal dan kita kembali untuk menghadap-Nya dengan sgala perhitungan yang seadil-adilnya...



" GiezTofa 190510 "

Teduh.....


 Berjalan menyusuri pantai....dengan ombak yang tenang,

Ku hentikan langkah.

Lihatlah aku berada disini, padahal beberapa menit lalu baru saja ku menyapa sahabat - sahabat terbaikku.

Hanya memandang jauh ke depan, menatap takjub pada kemegahan malam ini.

Udara yang dingin tak ku hiraukan, ku bentangkan sajadah hijauku...di atas pasir - pasir pantai.

Lihatlah, hanya aku saja disini.
Tak ada siapapun.

Diatas sajadah, aku duduk bersila...mengagungkan Nama-Mu Ya Rabb...
Nama-nama indah-Mu...
Diiringi irama deburan ombak pantai yang bergemuruh, bisik angin yang berhembus kencang...
Menatap luasnya ciptaan-Mu dan cerahnya lazuardi yang memayungi...

Teduh rasanya disini...
Nyaman rasanya berada disini...
Dan damai di hati saat tak ada seorangpun yang mengganggu saat aku bersama-Mu...

Memuja dan Menemui-Mu kapan saja dan dimana saja, dalam keramaian, dalam keheningan...

Aku ingin tetap Mencintai-Mu selama - lamanya...seberapapun sulitnya aku untuk berada disisi-Mu...


" GiezTofa 210510 "

Saat Bu Direktur Jadi Pembantu

Saat Bu Direktur Jadi Pembantu

Sedekah dengan Uang Terakhir (Kisah Nyata)

Sedekah dengan Uang Terakhir (Kisah Nyata)

Rabu, 19 Mei 2010

Ikhlas


Ku menundukkan wajah dipenghujung asharku tadi sore,

Terdiam...meredam getaran perasaan yang paling dalam, hingga tak nampak lagi,
Hening menyergap.

Aku terhempas dalam ruang yang luas,
bersimpuh...hanya aku dan dia disana,
berhadapan dengan yang selama ini kurindukan,
saat duka menghampiri dan saat bahagia mendekapku.

Dia hanya mendengarkan kalimat demi kalimat pujian yang kulontarkan hanya untuk-Nya. Aku katakan pada-Nya semua yang terdesak di hati ini...
Aku rindu Engkau.
Aku ingin dekat dengan Engkau, lebih dekat lagi.

Kupersembahkan ucap terima kasih, tlah menganugerahiku segalanya sepanjang hidupku, sehat, rizki, kebaikan dan kehormatan.

Penat, sesak, musibah, ujian yang pernah Engkau kirimkan hanyalah supaya aku menjadi dekat dengan-Mu, supaya aku tak berpaling dari-Mu.
Aku terisak lalu...,

Teringat jauh dibelakang sering melalaikan Perintah-Mu.
Masih terdampar ditangisan,
mendapati diri dibimbing menuju Cahaya-Mu...mendapati diri-Mu yang Maha Suci, Maha Besar, Maha Penyayang, dan tak pernah berpaling dariku, walau kadang ku datang saat mata membengkak hanya untuk menumpahkan sesak dan tangis dipenghujung sujud.

Ku Ikhlaskan pada-Mu setiap episode hidup ini hanya tuk tetap bersama-Mu, sampai desahan nafas dan hati ini berhenti menyebut nama-Mu...


" GiezTofa On 180510 "


Sabtu, 01 Mei 2010

Maafkan Aku, Bukan Jodohmu...


“ Memangnya apa sih yang mau kamu bicarakan sama aku, sayang…?” Arya menggeser tubuhnya menjadi dekat dengan Ayyu. Ayyu terdiam…menundukkan wajahnya yang manis. Arya menunggu jawaban Ayyu dalam hitungan detik, mulai menghitung di dalam hati.

“ Kamu benar – benar sayang sama aku, Arya…?” Ayyu membuka suara.

“ Sangat, Ayyu.” Arya menjawab lugas. Ayyu tersenyum kecut.

“ Kenapa…? Tidak yakin dengan kesungguhan perasaanku…? Tidak yakin juga dengan keseriusanku untuk menjadikan kamu isteriku ? aku harus melakukan apa lagi sayang...hingga kamu benar – benar yakin bahwa aku menyayangi kamu ?” Arya menatap wajah Ayyu. Dipegangnya bahu Ayyu. Ayyu menjadi grogi, dilepaskannya tangan Arya perlahan.

“ Bukannya aku ragu dengan kamu. Tapi…apakah kamu yakin kamu bisa membahagiakan aku kelak ? baru kali ini aku begitu dicintai dengan sangat oleh seorang laki – laki, sebelumnya aku telah mendapatkan kecewa dari laki – laki yang aku cintai, Arya.”

“ Justru itulah sayang…Tuhan telah mengganti ketabahanmu dengan hadirnya aku, hhehehe…jadi narsis gini yach aku sayang. Sudahlah…gak usah mikir yang macam – macam yach…, kita jalani saja rencana kita ke depan nanti. Percayalah, aku akan berusaha memberikan yang terbaik untuk kamu dengan segenap cinta dan sayangku padamu. Semua yang aku butuh ada di diri kamu, sayang…aku hanya berharap dan berdoa pada Tuhan, bahwa kamu adalah jodohku sampai aku mati.” Arya mengelus rambut Ayyu lembut.

Ayyu tersenyum bahagia. Dipeluknya Arya kuat – kuat. Ya…Tuhan, begitu besar pemberian-Mu yang tiada terkira ini. Jagalah Arya untuk tetap menjadi milikku, dan kabulkanlah permohonannya barusan…berjodoh denganku sampai ajal menjemputnya. Ayyu mengamini permintaan hatinya. Disaat yang bersamaan, Arya mengamini ucapannya pada calon isterinya tadi.

**********

Tiba – tiba dering telepon sore ini di kantor Ayyu membuyarkan konsentrasi Ayyu. Mamanya memberi sebuah berita pada Ayyu. Ayyu menjadi histeris. Dudul yang sedari tadi berada di samping Ayyu, menjadi kaget setengah mati.

“ Bukannnnn…..! bukann Arya, Mama….! Mama salah….Mama salahhh….” Ayyu menangis sekencang – kencangnya, sangat histeris. Seisi ruangan itu menjadi terkejut mendengar tangisan Ayyu. Semua rekan Ayyu berkumpul, mencari tahu gerangan yang terjadi dengan Ayyu. Dudul memapah tubuh Ayyu yang tiba – tiba menjadi lemas. Terjatuh lunglai. Dudul langsung membopong tubuh Ayyu dan meletakkannya di atas sofa di sudut ruangan kantornya.

“ Ayoo…yang lain bubar ! Hilman…tolong ambil mobil gue di basement, tunggu gue di Lobby, antar Ayyu pulang ke rumah. Dhyta…dan Nisa buruan hubungi Mama Ayyu, tolong tanyakan apa yang terjadi hari ini ? segera yach…jangan pakai lama.”

Dudul segera ambil tindakan cepat. Hilman berlari keluar ruangan menuju basement, sedangkan Dhyta dan Nisa bergantian menghubungi kediaman Ayyu. Tak ada yang menjawab telepon di rumahnya. Dhyta segera menghubungi ponsel Arya. Tidak aktif sama sekali ! Nisa tidak kehabisan akal, langsung menghubungi rumah Arya. Tak ada satupun yang menjawab dering telepon disana. Nisa mencobanya kembali, berharap, pembantu Arya ada di rumah.

“ Ya..Mba…aku teman kantornya Mas Arya. Dimana Mas Arya sekarang berada ?” Nisa bertanya pada pembantu Arya.

“ Di Rumah Sakit neng. Tidak jauh dari kantor Mas Arya. Buruan yach neng kesana...” Mba Sumi mengakhiri pembicaraannya di telepon.

Dhyta dan Nisa segera menghambur keluar ruangan menuju Rumah Sakit yang diberitahu Mba Sumi, bersama Dudul, Hilman dan Ayyu yang masih tak sadarkan diri.

**********


Di lorong dekat ruang Unit Gawat Darurat, terlihat Mama Ayyu menangis, begitu juga dengan Mama Arya dan Papanya. Hanya Alisha dan Papa Ayyu yang tetap tenang duduk di kursi tunggu. Kedatangan Dudul, Hilman, Dhyta, Nisa dan Ayyu membuat suasana tambah tegang. Ayyu yang berjalan lunglai dipapah Dhyta dan Nisa.

Ayyu menghambur memeluk Mamanya. Matanya telah sembab. Mama Ayyu memeluk Ayyu, menciumi Ayyu dengan isak tangis.

“ Sabar yach sayang…jangan keluarkan air matamu nanti di depan Arya. Ikhlaskanlah yang terjadi hari ini sayang…berdoalah semoga Arya selamat, yach sayang…,” Mama Ayyu masih memeluk Ayyu.

“ Ayyu gak bisa seperti itu, Mama…Ayyu gak mau kehilangan Arya, Ayyu sayang sama Arya, Mama…! Ya Tuhan…jangan pisahkan aku dengan Arya…aku sayang banget sama Arya, Tuhan…apapun yang terjadi dengan Arya, Ayyu janji mau nerima Arya…tapi berikan keselamatan untuk Arya, berikanlah Tuhan…berikanlah itu pada kuu….,” Ayyu terisak – isak di pelukan Mamanya. Mama Arya yang melihat kejadian itu, sungguh tak tega. Ia hanya menangis, menundukkan wajahnya. Entah berapa banyak airmata yang sudah tumpah sedari tadi di wajahnya. Papa Arya hanya dapat mengelus – elus bahu Mama Arya, menenangkan hatinya.

Dokter jaga dari Ruangan Gawat Darurat keluar.

“ Maaf…Siapakah diantara kalian yang bernama Ayyu ?” Dokter yang menangani Arya bertanya pada yang hadir di sana.

“ Aku…Dokter.” Ayyu mengacungkan telapak tangannya.

“ Mari ikut saya, Arya mau bertemu anda.” Ayyu mengikuti langkah Dokter Mario kedalam, tempat dimana Arya terbaring.

Ayyu tak kuasa menahan kesedihannya. Dihampirinya calon suaminya, Arya Kusuma yang sedang dalam keadaan tergolek tak berdaya di tempat tidur. Seluruh tubuhnya penuh luka, kaki, tangan dan wajahnya.

“ Arya…aku disini sayang…,” Ayyu menyapa Arya.

Arya menolehkan wajahnya ke arah suara Ayyu. Mata Arya terbalut perban. Begitu juga dengan kedua kakinya. Keadaannya sangat mengenaskan sekali. Air mata Ayyu tak henti – hentinya menitik satu demi satu di pipinya. Calon suaminya yang akan menikah dengannya 3 minggu lagi, kini tak jelas kondisinya, antara hidup dan mati.

Ayyu menarik kursi didekatnya, lalu duduk menghadap wajah Arya. Diciumnya tangan Arya penuh kelembutan. Diusapnya kening Arya. Arya hanya terdiam. Kedua matanya terbalut perban. Bibir Arya pun tak bisa di gerakkan. Arya seperti mayat hidup, hanya terlentang dan tak berekspresi. Ayyu menjadi sangat terharu melihat kondisi Arya seperti itu.

“ Arya sayang…dengarkan aku, ku akan menemani kamu sampai kamu sembuh. Tak usah pikirkan rencana pernikahan kita. Kesembuhan kamu adalah yang utama buat aku. Tak ada kebahagiaan yang aku rengkuh selain melihat kamu sehat seperti sedia kala, sayang…aku rela menghabiskan waktuku, hanya demi kesembuhanmu, asalkan bisa bersamamu disampingmu, Arya…..,” Ayyu menciumi tangan Arya sekali lagi. Airmatanya terus berjatuhan, tak kuasa Ayyu menahan tangis dan sesak.

Arya tak bisa bicara, tangannya hanya bergerak – gerak seperti hendak memegang sesuatu. Dokter mengambilkan pulpen dan selembar kertas, diletakkannya di atas tempat tidur, persis di dekat tangan Arya. Ayyu hanya memperhatikan gerakan tangan Arya yang mulai menuliskan kata demi kata. Setelah menunggu lama, Dokter Mario memberikan kertas itu pada Ayyu. Ayyu mengambilnya dengan hati – hati.

“ Maafkan aku…tlah buat kamu menangis. Aku tidak tahan melihat kamu menderita. Pergilah sayang…jauhi aku. Aku rela..sayang….!” tulisan tangan Arya membuat jantung Ayyu berhenti mendadak. Airmatanya terus berjatuhan…banyak…dan lebih banyak, kepala Ayyu menjadi pusing…pandangannya menjadi buram…gelap…dan Brakkk….!! Ayyu terjatuh dari kursinya.

**********

“ Kenapa Ayyu…? Ayoo...buruan dech…kasian Dhyta harus nunggu kita lama.”
Suara lembut Dudul membuyarkan lamunan Ayyu, yang masih memegang album foto kenangan bersama Arya dan rekan kerjanya di kantor dulu. Kini Ayyu tidak lagi bekerja di kantor, ia telah membuka usaha bersama Dudul di bidang Event Organizer, dan menjadi rekanan bisnis perusahaannya yang dulu.

“ Dul…aku harus pergi yach…? rasanya berat dech.” Ayyu menutup album kenangan itu, dan diletakkan kembali di atas rak buku.

“ Kenapa berat Ayyu…? ada apa memangnya…? Ya udah…sini duduk dekat aku, cerita dulu…keluarin unek – unek kamu, setelah selesai baru kita berangkat ke rumah Dhyta…,” Dudul mengajak Ayyu duduk di sampingnya.

“ Maafin aku yach Dul…tapi rasanya berat harus menyaksikan Dhyta di hari bahagianya, bukan karena aku iri dengan Dhyta…tapi, aku jadi teringat kembali dengan Arya. Aku tak bisa melupakan dia, Dul. Dua tahun telah berlalu, Arya tak pernah membalas suratku setelah kecelakaan yang menimpa dirinya. Aku tak pernah tahu bagaimana kabar dia sekarang, mama dan papanya pun selalu mengatakan Arya sedang dalam pengobatan di Singapura. Aku ingin sekali ketemu dengan Arya, Dul…aku rindu sama dia. Aku tidak mengerti dengan Mama dan Papa ku juga, yang tidak mengizinkan lagi aku membicarakan Arya. Kenapa Dul..? aku cinta Dul sama dia…! Sangat cinta. Kenapa Arya harus membiarkan aku menderita seperti ini…? Apa salahku Dul…? apa Dul…?” Ayyu memukul – mukulkan tangannya ke dada Dudul. Dudul hanya diam. Seribu bahasa. Lalu ditatapnya wajah Ayyu lekat – lekat.

“ Sebesar apa cintamu sama Arya ?” tanya Dudul.

“ Apapun akan aku lakukan untuk dia, asal aku bisa bersamanya. Aku tak peduli dengan keadaannya, seburuk apapun.” Mata Ayyu mulai berkaca – kaca. Memendam rindu dan kesedihan yang tak terbendung.

“ Masihkah kamu menginginkan untuk bersamanya Ayyu, sedangkan Arya tidak pernah punya kepercayaan diri bahwa dia bisa membahagiakan kamu ? masih terlintas di pikiran kamu bahwa Arya sekarang juga masih memiliki cinta yang sama dengan kamu ?” Dudul memegang bahu Ayyu. Air mata Ayyu akhirnya meluap juga. Tumpah karena ucapan Dudul yang sangat mengejutkan hatinya.

“ Maksudmu…Dul ?” tanya Ayyu.

“ Berhentilah menangis…wajah cantikmu menjadi hilang karena air mata mu itu…ayoo…tersenyumlah untuk Dhyta, sobat terbaikmu. Okay cantik…?”

Ayyu tersenyum juga. Cuma Dudul yang bisa bikin hatinya hangat dan nyaman sejak kepergian Arya dari hidupnya yang tiba – tiba, dan cuma Dudul juga yang bisa mengerti semuanya tentang Ayyu sebelum Ayyu bertemu dengan Arya. Lalu kenapa Ayyu tetap memilih Arya ?. Entahlah, mungkin begitulah jalan hidup manusia, tak bisa diterka. Dan sudah menjadi urusan Tuhan.

**********


Acara ijab Kabul yang berlangsung khidmat pagi ini antara mempelai wanita Dhyta dan mempelai laki – laki Hilman telah berjalan dengan mulus, Rekan – rekan kerja Dhyta, sahabat, keluarga dan handai taulan yang menyaksikan acara sakral yang terindah sepanjang hidup Dhyta dan Hilman, memberikan ucapan selamat kepada mereka berdua. Disanapun hadir pula Nisa dan Dokter Mario yang tak lama lagi juga akan menyusul kebahagiaan Dhyta dan Hilman. Tinggal Dudul dan Ayyu yang entah kapan akan mengakhiri masa lajang mereka.

“ Ayyu…makasih yach….udah siapin ini semua buat aku dan suamiku, Hilman, tanpa kamu dan Dudul, kita bukan apa – apa hari ini.” Dhyta memeluk Ayyu dan menciumi kedua pipi Ayyu. Hilman berjabatan tangan dengan Dudul. Mengucapkan terima kasih atas bantuan Dudul yang sudah mempersiapkan acara yang teristimewa ini.

“ Yach…Dhyta…sama – sama. Senang bisa bekerja sama dengan kamu dan suamimu.” sahut Ayyu.

“ Kapan kamu menyusul kita ? Dudul udah siap tuch…mendampingi kamu, Yu.” Dhyta menggoda Ayyu. Ayyu cuma tersenyum simpul. Mencubit lengan Dhyta.

“ Jangan Dhyt…jangan godain Ayyu kayak gitu, kalo dia ngambek ntar aku yang susah baikinnya, hhehhe…maaf yach Yu…!” Dudul ikutan bicara.

“ Emangnya kamu mau nungguin aku sampai berapa lama ?” tanya Ayyu spontan pada Dudul.

“ Hhhehhe….ngapain ditanyain, neng…? Selama ini juga gue udah nungguin neng…neng aja yang gak sadar – sadar di tungguin, hahhaha…upss…!! sowry kalo gue keterlaluan. Maaf yach…Yu.” Dudul mencubit lengan Ayyu, tapi wajah Dudul menjadi merah. Malu, dan takut Ayyu marah. Dhyta dan Hilman yang mendengar guyonan Dudul menjadi tertawa terbahak – bahak.

“ Gak Dul…aku gak marah sama kamu, kita bergabung yuk sama teman – teman yang lain, tuch disana…! Dhyta, Hilman…aku tinggal dulu yach, “ Ayyu menggandeng Dudul ke luar ruangan. Sepertinya ada sesuatu yang hendak Ayyu bicarakan dengan Dudul.

“ Gak lucu tau…!” Ayyu memulai percakapan di pelataran parkir rumah Dhyta yang sangat luas itu, jauh dari keramaian orang – orang yang sibuk mondar mandir menyambut tamu – tamu yang datang.

“ Emangnya kenapa ? gak suka aku ledekin kayak gitu… ? “ Dudul menatap mata Ayyu tajam. Ayyu menganggukkan kepala.

“ Karena masih sayang sama Arya yach…jadi tidak mau membuka hati sama siapapun ? sama seperti kejadian kamu patah hati dengan Pranata dulu ? hatinya ditutup rapat – rapat. Terus pas Arya datang dengan segudang cinta dan perhatian, baru mau buka hati…dan jatuh cinta, setelah jatuh cinta lalu sekarang dikecewakan, masih juga menutup hati dengan siapapun ? hebat banget kamu Yu…hebat!” Dudul lalu pergi meninggalkan Ayyu sendirian. Ayyu mengejarnya dari belakang. Ditariknya lengan Dudul, Dudul menoleh. Lalu menghentikan langkahnya seketika.

“ Kenapa, Ayyu yang cantik ? ada yang salah dengan ucapan aku ? aku minta maaf yach sayang…,” Dudul mengulurkan tangannya.

“ Apa Dul…? ulangi lagi…yang kamu ucapin tadi…,” pinta Ayyu.

Dudul membuang nafas. Menahan kesal di hati. Harus bicara apa lagi sama Ayyu, agar gadis di hadapannya ini mengerti perasaannya. Gejolak cinta di hatinya yang sekian tahun dipendamnya, tapi tak berbalas. Bahkan di saat Arya tak mencintai Ayyu lagi pun, Dudul belum bisa mendapatkan hatinya Ayyu.

“ Mmmuachhh…!!” tiba – tiba Dudul mencium bibir Ayyu spontan. Ayyu terkejut. Walaupun tak ada yang melihat aksi Dudul barusan, namun wajah Ayyu telah berubah warna. Dudul hanya memperhatikan perubahan warna di wajah Ayyu. Menunggu reaksi Ayyu, marah, menamparnya atau tidak bereaksi apa – apa.

“ Plakkk…!” ternyata Ayyu menampar wajah Dudul juga. Lalu pergi meninggalkan Dudul. Dudul cuma tersenyum saja melihat kepergian Ayyu. Diusapnya pipinya, lumayan sakit, tapi tidak apa – apa. Ayyu pasti kembali lagi padanya. Begitu pikir Dudul.

“ Dudul…!” sebuah suara memanggil Dudul dari arah belakang.

Dudul menengok. Dan sangat terkejut ketika melihat seseorang yang telah memanggilnya. Arya Kusuma ! laki – laki yang pernah menjadi calon suami Ayyu.

“ Arya…?? Apa kabar sobat…? Koq bisa datang ke sini ?” Dudul memeluk tubuh Arya erat. Arya datang ditemani asisten pribadinya, Eddy.

“ Baik dan sehat, Dul. Tapi seperti inilah keadaan aku, tanpa kaki kanan dan tangan kiri.” Arya menyahut dan memperlihatkan kondisi tubuhnya.

“ Ya Tuhan…benar seperti yang diceritakan kedua orang tua kamu yach..?”

“ Ya beginilah aku sekarang, dua tahun aku menghilang ke Bandung, melupakan semuanya, melupakan calon isteriku juga. Sempat berobat ke Singapura, tapi hanya beberapa bulan saja, Papaku bisnisnya bangkrut, mama menjadi sakit – sakitan. Aku akhirnya tinggal di Bandung bersama Om dan Tanteku, bantuin usaha dia di bidang periklanan, lumayan hasilnya, aku bisa maksimalkan keahlianku, karena masih bisa menggambar dengan tangan kananku. Hilman yang menghubungiku via email, Dul…dia cerita banyak tentang kamu, tentang bisnis kamu juga. Hilman mengundangku untuk datang ke sini. Oh yach…mana isterimu Ayyu ?” Arya celingukan mencari sosok Ayyu.

“ Oh…iya…eh..Ayyu di dalam…sobat.” Dudul begitu gugup mendengar pertanyaan Arya barusan. Duhh… mau kasih penjelasan apa sama Arya ?.

“ Boleh antarkan aku Dul untuk menyampaikan permohonan maafku pada Ayyu ? itupun kalau kamu mengizinkan…, bila tidak tak apa. Aku cukup bertemu dengan Dhyta, Hilman dan rekan – rekan yang lain saja.” Arya memohon pada Dudul untuk dipertemukan dengan Ayyu, mantan kekasihnya.

Dudul akhirnya mengajak Arya masuk kedalam, menemui Dhyta dan Hilman terlebih dahulu, lalu mulai mencari Ayyu yang sedang berbincang dengan anak buahnya di tempat standing party.

“ Hai…Ayyu…! Apa kabar…?” Arya menyapa Ayyu. Ayyu terperangah melihat sosok laki – laki yang dikenalnya itu, telah berdiri di hadapan wajahnya.

“ Aryaaaa….??” Ayyu kaget setengah mati, hendak dipeluknya Arya, laki – laki yang masih terlihat tampan, gagah dan simpatik ini.

“ Maaf Ayyu…jangan peluk aku. Kamu sudah jadi milik Dudul sekarang.” ujar Arya.

“ Milik Dudul…? Maksud kamu apa Arya…? Dudul, ada apa ini…?” Ayyu berdiri mematung berhadapan dengan Arya, dilihatnya tangan dan kaki Arya yang tidak sempurna, Ayyu hanya terperangah saja, lalu berjongkok memastikan celana panjang yang dipakai Arya memang kosong, tak ada kaki kiri Arya disana, begitupun dengan tangan kiri Arya, dipegang Ayyu. Ayyu melakukan gerakan mundur selangkah. Bingung dengan apa yang telah dilihatnya di depan matanya.

“ Maafkan aku..Ayyu, aku pergi tanpa pamit padamu. Aku menyuruh Dudul untuk menikahi kamu…aku rela Dudul memperisteri kamu, karena aku sudah tahu Dudul juga sangat mencintai kamu sebelum kamu bertemu dengan aku, aku tahu itu semua dari Shasha. Aku tak bisa membahagiakan kamu dengan kondisi tubuhku yang seperti ini, aku takut mengecewakan kamu…Ayyu, aku menghilang 2 tahun hanya untuk memperbaiki rasa minder aku, sebagai orang cacat. Aku telah mengubur rasa sayang aku sama kamu 2 tahun lalu, aku sekarang ke sini hanya untuk meminta maaf atas kepengecutan aku padamu. Aku telah menyampaikan permohonan maafku pada kedua orang tuamu dan keluargamu, 2 tahun lalu tentang pengunduran diriku menjadi suamimu.” Arya mendekati Ayyu. Ayyu hanya bisa menangis demi mendengar pernyataan Arya.

“ Aku belum menjadi isteri Dudul, Aryaa…,” ujar Ayyu terisak – isak. Dudul hanya diam saja menyaksikan momen menyedihkan itu.

“ Dul…? kenapa kamu belum menikahi Ayyu..? kamu khan udah janji sama aku mau membahagiakan Ayyu..?” Arya bertanya pada Dudul. Dudul hanya menggaruk – garuk kepalanya yang tak gatal. Bingung, mau jawab apa. Biar saja Ayyu yang menjawab. Dudul ikhlas. Toh, Ayyu juga masih mencintai Arya. Sudah nasibnya kali, Dudul harus menjadi sahabat Ayyu seumur hidup. Tak bisa memiliki Ayyu.

Ayyu menahan tangisnya yang mau meledak karena mendengarkan semua penjelasan Arya hari ini, begitu pengecutnya dan tidak percaya dirinya laki – laki yang sangat dicintainya, yang setiap hari di rindukannya itu, hanya karena dia cacat fisik, bukan cacat kepribadian. Padahal, Ayyu tidak pernah melihat kesana, dimana kekurangan menjadi penghalang rasa cintanya pada Arya. Jadi buat apa lagi Ayyu harus mengatakan pada Arya sekarang bahwa ia masih mencintai laki – laki itu? Percuma sudah ! Bagaimana Arya bisa yakin membahagiakan Ayyu, sedang dengan dirinya sendiri saja Arya tidak yakin. Dan bodohnya, Ayyu telah mengacuhkan Dudul yang benar – benar mencintai Ayyu sedari dulu.

**********


“ Eitss…mau kemana sayang….? yang lain sudah pada tidur lho...” Dudul menarik lengan Ayyu yang hendak bangun dari tempat tidur, Ayyu menjadi terhempas di sisi Dudul.

“ Mau ambil air minum dulu…buat kamu, kalo nanti haus. Hhehehe…” Ayyu melepaskan tangan Dudul. Beranjak dari tempat tidur.

“ Gak usah sayang…nanti saja aku yang ambil ke dapur, kamu disini aja dulu.” Dudul menarik lagi lengan Ayyu. Ayyu tetap membandel, berjingkat dari tempat tidur.

Dudul mengikuti langkah Ayyu dari belakang, lalu Hap !! diangkatnya tubuh Ayyu, digendongnya gadis manis itu dengan penuh kemesraan hingga ke tempat tidur, dan di letakkan di atas tempat tidur perlahan – lahan. Ayyu bahagia banget dan dipejamkanlah matanya. Menanti yang akan dilakukan Dudul padanya dan Dudul pun sudah berada di atas tubuh Ayyu sekarang. Menatap wajah Ayyu lekat. Ayyu membuka matanya pelan – pelan. Menatap mata Dudul yang hangat dan penuh kasih sayang.

“ Kenapa loe Yu…? Takut sama gue yach..? hhehhe….ya udah kalo takut. Besok aja lagi. Its ok koq.” Dudul mencium kening Ayyu, penuh kehangatan. Ayyu menghembuskan nafasnya pelan – pelan. Menghilangkan rasa yang dibilang Dudul barusan.

“ Gue gak takut koq…cuma nervous aja. Hhhehehe…Maaf yach…khan belum pernah.” Ayyu mencium hidung Dudul.

“ Owhh…gitu yach..? ya udah kita mulai sekarang ajaaa yach sayang…?” Dudul sudah tidak sabar, langsung menciumi pipi Ayyu.

“ Ihhh…katanya besok gak apa – apa, Dul.” Ayyu merajuk.

“ Udahlah sayang…, kita khan bukan sahabat lagi malam ini…, gak ada tawar – menawar lagi yach sayang…! kamu udah jadi isteri aku, Ayyu yang cantik…,” Dudul mencium sekali lagi kening Ayyu. Ayyu tertawa – tawa melihat Dudul yang sudah tidak sabar malam ini. Dari pada Ayyu berubah pikiran lagi, akhirnya Dudul segera mematikan lampu utama di kamarnya, dan dinyalakan 2 buah lampu meja yang ada di sisi kiri dan kanan tempat tidur mereka.


---T A M A T---


Tangerang, 26 April 2010
At. 01.00 a.m

" Akhirnya selesai juga cerita ini, Alhamdulillah...., makasih wat Mas Mustofa yang udah jadi tempat share gue selama ini. "

Jumat, 23 April 2010

Notes Terindah....


Hingga pukul segini, masih termenung di depan laptop...
Banyak kisah yang mau kutuangkan..

Puluhan barisan paragraf pun belum memuaskan hatiku,

Entah kenapa, semuanya tiba - tiba terhenti, bukan buyar atau hilang. Tapi, ada sesuatu yang tak bisa diungkapkan...

Tak dapat digantikan dengan apapun,

Yach...sebuah rasa bahagia ! selepas mengecup kedua pipi suamiku...mengecup bibirnya, menemaninya sampai tertidur pulas...dan
mengantarkannya ke gerbang mimpi paling indah dalam hidupnya.

Ku merangkaikan kata demi kata, menyampaikan yang hendak kusampaikan,
Matapun menjadi tak bisa terpejam...
Kantuk menyerang, terhalau sudah. Sebotol air putih, musik melantun tanpa henti, setia menemani.
Hatipun tak lupa berzikir...syukur tak terhingga karena Allahku memberi kesehatan slalu.

15 tahun yang tlah berlalu...
Ku kembali menemukan hal terindah yang pernah singgah di hidupku dulu.
Menulis dan menulis.

Dan ketika tulisan diupload di pagi hari, begitu ragam komentar, saran dan kritik yang dilemparkan penuh kehangatan tuk aku,

Sekali lagi bahagia memelukku erat...
Bahkan seorang sobat berkata, baterai ponselnya sampai habis hanya tuk membaca notes ku yang ujungnya...
Ternyata bersambung.
Hehehe...

Maafkan aku, sobat...
Tapi, sungguh bahagia rasanya,
kerja keras tlah dipersembahkan,
kreasi tlah diciptakan dan penghargaan paling indahpun diberikan oleh pembaca setia...

Jangan pernah pergi dari catatan- catatanku, wahai sobat dan sahabat,
Itu saja permintaan hati dariku...

Karena kehadiran kalianlah yang membuat NOTES ku menjadi NOTES yang TERINDAH dalam hidupku..


Tangerang, 23 April 2010
" Terima Kasih banyak, buat sobat2 yg masih setia sama smua notes gue selama ini "

Buat Seorang Teman



Dikisah sore yang penat, di awal hamparan pagi yg dingin bahkan diterik mentari yg minta ampun.

Seorang teman tidak pernah letih menyapa...walau terkadang harus bikin gigi ini kering.

Rasanya seperti penghibur disaat yang tepat, walau kadang kehabisan jawaban untuk lelucon yang dilontarkannya dengan tulus.

Ku tidak bisa mengucapkan kata yang indah, juga tidak dapat menerbangkan merpati ke tempatmu malam ini...
Hanya buat menyampaikan rasa terima kasih tak terhingga...

Atas semangat yang diletupkan seharian ini buatku. Pagi, siang sampai sore...
Semoga tetap menjadi temanku...sepanjang masa.



Tangerang, 21 April 2010
" Buat temen yg gak pernah sarapan pagi "

My Guardian Angel



Ada sepasang mata...menatapku di pagi hari, sangat hangat...dan begitu merasuk ke hati...

Kecupan kecil mendarat mulus tanpa permisi di keningku.
Hmm...Met pagi sayang...! kamu masih disisiku, ucapnya pelan...

I luv u dech untuk kamu...makasih masih bersamaku slalu, gak pernah letih, Jawabku...ku kecup bibirmu.

Terlihat jelas matanya berbinar...bibirnya menyunggingkan senyum..

Ku tak bisa kemana-mana...berlari atau bersembunyi, karena smuanya dihatiku,
Kau melebihi dari apapun...dari siapapun,
Kau tak pernah mengeluh mencintai, sebesar apapun kekuranganku...

Hatiku pun tak bisa berhenti mengatakan distiap jalannya aliran darahku...besarnya rasaku padamu.

Aku tetap disini, seperti engkau menginginkan aku.
Mengarungi lautan kehidupan, menerjang badai dan ombak bersama - sama dengan ketabahan, Dan kau tak perlu meminta lagi padaku,
Karena aku pasti mengabulkan harapmu itu...bersamamu disisimu slalu.


Tangerang, 18 April 2010
" I Luv U coz I Really Luv U "

Hmm...nikmatnya jadi gue !


Pagi ke siang...
Melaju tak terasa..
Siang menyentuh senja...
Tetap asyik sendiri.

Begitu tenang hati gue...walaupun suara sumbang berkeliaran,
gak mau peduli.

Tak ada yg harus gue masukkin telinga, apalagi hati. Bikin kotor saja..

Biarlah kicauan itu...
Bersenandung penuh bahagia.
Gue merasa nikmat dengan yang terjadi hari ini,

Tak ada yang perlu dirisaukan lagi,
jalani dan nikmati hidup dengan rasa syukur.

Jalan didepan sudah membentang...
Sebuah kebaikan untuk sebuah keteguhan hati.

Amien..allahumma Amien...


Tangerang, 16 April 2010
" Thanks to Allah SWT.."

Sebuah Jawaban

Berhari...melewati malam
menanti...penuh harap, galau, cemas, resah, dan menahan muatan sesak,
yang melebihi kapasitas.

Tak tahu mesti bagaimana, walau ada 1 lilin kecil di seberang sana,

Tak jua...mampu menggiring langkah menjadi mantap menuju pintu keluar,

Menerobos kegelapan yang mencekam, menyingkirkan laba2 penghalang,
bahkan serangga yg siap menerkam tanpa kasihan,

Takut tlah terusir, bangkit dan berganti seketika menjadi sebuah lentera di hati.

Berjalan lurus bersama niat dan kesungguhan hati,

Bersama sebuah cahaya sebagai jawabannya didepan sana...
Karena ku tak sanggup bertahan didalam sana lagi,

Maafkan aku harus pergi...meninggalkan semua kenangan yg tlah terajut indah selama 6 bulan,

Maafkan aku...sekali lagi, aku harus pergi karena aku ingin sesuatu yg lebih baik, dan lebih indah mengukir hidupku kelak.


Tangerang, 15 April 2010
" Satu langkah ku berjalan, tlah membuat hdupku berubah "

Tetap Senyum Bunda !



Tiada yang patut kutuliskan disini, malam ini...

selain kisah tentang kasih dan sayangmu.
Pada aku, dan ketiga adikku.

Berpuluh tahun, menemani, mengingatkan dan mencurahkan smuanya untuk kami.

Tanpa keluh, tanpa lelah, hanya mengharap kami bahagia dan menjadi manusia yg berakhlakul karimah,

Hari ini, ku tak mampu menahan air mataku demi mendengar tentangmu, bersabarlah bunda...

Aku dan ketiga adikku pasti kan slalu mendoakanmu...dimanapun dan kapanpun.

Untuk kesehatanmu, ketulusanmu dan keberkahan hidupmu.

Tetaplah senyum dalam ikhlas dan tetap dekatlah bunda pada Allah SWT...

Semoga Ya Rohman memberi terang pada kebahagiaan bunda slalu...



Tangerang, 15 April 2010

" La Tahjan yach ibu...doaku tak putus untuk ibu..."

Jumat, 09 April 2010

Jangan Jauh Dariku


Terlelap wajahmu...lelah disampingku,
Kupandangi sepenuh hatiku, begitu tenangnya kamu dalam mimpi indahmu.

Nyamuk mulai menggigiti bagian wajah dan tubuhmu, kuusap dengan kehangatan kasihku,
berikan lotion pada seluruh tubuhmu,
Tuk pastikan kenyamanan tidurmu tak terusik.

Dan hawa panas mulai menyergapmu,
Kukecup keningmu lembut,

Kugerakkan tanganku dengan sebuah kipas hingga rasa sejuk datang,
Tuk pastikan kamu terlepas dari kegerahan.

Kucium kedua pipimu,
Kutatap sekali lagi,
Rasanya bahagia di hati,
Tlah bersamamu sekian tahun,

dan rasanya takut sekali, bila suatu hari nanti aku harus kehilangan kamu dari hidupku.

Jangan jauh dariku yach sayang....
Temani aku hingga mata ini menutup dan usia ini mungkin telah lanjut.



Tangerang, 8 April 2010

" Ku ingin berjodoh denganmu di dunia dan akherat, sayang. "

Tegarlah Sobat !

 

Tak bisa kau pungkiri bukan, rasanya kehilangan.

Menyakitkan dan tak tahu harus berteriak kepada siapa.

Kau mengerti, tapi mungkin kau sulit tuk menerimanya. Kesedihan itu begitu dekat dan cepat memelukmu.

Tiada waktu yang bisa diulang, tiada penyesalan yang bisa dicumbu erat,
hanya keikhlasan yang harus kau miliki detik ini, nanti dan selamanya.

Dan sebuah kenangan terindah bersamanya, tlah kau habiskan tuk memberi arti bahagia,

hanya untuk membuat dia tetap hidup menyaksikan pergantian siang dan malam.

Kuatkanlah hatimu, tegarlah bersama ikhlasmu, smoga Tuhan memudahkan jalan untuknya.

Amien...


Tangerang, 7 April 2010

" Innalillahi wa inna ilaihi rojiun for Lily Apriyana's brother "

Satu Hari Yang Lalu


Adakah sesuatu beda yang terurai,
ketika pandanganku tak tertuju pada raut wajahmu?

Adakah pula hati yang terkoyak,
ketika hatiku berdiam, dan senyumku tak hadir disana,

Adakah malam yang menjerit karena ulah mimpi buruk yang menemani tidurmu,
Adakah kesunyian jiwamu memanggil namaku untuk mempersembahkan keramahan padamu,

Satu hari yang lalu,
Sama seperti hari sebelumnya,

Ku tak berubah, sobat.
Tak ada yang perlu berubah,

Kau begitu gelisah...dan penuh tanya,

Ketika satu hari yang lalu,
Ku mengalihkan duniaku.

Bolehkah aku tertawa sekarang, walau sebentar ?

Simpan puisi ini, sobat...
sebagai tanda,
Satu hari yang lalu,
Aku tlah mengacaukan hidupmu.


Tangerang, 6 April 2010

Rabu, 31 Maret 2010

Hati Yang Mana ?



Seringkali ku tanyakan....

Di setiap malam yang ku habiskan...
Di setiap pagi yang kusemangati....
Di setiap siang yang ku rayakan dengan senyuman.

Kemanakah aku bersama ?
Dimanakah aku bisa memelukmu ?
Kapankah kecupan kemesraan untuk ku datang ?

Tanpa aku harus meminta dan mengaisnya kembali...
di antara senyuman yang ku tebarkan hanya untukmu...
di antara samudera rasa yang telah lama ku titipkan sekian lamanya...di hatimu.
di hati yang terdalam, hingga semua orang tahu....kamulah pemenangnya.

Tak ada kah jiwa yang tenang milikku kali ini ?
kau percayakan untukku....
meskipun sesaat saja.

Aku hanya manusia biasa....
bukan patung ataupun mesin yang bisa disetel ulang kapan saja,
semau hati mu.

Aku butuh kehidupan....yang berirama, yang bersenandung...
tanpa harus ku berseru kepada alam dan seisinya, di setiap isak tangisku.
Aku butuh nyanyian hati yang konsisten selalu bersama - sama, bukan karena aku mau saja.
Aku butuh dekapan...
Aku butuh yang kau butuhkan juga dari aku.

Aku harus berpijak di hati yang mana ?
di mana ada sebuah cinta yang kekal di dalamnya,

Mengertilah dan pahamilah itu,
Bila tidak, maaf saja....
menyingkirlah dari aku.



Jakarta, 30 Maret 2010

" Hujan yang tak berkepanjangan "

Sabtu, 27 Maret 2010

Cinta Membasuh Luka ( Luka Disini Part 2 )


Annisa terpaksa memilih mengikuti langkah lelaki muda itu yang hanya mengenakan sandal jepit. Ada perasaan ketakutan yang mencekam bertarung di benak Annisa. Ingin rasanya meminta pertolongan seseorang, agar bisa mengantarkan Annisa pulang ke rumah, atau minimal Annisa dapat kembali ke hotel, tempat ia mengikuti training kerja. Tiba – tiba Annisa teringat dengan telepon selulernya yang biasa ditaruh di saku celana panjangnya. Annisa merogoh saku celananya. Ohh…Tuhan !! Tak ada satu ponsel pun yang berada di dalam saku celana panjangku !. Annisa berteriak histeris dalam hati.

Annisa mulai bingung. Tentu saja bertambah takut. Sekarang dia berada di sebuah desa yang tidak ia kenal secara pasti dan bersama lelaki muda yang baru saja ia kenal di pesawat siang tadi. Lelaki muda yang berjalan di sampingnya dengan langkah kaki 2 kali lebih cepat dari Annisa, tidak mempedulikan kebingungan dan ketakutan Annisa.

“ Hei…kamu koq diam saja ? tidak lihat ponselku ? tadi sewaktu di hotel saat bertemu kamu di acara training, aku letakkan di saku celanaku sebelah kanan. Tapi, sekarang tiba – tiba menghilang.” Annisa menghentikan langkahnya.

Lelaki muda itu pun berhenti. Menundukkan kepalanya sejenak dan meletakkan kedua tangannya di kedua lutut. Seperti kecapekan berjalan kaki.

“ Hotel…? training ? kapan itu ? Eh..dengar yach gadis manis…aku aja baru ketemu kamu lagi malam ini, di sini. Kapan kita ketemu di hotelnya ? Mengigau yach kamu…? Training apa ? udahlah…aku antar pulang yach ke rumah kamu, aku masih ingat koq.” lelaki muda itu menarik lengan Annisa.

“ Lepaskan Satrio…! Aku ada dimana sekarang…?? Aku gak kenal daerah ini !” Annisa menepis lengan lelaki muda itu. Lelaki muda yang dipanggil dengan nama Satrio itu melepaskan tangan Annisa. Lalu berjalan ke pinggir jalan dan menghempaskan tubuhnya di atas tanah. Duduk dengan kedua kaki diluruskan ke depan. Mata Annisa hanya mengikuti gerakan Satrio. Tak ada kendaraan apapun yang melintasi jalanan yang kini sedang mereka jadikan tempat peristirahatan. Sepi, senyap, dan gelap. Tak ada lampu penerangan di pinggir jalan, kecuali berasal dari rumah penduduk yang saling berjauhan jaraknya. Disebelah kiri jalanan desa itupun dihiasi dengan hamparan sawah yang luas. Bukan dengan gedung – gedung tinggi atau pusat perbelanjaan.

“ Ayoo cah ayu…duduk dulu sini…, aku bingung sama kamu.” Lelaki muda itu menyuruh Annisa duduk di sampingnya. Annisa menggeleng. Lelaki muda itu menggaruk – garuk kepalanya.

“ Sebenarnya kamu ngapain sih di depan rumahku barusan ?”

“ Seharusnya pertanyaan itu untuk aku. Kenapa kita tidak berada di hotel sekarang ? kenapa berada ditempat ini ?” Annisa hanya berdiri sambil mendekap blazernya erat. Hawa dingin telah merasuki tubuhnya. Bibirnya pun bergetar, dan dari mulutnya seperti mengeluarkan kepulan asap berwarna putih.

Lelaki muda itu hanya memandang Annisa iba. Pakaian yang dikenakan oleh lelaki muda itupun tidak cukup untuk melindungi Annisa dari udara dingin yang menyergap.

“ Akuuu….pengen nangis, Satrio…! kejadian ini aneh sekali. Aku baru kenal dengan kamu, dan sekarang aku tersesat di kampung orang, yang sama sekali aku tidak tahu. Alat komunikasi pun aku tidak ada. Bagaimana aku bisa tidak bersedih, bingung dan sangat takut sekali ?.” Annisa akhirnya menghempaskan tubuhnya yang letih bertanya. Di pinggir jalan itu, di samping Satrio. Kini mereka berdua sedang dalam kebingungan. Annisa menelungkupkan wajah dan tangannya di kedua lutut kaki yang dihimpitkan.

“ Aku malah seneng ketemu sama kamu cah ayu.., setelah sekian lama…kita berpisah. Justru aku bingung, kenapa kamu bisa tiba – tiba ada di depan rumahku tadi ?.” Lelaki muda itu melemparkan pandangannya ke arah Annisa. Annisa mengangkat wajahnya seketika.

“ Apaa Satrio…? sekian lama kita berpisah…? Kita pernah bertemu sebelumnya ?”
Annisa mengguncang - guncangkan tubuh lelaki muda itu. Lelaki muda itu hanya tersenyum tipis.

“ Yach…di desa ini. 15 tahun silam. Di bangku Sekolah Dasar. Kita satu kelas selama 2 tahun, kamu baik sekali padaku saat itu. Tapi sayangnya….,” Lelaki muda itu menghentikan kisah tentang Annisa.

Mata Annisa terbelalak mendengar kata – kata lelaki muda di sampingnya yang masih menatap Annisa. Lelaki muda itu ternyata pernah mengenalnya. Tapi, mengapa Annisa tidak pernah mengenal lelaki muda itu ?. Ya …Tuhan, ada apa dengan aku ?. Jerit hati Annisa.

“ Tapi apa Satrio…?” Annisa penasaran. Ditatapnya wajah Satrio. Annisa mencoba menggali memorinya 15 tahun silam, memori tentang Satrio, tentang sekolah dasarnya. Namun sayang sekali, Annisa tak menemukan apa – apa disana. Tak ada yang bisa dikenang Annisa, apalagi tentang Satrio.

“ Kamu meninggalkan aku…, aku sedih sekali saat itu. Aku hanya berteman dengan kamu selama 2 tahun, begitu dekat dan akrab. Kamu selalu membela aku, bila ada teman lain yang mengganggu aku atau mengejek aku, karena badanku yang kecil, kurus dan rambutku yang keriting seperti orang negro. Kamu adalah anak perempuan yang pandai dalam menghitung angka dan menghapal pelajaran. Dan ketika kamu pindah bersama orang tua kamu ke Jakarta, aku benar – benar kehilangan kamu...aku menjadi orang yang sangat cengeng sekali, tak ada lagi teman yang membela aku. Tak ada lagi teman yang naik sepeda bersama dengan aku. Tak ada lagi teman yang menghibur aku kalau aku lagi sedih. Tak ada lagi teman yang nemenin aku makan roti saat waktu istirahat tiba. Duniaku serasa berakhir cah ayu…! Mengerikan ! Sampai akhirnya datang seorang teman laki – laki pindahan dari kota gudeg, dan menjadi sahabatku hingga kini.” mata lelaki muda itu menjadi berkaca – kaca.

“ Manis dan indah sekali kenangan tentang aku yach Satrio.., wajahku yang dulu dengan yang sekarang apa sudah berubah ?” tanya Annisa.

“ Wajahmu masih tetap seperti dulu koq, nanti lihatlah di rumah. Tak ada yang berubah. Hanya sekarang tubuhmu tinggi hampir menyamai tubuhku. Tapi, dimataku…kamu tetap teman yang selalu ada di hatiku, sampai kapanpun.”

“ Sekarang, giliran kamu yang bercerita…kenapa bisa ada di depan rumahku tiba – tiba, dan seperti orang kebingungan, tak kenal daerah ini dan tak tahu jalan pulang ke rumah ?” Lelaki muda itu menatap Annisa tajam, dengan melemparkan pertanyaan.

“ Nanti saja akan aku jelaskan setibanya di rumah kamu, aku kangen mau lihat foto – foto aku semasa SD. Masih kamu simpen khan, Satrio..?” Annisa bangun dari duduknya. Satrio membantunya berdiri. Mengulurkan tangannya.

“ Kalau aku lelah berjalan bagaimana Satrio…? “ Annisa bertanya.

“ Tenang saja cah ayu…akan aku gendong. Tapi gantian yach…! Tunggu sebentar…aku hubungi Om ku dulu, biar dia bisa jemput kita disini.” Satrio mengeluarkan ponsel dari dalam saku celana pendeknya. Annisa hanya memperhatikan saja, kenapa tadi ia tidak pinjam saja dengan Satrio yach untuk menghubungi keluarganya ?. Ternyata, aku benar – benar terlempar ke masa lalu Satrio, yang ternyata teman masa kecilnya. Lalu ada apa Tuhan mengirimkan aku ke sini, ke masa lalu Satrio ?.

Ya…aku akan mencari tahu. Aku akan mengikuti skenario yang telah Tuhan buat untuk aku. Apapun yang aku alami setelah malam ini disini, aku ikhlas menjalaninya. Menerimanya walaupun pahit. Tuhan pasti punya sesuatu rencana yang tidak pernah aku mengetahuinya. Annisa berharap, itu adalah sebuah kebaikan dari Tuhan.

**********

Sesampainya di rumah Satrio, Annisa begitu terpana dengan keadaan rumah Satrio. Tak ada yang berubah dari isi rumah ini. Sama seperti dengan keadaan Annisa kecil. Di ruang tamu terpampang foto Satrio dan keluarganya, ada foto Annisa juga bersama Satrio sedang duduk di kursi yang sekarang Satrio duduki. Annisa memperhatikan foto itu dengan seksama. Annisa sedang memegang sebuah boneka berambut pirang yang di kuncir dua. Sedangkan Satrio merangkul pundak Annisa dengan erat. Annisa tersenyum bahagia sekali melihat kemesraan foto itu. Apalagi melihat tubuh Annisa yang gendut kala itu dengan rambutnya yang pendek. Satrio hanya memandangi Annisa penuh rasa heran.


“ Ayoo..Nisa..aku tunjukkan kamar untuk kamu beristirahat, esok pagi aku antar kamu pulang ke rumahmu. Ke Jakarta.” Satrio duduk di kursi tamu yang terbuat dari kayu jati jepara.

Annisa menganggukkan kepalanya. Lalu mendekat duduk di samping Satrio.

“ Hmm…aku benar – benar berada di sini, di masa laluku…Satrio!” Annisa berteriak kegirangan. Rambut Satrio diacak - acaknya. Satrio hanya tertawa – tawa. Gadis yang aneh. Pikir Satrio.

“ Antarkan aku ke kamar, Satrio…,”

“ Aku siapkan handuk dan aku buatkan air hangat yach, Nis…, mau khan..?”

“ Hmm…boleh dech..jarang – jarang khan aku mampir ke sini yach..!” Annisa mencubit bahu Satrio. Satrio tersenyum.

“ Mmmuachh….,” sebuah kecupan mendarat dengan mulusnya di pipi kiri Annisa.

Annisa menjadi kaget, lalu menolehkan wajahnya ke hadapan Satrio. Dan Satrio sudah siap dengan bibirnya yang menyentuh tipisnya bibir Annisa. Tanpa permisi lagi, Satrio mencium dengan lembut bibir Annisa, dirasakannya kehangatan yang belum pernah ia rasakan, dari bibir seorang gadis yang sangat
disayanginya sejak kecil. Satrio menciumi bibir Annisa tanpa memberi kesempatan Annisa untuk menolak atau mengajukan pertanyaan atas tindakan spontannya itu. Annisa hanya menikmati saja sentuhan
yang tidak pernah diduganya. Bermimpi pun tidak.

Satrio telah melepaskan kecupan terhangatnya di bibir Annisa. Dikecupnya kening Annisa dengan penuh kasih sayang. Satrio benar – benar telah melepaskan rasa rindunya pada gadis manis yang pernah menjadi sobat kecilnya itu. Bahkan Satrio pun tidak bisa mempercayai, mengapa Tuhan mengirimkan Annisa tiba – tiba malam ini di rumahnya. Keajaiban yang selama ini selalu diimpikan Satrio. Mau mencari Annisa dimana ? Jakarta sangatlah luas. Gadis manis itu pindah tanpa meninggalkan alamat untuk Satrio.

“ Terima Kasih cah ayu…,” Satrio membelai wajah Annisa. Annisa memegang tangan Satrio. Dilingkarkan di pinggangnya. Satrio hanya menurut saja. Lalu Annisa memeluk tubuh Satrio. Erat dan sangat erat. Satrio membalas pelukan Annisa. Dipeluknya pula tubuh Annisa erat.

“ Memoriku telah kembali…kamu memang sahabat kecilku, Satrio. Aku selalu merindukanmu setiap saat, ingin sekali bertemu dengan kamu. Tapi, aku pun tidak pernah ada kesempatan untuk bertemu dengan kamu. Wajah dan penampilan kamu sekarang sudah berubah drastis, aku benar – benar tidak mengenali kamu. Terima kasih Tuhan…! Kau hadirkan aku disini.”

Lalu Satrio mengajak Annisa masuk ke kamarnya. Untuk beristirahat terlebih dahulu.

“ Silakan istirahat Annisa…aku kebelakang dulu, bikin air hangat untuk kamu. Maaf, aku tidak bisa mempertemukan kamu dengan mama sekarang, karena mama sedang tidur.”

Satrio pamit meninggalkan Annisa sendirian di dalam kamarnya. Annisa duduk di kasur yang berukuran 120 x 100 cm, dengan terbalut sprei berwarna biru muda. Annisa mulai menjelajah isi kamar itu. Di dinding kamar yang berukuran 4 x 3 meter itu, banyak dihiasi foto – foto Satrio kecil, remaja dan dewasa. Ada juga foto seorang wanita cantik yang berdiri di sebelah Satrio. Annisa menjadi penasaran. Di raihnya pigura itu. Ditatapnya foto itu sangat lama. Annisa tidak mengenali wajah wanita cantik di foto itu, yang berambut panjang. Tiba – tiba saja mata Annisa seperti tersedot oleh putaran ombak yang kencang, teramat kencang dan Annisa terhempas tanpa ampun di sebuah rumah yang sangat mewah !.

Sebuah rumah mewah dimana pertama kali Annisa melihat Satrio. Annisa sekarang sudah berada di dalam pekarangan rumah itu. Dengan mengendap – endap Annisa memasuki rumah mewah yang bergaya klasik itu dengan warna cat coklat keemasan. Disebelah kanannya terdapat garasi mobil yang cukup luas, di sebelah kirinya terdapat taman indah yang sangat menyejukkan mata Annisa dengan aneka macam tanaman hias, yang boleh dikatakan sangat tidak murah harganya. Annisa mulai memasuki teras rumah itu, lalu dengan memberanikan diri Annisa memberi salam dan mengetuk pintu rumah, yang mirip sekali dengan pintu gerbang istana. Tak ada sahutan dari dalam rumah itu. Annisa menarik handel pintu, dan mendorongnya dengan mudah. Ternyata, rumah itu tak terkunci. Annisa melangkahkan kaki ke dalam ruangan perlahan. Begitu mewahnya seluruh isi furniture di dalam rumah itu. Hampir mirip dengan rumah – rumah yang ada di dunia sinetron Indonesia. Nyaris sempurna !.

Tiba – tiba dari dalam sebuah kamar terdengar sebuah suara ribut – ribut yang bukan saja di ramaikan oleh 2 orang, tapi lebih. Untuk menuntaskan rasa penasarannya, Annisa segera beranjak ke arah kamar itu. Setibanya disana. Annisa melihat Satrio berdiri dengan berkacak pinggang dan dengan wajah yang dipenuhi angkara murka ke arah wanita cantik yang dilihat Annisa di foto dikamar Satrio tadi.

Wanita cantik itu menangis tersedu – sedu, mendengar amarah dari mulut Satrio. Sedangkan ada seorang laki – laki di dalam kamar itu, yang ketampanannya tidak melebihi Satrio berdiri memegangi tubuh wanita cantik itu. Laki – laki itu memeluk tubuh wanita cantik itu. Annisa hanya terperanjat melihat kejadian itu, Wanita cantik itu hanya memakai pakaian dalam seadanya saja. Dan laki – laki yang berdiri disebelah wanita itu pun hanya memakai pakaian dalam lelaki saja, yah seadanya pula. Sangat memalukan !!. Annisa tetap berdiri mematung di depan pintu kamar itu. Tiada satupun manusia di dalam kamar itu yang melihat keberadaan Annisa di tengah – tengah mereka.

“ Aku ceraikan kamu, hari ini juga…Vivie ! dan kamu, bawa isteriku pergi dari rumah ini segera ! sebelum aku berubah pikiran untuk menghabiskan nyawa kalian berdua !!”

“ Maafkan aku Mas Satrio…, “ wanita cantik itu memohon di kaki Satrio.

“ Tak ada lagi. Habis sudah kesabaranku. Segera pergi dari rumah ini !” Satrio mengusir mereka berdua dari rumah itu.

Kepala Annisa menjadi pusing melihat kejadian itu, lalu diusapnya keringat yang menetes di keningnya. Ternyata, kepalanya semakin pusing dan pusing. Annisa jatuh ambruk, lalu tak sadarkan diri. Dibukanya perlahan matanya, Annisa terbelalak. Didepan Annisa sudah berdiri seorang perempuan setengah tua sedang menampar Satrio dan meludahi wajah Satrio. Ingin rasanya Annisa menampar balik perempuan yang setengah rambutnya sudah dipenuhi uban itu.

“ Tak ada lagi hak kamu di sini ! rumah ini sudah menjadi milik putriku. Begitu pula dengan mobil milik kamu. Kamu boleh pergi dari rumah ini sesuka hati kamu!” perempuan setengah tua itu berteriak kencang.

“ Putri ibu telah mengkhianati saya, berpacaran kembali dengan mantan pacarnya. Dia merayu saya dahulu untuk menikahi dia, tapi sekarang semua harta saya mau dia kuasai juga. Putri ibu adalah perempuan yang serakah, sangat tamak dan tidak memiliki hati.” Satrio tak mampu lagi menahan amarahnya yang menggelegak.

“ Terserah kamu mau bicara apa. Aku tak peduli. Salah kamu menceraikan anak saya!”

“ Itu lebih baik bu..dari pada saya dikhianati tanpa berujung, perih yang putri ibu buat telah membuat luka yang sangat menganga disini bu..di hati saya. Tak ada yang bisa saya ucapkan malam ini, selain semoga ibu dan putri ibu, suatu hari akan merasakan luka batin saya. Sepanjang hidup saya. Tak ada satupun makhluk yang bisa lolos dari pengawasan Tuhan dan pengadilan Tuhan bu…,”

Perempuan setengah tua itu tiba – tiba meludahi wajah Satrio. Dan keluar dari dalam rumah seorang wanita cantik yang bernama Vivie itu. Ikut juga memaki Satrio.

“ Kenapa masih disini…?” wanita cantik itu melototkan matanya.

“ Ini rumahku, kubeli dari tabunganku sendiri semasa aku kuliah, seharusnya kamu malu karena menguasai hartaku bersama orang tua kamu. Kamu telah menghianati aku. Tidak sadarkah kamu…? Kamulah yang seharusnya pergi dari rumah ini ! kenapa kembali lagi ke rumah aku ?”

“ Hei..lupakah kamu, kamu telah memiliki anak di janinku yang berusia 3 bulan ? jadi rumah ini adalah untuk anakmu juga nantinya.”

“ Masih dengan mudahnya kamu berkata itu anak aku ? kamu berhubungan dengan kekasih kamu juga dengan aku. Sampai kita menikah kamu masih saja berhubungan dengan dia. Apa masih mungkin anak itu adalah anak aku ?”

“ Sudahlah..pergi sana, malas aku ribut dengan kamu !” Vivie mengusir Satrio dengan mudahnya dari rumah Satrio sendiri.

**********

Annisa seperti terbangun dari mimpi. Tiba – tiba saja, Annisa sudah berada di dalam kamar Satrio lagi. Satrio memanggil nama Annisa dari luar kamar. Ternyata Satrio sudah berada di depan teras rumah. Dengan memeluk gitar di dadanya yang atletis. Dipetiknya tali – tali gitar dengan penuh kelembutan, dilantunkannya sebuah lagu yang terdengar sangat menyayat hati. Annisa duduk berhadapan di depan Satrio. Memperhatikan wajah Satrio yang murung, selepas keributan di rumah mewah itu. Sedangkan gemericik air hujan di luar menambah syahdu suasana hati Satrio, menambah daftar luka di hatinya. Annisa turut merasakannya. Satrio memang tidak menceritakannya pada Annisa, namun perjalanan waktu ini yang membawa Annisa ke dalam setiap sudut masalah Satrio. Apa yang bisa Annisa lakukan untuk Satrio, sahabat semasa kecilnya ini ? lompatan waktu ini tidak boleh berakhir begitu saja tanpa usaha Annisa. Dulu Satrio selalu bisa berbagi dengan Annisa di masa kecilnya, kenapa sekarang Annisa tidak bisa melakukan hal yang sama untuk Satrio ?.

“ Jangan terus bersedih hati Satrio…lepaskan beban itu dari hatimu, biarkanlah coretan diary hatimu berakhir di sini. Tiada lagi kasih sayang yang patut kamu pertahankan, untuk kamu perjuangkan, biarkan cintamu pada dia, terkubur dalam di hari ini. Kamu bisa mendapatkan cinta yang lebih baik dari dia, suatu hari nanti…asalkan kamu yakin dan terus berusaha untuk mencari cinta sejati kamu, Satrio.” Annisa mengusap lembut bahu Satrio yang masih saja terus bernyanyi.

Satrio menitikkan air mata. Annisa menghapusnya dengan tangan Annisa.

“ Aku butuh seseorang untuk melepaskan sesakku di sini, melepaskan lukaku yang teramat dalam, Annisa…aku tidak sanggup melangkah di hari depan, Annisa…, aku teramat rapuh, aku tak tahu harus bagaimana tanpa dia…aku telah dikhianati dia, Annisa…”

“ Aku mengerti, Satrio..., Tapi, kamu harus bangkit dan berjalan ke depan Satrio, berani membuat keputusan terbaik untuk hidup kamu, masih ada cahaya terang di lembar kehidupanmu yang baru, aku yakin…kamu bahagia nanti. Ciptakanlah terus gambaran kebahagiaan itu dipikiranmu, karena bila kamu terus merasa ketakutan, pesimis dan menganggap semuanya akan tidak bahagia tanpa dia. Maka pikiran negatif itu pula yang akan membentuk hidup kamu, hidupmu akan penuh dengan kesedihan, ketakutan dan rasa putus asa. Ingatlah, Satrio…Tuhan tidak kan pernah menguji kesabaran umatnya melebihi batas kesanggupan umatnya.”

Satrio memandang wajah Annisa sangat dalam dan menggengam erat tangan Annisa. Annisa membalas pegangan tangan Satrio dengan tangan Annisa. Digenggamnya erat tangan Satrio dengan perasaan kasih sayang. Memberikan spirit yang paling terdalam untuk Satrio. Lalu Annisa mencium pipi Satrio. Membisikinya sesuatu yang indah…” aku selalu disamping kamu, Satrio. percayalah….!”

**********

Satrio tidak tahu harus berbuat apa lagi agar gadis manis di hadapannya itu membuka matanya. Dari acara makan malam dengan rekan – rekan kerja yang sedang mengikuti training staf ahli, Annisa telah pingsan di atas meja makan, sebelum sempat menyantap lezatnya hidangan yang tersaji. Satrio menjadi panik, lalu membawa Annisa ke kamar Annisa ditemani beberapa rekan wanita yang lain dari peserta training. Namun, setelah menanti selama 2 jam lamanya di kamar Annisa, Satrio menjadi bingung. Walaupun sebelumnya seorang dokter rekan Satrio sudah memeriksa keadaan Annisa, dan menyatakan bahwa Annisa tidak apa – apa. Hanya sedang tertidur pulas katanya. Tapi, tetap saja membuat Satrio bingung. Karena gadis manis yang baru pertama kali dilihatnya di pesawat dan telah membuat hatinya menjadi terpikat, pingsan seketika saat bertemu Satrio di meja makan.

“ Satrio…aku ada dimana..?” Annisa membuka kedua matanya yang selama 2 jam terpejam.

“ Owh…syukurlah Annisa…kamu telah sadar, Terima kash Ya Tuhan….!” Satrio menepuk pipi Annisa lembut.

“ Satrio…peluk aku…aku kangen sama kamu, sahabat masa kecilku.” Annisa segera bangun dari tidurnya, lalu merangkul Satrio. Satrio hanya diam saja. Lalu perlahan tangannya mendekap tubuh Annisa juga.

“ Sahabat masa kecilmu…Annisa ? memangnya siapa nama kecilmu ?” Satrio melepaskan pelukan Annisa, memegang kedua bahu Annisa. Terperanjat dengan kata – kata Annisa barusan. Menatap mata Annisa mengharapsebuah jawaban.

“ Nama lengkapku…Annisa Larasati, nama kecilku Nisa atau cah ayu, begitulah kamu memanggil aku.” Annisa menyahut santai. Ada rasa bahagia tak terhingga di hati Annisa melihat keterkejutan Satrio malam ini dikamarnya.

“ Ya Tuhan…! Kamu cah ayu…? sahabat SD ku, Annisa…?” Satrio memeluk Annisa kegirangan. Annisa menganggukkan kepala. Tak disangka Annisa, Satrio mencium kedua pipi Annisa, kiri dan kanan, lalu berlanjut ke kedua mata Annisa, dan berakhir di kening Annisa.

“ Aku telah mencarimu selama bertahun – tahun, Annisa. Bahkan setelah proses perceraian ku dengan isteri ku 3 tahun lalu, aku masih juga tetap mencari keberadaanmu, cah ayu…! aku rindu sama kamu, rindu setengah mati….cah ayuku…!” Satrio tertawa bahagia memeluk tubuh Annisa erat. Annisa hanya tersenyum bahagia.

“ Aku benar – benar tidak mengenali kamu di pesawat, karena dulu tubuh kamu waktu di bangku SD gendut dan rambutmu pendek, sekarang kamu menjelma menjadi wanita yang cantik dan masih tetap ramah seperti dulu, Annisa, tapi…ngomong – ngomong kenapa ketika kamu bangun dari pingsan kamu, kamu bisa bilang kangen sama aku, sahabat masa kecilmu ? aneh!” Satrio menatap mata Annisa. Memegangi kedua pipi Annisa.

“ Panjang ceritanya….Satrio…! nanti saja ku ceritakan yach…sekarang ku mau mandi dulu..kamu boleh tunggu diluar, dan aku mau menyantap hidangan yang tadi belum aku selesaikan di meja makan.”

“ Hahhaha…sudah tutup acara makan malamnya, Annisa sayang…! aku traktir kamu aja yach malam ini di luar…kamu khan yang lebih paham restoran mana yang paling yummy disini. Bagaimana, Annisa…?” Satrio mencubit pipi Annisa.

“ Nah gitu dong…oke Satrio ! aku setuju banget. hahhaha….”

Satrio meninggalkan kamar Annisa dengan rasa bahagia. Tuhan telah mempertemukan ia dengan gadis manis yang selama bertahun – tahun dicarinya. Semoga ini adalah awal kebahagiaan hidupnya kelak,
Terima kasih Tuhan…! Puji syukur di hati Satrio.



Tangerang, 25 Maret 2010

Senin, 15 Maret 2010

Salam Buat Aku


Entah masih bolehkah aku, tersenyum...
Menyaksikan sobat yang memperhatikan wajah dan pesonaku beberapa hari ini,
ada decak kagum menurutmu untuk aku...
tlah jatuh cinta padaku, mungkin.


Terima kasih banyak, itu adalah hadiah terindahku untukmu, sobat.
2 kali sehari, kau titipkan salam untuk aku,
padahal kita bernaung dalam 1 area.


Saat pagi kita bertemu,
matamu tersenyum padaku,
namun bibirmu kelu membungkam.
Bahasa tubuhmu pun...canggung, aneh.
Hahaha...lucunya engkau, sobat.


Saat tak kau lihat aku,
kau titipkan pesan dan salam buat aku,
pada sobatku yg lain.


Kau tetap sobatku, sampai dunia ini berakhir.
Terima kasih tlah membuat aku tersenyum karena melihat kelucuanmu itu.


Tangerang, 12 Maret 2010
" Buat sobatku, yang slalu kirim salam tanpa lelah "

LUKA DI SINI....

 
“ Satrio…! Bagaimana..? sudah siap semuanya ? atau masih perlu waktu lagi ?” Abiv membuyarkan lamunan Satrio, yang masih termangu di dalam mobil. Duduk di belakang kemudi, dengan pandangan yang kosong, menatap lirih ke bangunan Gedung Pengadilan Agama di samping kirinya.

“ Terlalu sakit cambuk ini, Biv…aku tak sanggup sepertinya berjalan ke sana, aku tak sanggup Biv..tak sanggup!” Satrio menutup kedua matanya dengan terus menggeleng – gelengkan kepalanya.

“ Aku akan tunggu sampai kamu siap melangkah kesana, atau aku akan antar kamu kembali ke rumah, Satrio. Bukan aku yang membuat pilihan untukmu, tapi kamulah yang harus membuat pilihan terbaik untuk hidupmu. Jangan takut menatap masa depanmu, Satrio. Semua sudah di atur oleh Yang Maha Kuasa. Kamu tinggal menjalaninya saja. Tidak lebih, Satrio....,” Abiv memahami perasaan Satrio, yang sedang berkecamuk tak menentu. Bimbang dan tak ada lagi kepercayaan diri.

Satrio sedang mengalami kehancuran hati, hidup dan dunianya. Sedangkan Abiv berusaha untuk mengumpulkan kepingan – kepingan keruntuhan itu. Teman seperjuangan yang dikenalnya selalu baik – baik saja, kini terpuruk dalam jurang kehampaan. Jurang yang telah membuat Satrio terperosok, dengan luka batin di sana sini.

Abiv selama ini yang selalu mendengarkan jeritan hati Satrio. Pria yang dikenalnya selama bertahun – tahun sejak bangku Sekolah Dasar hingga mereka berdua dipertemukan kembali dalam ikatan kekeluargaan. Hanya Abiv jua yang mendukung semua keinginannya untuk mengakhiri penderitaannya.

Terlalu jauh sudah Satrio mengembara dalam perih yang tak berujung, perih kesakitan demi mempertahankan rasa cinta yang tak semestinya. Rasa cinta yang dipaksakan hadir dengan wujud kesempurnaan. Dibutakan oleh cinta, Begitulah Abiv selalu berujar berulang kali. Sayangnya, Satrio terlalu tuli untuk menerima semua pesan positif yang diberikan Abiv setiap saat Satrio membagi luka hatinya.

“ Satrio…waktu kamu tinggal 5 menit lagi. Putuskan sekarang atau kamu terombang - ambing dalam kerumitan masalahmu ini. Ayolah…hentikan deritamu ! tunjukkan kamu laki - laki terbaik walaupun luka itu masih menganga. Aku yakin kamu bisa melewati ini tanpa dia. Kamu bisa Satrio !”

Satrio menarik nafas dalam – dalam, lalu membuangnya perlahan. Ada setitik kelegaan tergurat di wajahnya yang berawan gelap. Beban yang dipaksa dipikulnya kini mulai berangsur menyusut. Atau hanya untuk menyenangkan hati Abiv saja ? sahabat yang sekaligus menjadi adik iparnya itu. Tak ada yang tahu, Satrio dan Tuhanlah yang menjawabnya.

Satrio pun memasuki Gedung yang terlihat begitu menyeramkan dalam sejarah hidupnya dengan langkah gontai. Abiv menggandeng Satrio dengan hati mantap memasuki ruangan sidang yang telah di hadiri oleh beberapa keluarga Satrio dan keluarga Vivie, isteri Satrio.

Beberapa pasang mata memandang Satrio dan Abiv dengan tatapan sinis. Abiv tak mempedulikan, begitu pula Satrio. Hidup ini harus terus melaju, tentunya dengan keseimbangan. Bukan lagi ketimpangan. Apalagi ada pihak yang dirugikan, karena sebuah pernikahan semu yang telah diciptakan seseorang hanya untuk permainan belaka. Permainan hati sekaligus materi. Sungguh keterlaluan..!!

**********

“ Satrio…, nama saya.” Satrio mengulurkan tangan terlebih dahulu pada gadis manis di sebelahnya. Perjalanan dinas kali ini terasa singkat dan mengesankan.

Bagaimana tidak ? gadis manis berambut panjang sebahu ini, bercerita terus tentang pekerjaan dan hidupnya sejak duduk di kursi pesawat rute Yogyakarta – Jakarta.

Satrio yang pendiam dan pemalu, hanya tersenyum - senyum bahagia karena memiliki teman perjalanan udara yang menyenangkan hati. Begitu banyak yang dibicarakan gadis manis itu, hingga sampailah gadis manis itu menanyakan sesuatu hal yang membuat wajah Satrio merah padam. Bisu seketika.

“ Maaf…bila pertanyaan saya telah membuat kamu terganggu. Saya minta maaf…,”

Gadis manis itu mengulurkan tangannya. Satrio menyambutnya penuh keramahan.

“ Tidak apa – apa, Annisa…, saya benar – benar tidak terganggu. Oh..yach, kalau boleh saya tahu, kamu bermalam di mana…?”

“ Leganya hati ini...! Saya menginap di Jalan M.H Thamrin, Satrio. Kenapa memangnya…?” Annisa penasaran.

“ Lho..koq menginap di hotel ? tidak pulang ke rumah kah ?”

“ Agenda kerja saya padat, Satrio. Training kerja ini dibikin padat, tak ada waktu untuk bermalam di rumah, yang jarak tempuhnya sekitar 2 jam sampai ke rumah.” Annisa menyahut ramah pula. Satrio hanya mengangguk. Sambil melemparkan senyumnya pada Annisa. Ingin rasanya Satrio memperlambat jalannya pesawat ini untuk mendarat di Airport Soekarno Hatta. Agar perbincangan ini tak berakhir dengan cepat.

“ Tak ada waktu luangnya, Annisa ?” Satrio mengejar dengan pertanyaan yang membuat Annisa terperanjat. Annisa sudah bisa memahami arah pembicaraan Satrio.

“ Ada, memangnya kenapa Satrio ?” Annisa balik bertanya.

“ Jam berapa ? Maaf lho…itu pun kalo kamu mau memberitahu saya. Bila tidak bisa, yach nasib saya dech, Annisa. Hehhehe…,” Satrio tertawa. Malu rasanya bila Annisa benar – benar tidak memberitahunya. Tapi, kapan lagi bisa menemukan pengganti pendamping hidupnya kalau setiap ada kesempatan berharga, dilewatkan Satrio begitu saja. Huftt…Satrio memejamkan mata sekian detik, sedang berdoa rupanya. Entah apa itu.

“ Hey…lagi ngapain kamu ? pasti takut yach mau landing ? masih 10 menit lagi koq. Hehhehe….,” Annisa tertawa kecil melihat tingkah Satrio.

“ Lagi berdoa Annisa, agar kamu memberi info waktu kosong kamu malam ini.” Jawab Satrio spontan.

Annisa tertawa kembali. Lama – lama lucu juga nih cowok misterius. Tadi cuma diam dan jadi pendengar saja, sekarang malah membuat Annisa sakit perut, karena tingkah lucunya. Sedang Satrio tetap memejamkan matanya.

“ Siap – siap, Satrio…mau landing nih.” Annisa mengejutkan Satrio, yang masih berdoa. Hanya untuk mengharap Annisa memberikan jawaban pertanyaannya barusan. Ternyata, doa Satrio belum terkabul. Tak apa – apa, masih ada waktu untuk mendekati Annisa. Pikir Satrio.

Pesawat pun mendarat dengan mulusnya di Airport Internasional ini pukul 1 siang. Annisa dan Satrio segera berkemas – kemas, dan mengucapkan salam perpisahan dengan hangat setelah turun dari pesawat. Mereka berpisah. Satrio menuju ke Cikini. Sedangkan Annisa menuju ke Jalan M.H Thamrin. Satrio pun menginap di hotel, untuk melakukan pertemuan dengan relasi bisnis perusahaannya sore ini.

**********

“ Iyya Mas…makasih banget info nya, salam sama Mbak Maya yach dan anak – anakmu.” terdengar Annisa mengakhiri perbincangan telepon dari seorang laki – laki.

Annisa membaringkan tubuhnya di atas matras tempat tidur hotel yang empuk. Pikirannya melayang pada laki – laki yang baru saja menghubunginya. Mau kasih hadiah apa yach buat ulang tahun pernikahan teman baiknya itu, 1 minggu lagi ?. Bingung. Segalanya telah laki – laki itu miliki. Lalu apa hadiah yang pantas untuk dia ?. Sudahlah, nanti saja dipikirkan. Hanya akan menguras waktu. Ujar Annisa.

Annisa segera menyudahi kebingungan pikirannya. Dipilihnya beberapa helai kemeja dan blazer untuk persiapan acara Training Staff Ahli dari Kantor Pusat Perusahaan telepon seluler terkemuka di Indonesia, yang akan berlangsung 30 menit ke depan. Tampil rapi dan modis, mungkin perlu diperhitungkan buat Annisa. Kali aja selesai acara training kerja nanti, bisa menemukan seseorang yang selama ini dicarinya.

**********

Peserta training yang berjumlah kurang lebih 50 orang telah memadati ruangan pertemuan di Hotel berbintang ini. Peserta training yang berasal dari luar daerah Jakarta, mengirimkan 2 sampai 3 orang utusannya. Sedangkan Annisa hanya sendirian diutus dari kantornya untuk menghadiri acara ini. Kedua orang temannya tidak bisa ikut dalam momen berharga ini, karena harus dikirim ke daerah lain untuk perampungan masalah perusahaan menyangkut pelayanan dan jaringan. Meskipun sendirian tak mematahkan semangat Annisa untuk tetap mengikuti acara yang sangat penting untuk hidupnya ini. Setelah berhasil mengikuti training kerja selama 2 hari ini. Annisa berharap akan menambah wawasan dan skillnya kelak. Hingga dia bisa ikut dalam promosi jabatan ke jenjang yang lebih tinggi dalam Struktur Perusahaannya.

Acara telah berlangsung 3 jam, dan ditutup dengan acara door prize. Tentu saja semua peserta senang hatinya. Karena bisa membawa pulang hadiah – hadiah menarik, ponsel, ipod, sampai notebook keluaran tahun terkini. Dan beberapa souvenir eksklusif dari beberapa sponsor.

Selesai acara, para peserta dari Jakarta dan daerah saling berkenalan. Banyak yang bertukar nomer ponsel dan alamat email. Tak ada yang terlewatkan begitu saja di acara keakraban peserta training kali ini. Mereka bahagia banget bisa saling berjabatan tangan dengan peserta lain dan membicarakan banyak hal, yang bukan melulu pekerjaan dan karier mereka. Begitu pula dengan Annisa, tak mau melepaskan kesempatan emas ini.

“ Lho…koq kamu disini, Satrio…?” mata Annisa dikejutkan oleh kehadiran Satrio yang sudah berdiri di depannya.

“ Hahahha…kaget yach..? aku peserta training dari Magelang, Nisa…,” Satrio kembali mengulurkan tangannya pada Annisa.

“ Bukannya kamu kerja di perusahaan farmasi ? dan tujuan ke Cikini ? hahhaaha…aku tertipu nih sama kamu, Satrio.” Annisa melangkah ke meja hidangan, mengambil gelas berisi minuman ringan. Diteguknya perlahan untuk menghilangkan rasa gugup dan keterkejutannya melihat Satrio. Pria misterius.

“ Ayoo Nisa…kita makan malam. Entar kehabisan, kebetulan aku udah lapar nih…,”
Satrio mengajak Annisa bergabung bersama rekan yang lain, untuk makan malam bersama.
Annisa mengikuti langkah Satrio. Ada yang aneh dengan Annisa, kenapa harus ikut dengan Satrio yach ? bukannya peserta lain juga banyak yang bisa di ajak bicara saat makan malam kali ini.

“ Kenapa Annisa ? ada yang janggal dengan aku ?” Satrio memberikan kursi makan pada Annisa, agar diduduki Annisa. Annisa terdiam. Tapi…., kenapa Annisa tidak juga duduk di kursi yang disodorkan Satrio ? malah terpaku berdiri di samping kursi makan, sedang peserta yang lain sudah mulai menyantap hidangan malam yang sangat istimewa itu.

“ Annisa…ada apa ? kenapa mata kamu tidak lepas menatap aku ?” Satrio melambai - lambaikan tangan kanannya pada wajah Annisa. Annisa terperanjat seketika. Lalu duduk di kursi dengan posisi tetap seperti patung. Tegak dan mata tetap menatap Satrio.
Satrio bingung melihat sikap Annisa yang seperti terhipnotis. Perubahan yang aneh, baru saja ceria lalu diam seperti raga tak bernyawa.

Annisa bangun dan berjalan menuju meja hidangan, memilih beberapa lauk, dan buah untuk disantapnya malam ini. Sedang Satrio mengikuti di belakang Annisa.

“ Enak yach…menu makan malamnya, Nis…,” Satrio membuka percakapan di meja makan.

Annisa mengangguk tanpa menatap mata Satrio.

“ Benar – benar enak khan Nisa ? hmm…pas banget dech di lidahku.”

Annisa tidak menyahut, tapi kali ini matanya segera diarahkan ke mata Satrio. Tidak dilawannya seperti tadi. Annisa diam tak bersuara. Satrio benar – benar aneh dengan sikap Annisa barusan. Sendok dan garpu yang dipegang Satrio tiba – tiba terlepas, saat melihat Annisa menitikkan air mata. Dan bibir Annisa seakan hendak mengutarakan sesuatu pada Satrio.

“ Annisa…kenapa ? matamu...menangis ? ada apa Annisa ? ada yang bisa aku bantu Annisa ?” Satrio panik dan menggenggam kedua tangan Annisa. Dan Annisa merasakan tubuhnya berguncang. Tatapan matanya tidak dilepaskan pada Satrio. Lalu Annisa merasa terlempar jauh…jauh dan sangat jauh. Di sebuah tempat yang belum dikenalnya. Entah dimana.

Sayup –sayup terdengar teriakan perempuan muda yang tidak dikenalnya, dari dalam sebuah rumah. Telah terjadi pertengkaran hebat rupanya dari dalam rumah yang berdiri begitu megahnya untuk ukuran rumah di kota kecil seperti ini. Bahkan bisa dibilang sebuah kampung. Entah kampung apa namanya.

Annisa memberanikan diri berdiri di depan rumah megah itu, untuk memastikan bahwa yang didengarnya bukanlah kesalahan telinganya. Lalu tiba – tiba seorang laki – laki muda yang tampan keluar dari dalam rumah itu. Perempuan muda yang tadi berteriak kencang pun ikut keluar dari dalam rumah dan mengeluarkan perkataan kasar yang tidak seharusnya di lontarkan. Lalu menyusul kemudian, seorang perempuan setengah tua ikut mencaci maki lelaki tampan itu. Dan meludahi wajah lelaki muda yang tampan itu dengan seenak hatinya. Tanpa perasaan bersalah.

Hiyy…Annisa bergidik. Gerangan apa yang telah diperbuat lelaki muda itu, hingga 2 orang perempuan itu begitu sangat kasar perlakuannya. Lalu kenapa lelaki muda itu hanya diam saja ?.

Dengan hanya memakai celana pendek dan kaos berlengan pendek, sangat pas dengan tubuhnya yang atletis. Lelaki muda itu segera menghambur keluar dari teras rumah.

Wajah lelaki itu sangat dikenalnya betul. Wajahnya kusut. Ada garis – garis kemarahan tersembul di wajahnya yang tampan itu. Entah apa yang telah diperbuat wanita muda di dalam sana yang telah membuat wajah lelaki itu begitu kusut dan marah.

“ Ayyoo..pergi dari sini, sebelum dia mengetahui kamu ada di sini.” Lelaki itu menarik lengan Annisa. Annisa tidak mau pergi. Lelaki itu tetap menyeretnya pergi dari tempat itu.

“ Kita mau kemana…? aku tidak kenal tempat ini.”

“ Ikut aku saja.”

“ Kemana…? aku benar – benar tidak tahu daerah ini. Aku takut. Aku tidak tahu sekarang aku berada dimana.” Annisa tidak mau melangkahkan kakinya.

“ Ayolah..sebelum gelap datang. Kita harus berjalan kaki sepanjang 25 kilometer menuju rumah ibuku.” Lelaki muda itu tetap memaksa.

“ Kenapa harus berjalan kaki ? aku tidak mau, kita bisa naik angkot atau bis.”

“ Ini bukan kota besar. Tak ada angkutan umum itu disini. Ini cuma desa. Ayolah..menyingkir dari sini.” Lelaki itu sudah tidak sabar sekarang, ia menyeret Annisa pergi dari tempat itu. Yang anehnya, kedua perempuan di seberang sana hanya memperhatikan lelaki muda itu. Nampaknya, tidak menyadari kehadiran Annisa di tempat itu.

“ Aku bisa lelah berjalan kaki sepanjang itu. Aku tidak mau.”

“ Terserah..kalau pengen di jahati orang malam – malam di sini.”

“ Kenapa aku harus ikut denganmu ? antarkan aku pulang saja ke rumahku.”

“ Heyy..apa – apaan ini, kamu datang sendiri ke tempat ini. Yach..pulanglah sendiri. Aku tak peduli dengan kamu, sudah terlalu banyak urusan hidupku.” Lelaki itu tetap berceloteh dan membuat Annisa harus ikut dengan lelaki itu menuju rumah ibu lelaki muda itu. Sedang Annisa sendiri tidak tahu jalan menuju pulang ke rumahnya. Annisa telah tersesat di kampung orang. Menyedihkan !.


*** B. E. R. S. A.M. B. U. N. G ***


Tangerang, 15 Maret 2010

" Friend...dont be sad all the time, wake up and see your future awaits !! "

Fans